Strategi Final

In Sosial Budaya

 

Kenapa pada debat putaran ke-empat kemarin (30/3) Prabowo nampak temperamen dan marah-marah? Apa pemicunya?

Sebenarnya agak malas menulis, mengingat kaki masih cenat-cenut perihal kecelakaan yang saya alami beberapa hari yang lalu. Demi permintaan teman, saya coba ulas ditengah kondisi yang agak kurang kondusif ini.

Sebenarnya survei litbang Kompas mempunyai pesan yang tersirat. Sasus beredar, Kompas selama ini jadi target kekesalan Prabowo. Ingat saat demo 212 tempo hari, Kompas jugalah sebagai pioneer media mainstream yang tidak meliput aksi para kampret tersebut.

Meradanglah Prabowo kepada Kompas. Nah untuk meredam kemarahan ini, Kompas coba pasang strategi dengan survei yang diadakan oleh litbangnya. Biar Om Wowo nggak marah-marah amat sama Kompas, yah terpaksa dikeluarin hasil survei yang sedikit memberi harapan kepada paslon 02 tersebut.

Angka 49,2% berbanding 37,4% jelas memberikan angin surga kepada kampret. Seolah-olah ada harapan mengejar ketertinggalan. Seolah-olah ada kemungkinan paslon 02 membuat manuver dahsyat ditikungan terakhir. Seolah-olah kemenangan sudah didepan mata.

Padahal, semua itu hanya obat pelipur lara. “Mana mungkin dalam waktu 1 bulan bisa ngejar ketertinggalan suara 11,8%. Itu setara dengan belasan juta suara,” demikian ucap seorang narsum. Aliasnya, mau ngebut pake roket sekalipun, tetap aja paslon 02 bakal nyungsep diakhir cerita.

Maka, untuk merealisasi hasil survei tersebut, dibuatlah sejumlah rencana aksi. Seperti apa aksinya? Ternyata nggak jauh beda dengan skenario pilkada DKI.

Terhitung Maret minggu ke-2, dibuatlah agenda doa bersama, tiap Selasa malam ditiap mesjid yang ada. Kenapa Selasa malam? Karena pilpresnya kan hari Rabu. Jadi pra-kondisinya yah malam Rabu. Kalo malam Jumat, bisa-bisa Suzanna yang muncul sambil cekikikan..

Majlis-majlis taklim juga digarap semakin intens. Tujuannya tak lain adalah kampanye terselubung berbalut agama khas kampret. Gak percaya? Coba lihat banyaknya baliho yang terpampang sepanjang lampu-lampu merah. Emejing…

Setelah konsolidasi jalur darat dibuat satu bulan secara intensif, maka langkah terakhir adalah shalat Subuh berjamaah dengan sedikit siraman khotbah, “Jangan lupa pilih paslon yang didukung ijtima ulama.”

Dan terakhir, sebelum mencoblos dengan dress code serba putih, dapur umum pun telah disiapkan disekitar arena pencoblosan. Apa ini gratis? So pasti.. Apa ini nggak ada embel-embelnya? Yang bokir aja…

Semua harus serba putih. Yang tidak putih maka akan gampang dikenali sebagai bukan pendukung paslon 02. Dan ujung-ujungnya, intimidasi-pun minimal secara verbal, bakal terjadi.

Tak cukup sampai disini, maka perhitungan suarapun akan dikawal ketat. Nggak boleh ada kecurangan. Kalo hasilnya memenangkan paslon 02, maka akan ada tepuk tangan meriah. Sebalikya, jika hasilnya memenangkan paslon 01, maka sorakan mencemooh akan membahana.

Ini sebenarnya adalah teror psikologis yang harus diantisipasi. Kalo tidak, maka aroma kekalahan sudah ada didepan mata paslon JOMIN. Harus ada aksi antisipasinya. Sebagai solusinya, Jokowi mengeluarkan himbauan untuk memutihkan TPS dihari pencoblosan.

“Gunakan hak pilih kita pada tanggal 17 April 2019. Jangan lupa pilih yang bajunya putih. Karena putih adalah kita. Kita semua ke TPS berbondong-bondong berbaju putih,” demikian seruan Pakde kepada para konstituennya lewat secarik kertas.

Singkat kata, kampret-pun meradang. Karena skenario mereka-pun jadi berantakan. Kebayang donk, saat hari pencoblosan, dimana semua pemilih berbaju putih. Apa bisa teror psikologis dijalankan?

“Jokowi sudah melanggar UU Pemilu,” teriak mereka. Ada lagi yang berujar, “Jokowi miskin ide bisanya nyontek aja.” Tak sedikit juga yang berkilah, “Jokowi takut kalah.” Dari semuanya mempunyai satu kesamaan, bernada kecewa dan marah karena skenario-nya jadi belang bentong gak keru-keruan.

Ini jugalah yang konon memicu kemarahan Om Wowo saat debat pilpres yang digelar Sabtu kemarin (30/3). Rumor beredar, beliau marah berat kepada para kampret karena gagal mengeksekusi strategi pamungkas. Saking marahnya, konsentrasi saat debat-pun buyar.

Sampai kemudian keluar pernyataan-pernyataan yang warbiasah faking krezi-nya. Dari mulai “Saya lebih TNI dibanding TNI” sampai “Saya telah belajar ilmu perang ribuan tahun.” Apaan sih maksudnya?

Semua itu dikeluarkan semata-mata karena kesalnya kepada para kampret yang dinilai gagal memenangkan dirinya sebagai presiden.

Akankah upaya para kampret membuahkan hasil?

Seperti sudah banyak ulas, bahwa militansi kubu 01 diuji disini. Karena cebongers biasanya punya ciri khas yang kontra-produktif. Gemar acara selebrasi kanan-kini. Eh saat hari pencoblosan malah nggak datang ke TPS dengan sejuta alasan. Inilah yang bisa menggerus suara paslon JOMIN saat pencoblosan nanti.

“Ada harga yang harus dibayar demi memenangkan kontestasi. Dan disinilah militansi menemukan pembuktiannya.”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu