Bocah-Bocah Chicago

In Sosial Budaya

 

“Bagaimana situasi jelang pilpres nanti, bang?” begitu tanya seseorang.

Jujur menurut analisa saya, pilpres akan berjalan aman. Setidaknya aparat keamanan akan disiagakan penuh, guna menjamin pelaksanaannya. Jangan sampai ada kerusuhan yang berakibat pilpres diulang apalagi sampai mendatangkan pengawas dari luar negeri segala.

Itu bisa dilihat dari persiapan-persiapan yang dilakukan oleh aparat keamanan sekelas Brimob yang kerap melakukan simulasi penanganan pemilu damai. Saya lihat dilapangan, upaya yang dilakukan sudah optimal. Jadi, walaupun sudah ada provokasi dari Sotralia di Nduga, namun untuk menjalar sampai ke Jawa, akan sulit terealisasinya.

Lantas setelah pilpres, apa yang akan terjadi kemudian? Inilah yang harus diantisipasi bersama.

Untuk ini, kita perlu berkaca pada apa yang terjadi di Chile, tepatnya di September 1970-an.

Saat itu, Salvador Allende yang diusung oleh partai Unidad Popular (UP) yang beraliran sosialis, memenangkan pilpres dengan angka yang miris. 36,2% berbanding dengan penantangnya Jorge Alessandri yang meraih angka 34,9%. Cuma satu digit saja.

Mengingat tipisnya kemenangan tersebut, sebenarnya bayang-bayang kudeta paska pilpres sudah ada. Hal ini dimungkinkan karena dua alasan. Pertama banyaknya barisan sakit hati yang tidak mendapatkan ‘kue kekuasaan’. Dan kedua, garis Allende yang sosialis dan pro-wong cilik yang kemudian memicu kemarahan pihak Mamarika.

Dan benar saja, setelah terpilih Allende langsung gaspol melakukan program-program pro-rakyat secara radikal. Apa saja? Macam-macam. Dari mulai menasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, menaikkan upah buruh, pendidikan dan kesehatan gratis bagi rakyat sampai menolak pembayaran hutang luar negerinya.

Semua ini dikemas dalam program yang disebut sebagai Chilean road to socialism.

Apa yang terjadi kemudian? Makin banyak lagi kalangan borjuasi yang menjadi korban kebijakan Allende. Belum lagi pemerintahan Mamarika dibawah kendali Richard Nixon yang memandang Allende sebagai ancaman pada halaman belakang negara tersebut. “Kalo nggak segera di-stop, maka akan sangat membahayakan seluruh kawasan Amerika Latin,” demikian analisanya.

Maka disusunlah rencana kudeta, dengan agenda utama penggulingan rejim Allende. Yang kedua setelah digulingkan siapa yang akan memimpin bangsa Chile lewat kebijakan ekonominya? Inipun harus disiapkan. Nggak lucu dong, saat sudah melancarkan kudeta, terus mau buat apa eh masih meraba-raba?

Singkatnya, ada dua pihak yang terlibat. Pertama militer dan yang kedua akademisi. Pihak militer dibawah komando Augusto Pinochet sedangkan dari kalangan ‘terpelajar’ diwakili oleh genk The Chicago Boys. Siapa mereka? Sekelompok ekonom yang merupakan jebolan school of economics universitas Chicago, Amrik, dibawah bimbingan profesor Milton Friedman dan Arnold Harberger.

Konon katanya, kelompok ini mendapat binaan langsung dari CIA. Teknisnya, saat mendapatkan beasiswa ke negeri Paman Sam, maka mereka sudah dimasukkan doktrin khas Mamarika. Jadi saat mereka kembali ke Chile, doktrin tersebut akan terus terpatri selamanya. Aliasnya kebijakan ekonomi yang mereka akan buat, sudah pasti pro-AS.

Setelah dirasa cukup matang, maka rencana kudeta digelar pada 11 September 1973 dan meraih sukses. Allende berhasil dilenyapkan dan Chile dipimpin oleh junta militer Pinochet. Dan sesuai skenario, kebijakan ekonomi-nya kemudian diambil oleh the Chicago Boys.

Tak butuh waktu lama untuk mengeksekusi kebijakan ekonomi yang sangat condong pada Washington. Misalnya genk Chicago menginsyaratkan Pinochet untuk menjalankan ‘program terapi kejut’. Alih-alih untuk menstabilisasi perekonomian Chile, maka arus demokratisasi harus diberangus dibawah todongan senjata demi sebuah stabilitas.

Kasus Chile bukan tak mungkin terjadi di Indonesia paska piplres nanti. Mengingat proxy war kepentingan Mamarika sudah bergerak sedemikian jauhnya di Indonesia. Mereka sudah mempersiapkan para ekonom dan akademisi lainnya, saat waktunya telah tiba. Tinggal pemicu dari kalangan militer saja.

Pada lain tulisan saya akan mengulasnya.

Satu hal yang terus saya dengungkan berulang-ulang. Jangan sampai kemenangan paslon 01 di pilpres nanti hanya setipis kondom. Karena itu bisa jadi petaka buat Indonesia tercinta. Bergeraklah secara militan. Karena Indonesia terlalu rendah jika harus disandingkan dengan Chile dalam hal sumber daya alamnya.

‘Kue’ inilah yang harus kita jaga bersama, buat masa depan anak cucu kita.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Upaya Pecah Kongsi

“Pada akhir ulasan abang yang lalu, kesuksesan aksi 28 Juni nanti bergantung pada soliditas TNI-POLRI. Apa maksudnya, bang?” tanya

Read More...

Utak Atik Gatuk

Gerakan percobaan penggulingan kekuasaan Jokowi berakhir dengan anti klimaks seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya. Penyebabnya karena kurangnya perencanaan

Read More...

Aksi Anti Klimaks

Aksi Anti Klimaks Sejatinya, aksi 225 diprediksi akan menuai sukses besar saat digelar. Sekilas tampak rapih, tapi sebenarnya yang paham

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu