Semua Dipaksa Membeo


513

Semua Dipaksa Membeo

Oleh: Ndaru Anugerah

Karena ada arahan dari WHO, maka semua negara dipaksa membeo dengan segudang protokol new normal. Buat pihak yang coba melawan arahan tersebut, maka raksasa teknologi alias Big Tech (Google, Facebook, YouTube, plus lembaga fact-checker) langsung ringan tangan kasih status teori konspirasi atau informasi yang salah pada mereka.

Termasuk protokol memakai masker yang diikuti oleh semua pihak berwenang di kolong jagat.

Tentang ini saya sudah sering bahas berulang-ulang kek kaset kusut. (baca disini, disini, disini, disini)

Harusnya clear donk? Nyatanya nggak juga. Mayoritas netizen dengan koplaknya mengklaim protokol WHO tersebut yang paling benar. Bahkan yang nggak sepakat dengan arahan WHO, maka akan dengan gamblang dicap sebagai perusuh atau sampah peradaban.

Saya coba kasih argumen dengan menyajikan beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, agar kita terbiasa dengan iklim demokrasi: sepakat untuk tidak sepakat, asalkan pakai data sebagai penunjangnya.

Di Jepang, (2008) ada penelitian tentang penggunaan masker bedah bagi para nakes untuk mengurangi dampak flu. Penelitian yang dilakukan oleh Joshua L. Jacobs dan kawan-kawan tersebut, kasih kesimpulan bahwa pemakaian masker nggak terbukti dapat membawa manfaat apapun, termasuk gejala masuk angin sekalipun. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19216002/)

Timbul pertanyaan, kalo pakai masker bedah yang sudah buatan pabrik saja tetap nggak bisa mencegah gejala masuk angin sekalipun, gimana dengan si Kopit?

Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Faizal bin-Reza dan rekan (2011) di Inggris Raya, dengan pertanyaan awal: benarkah penggunaan masker dan respirator dapat mencegah penularan influenza? Ini penting dilakukan karenanya adanya ancaman SARS di negara tersebut kala itu.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa tak satupun dari studi menunjukkan adanya hubungan konlusif antara penggunaan masker/respirator dengan perlindungan terhadap influenza. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22188875/)

Penelitian berikutnya dilakukan oleh Tze-Wah Kao dan rekan (2004) di Taiwan, tentang dampak fisiologis pemakaian masker N95 selama hemodialisis sebagai pencegahan terhadap wabah SARS pada pasien ginjal stadium akhir.

Lalu apa hasilnya? Penggunaan masker N95 selama 4 jam selama HD secara signifikan mengurangi tekanan parsial oksigen namun meningkatkan efek samping pernafasan bagi para pasien. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15340662/)

Ada lagi penelitian yang dilakukan oleh Wei Hua dan rekan di China (2020) dilakukan untuk mengetahui reaksi kulit jangka pendek setelah menggunakan masker medis dan respirator N95. Ini perlu dilakukan saat pandemi si Kopit melanda negeri Tirai Bambu tersebut.

Hasilnya? Karakter biofisik kulit berubah akibat pemakaian masker medis ataupun respirator N95. Parahnya lagi, respirator N95 malah lebih banyak memicu reaksi pada kulit daripada masker medis. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32406064/)

Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Lukasz Szarpak dan rekan (2020) untuk mengetahui dampak penggunaan masker kain versus masker medis dalam melindungi diri dari infeksi si Kopit. Ini perlu dilakukan mengingat banyak sekali anjuran yang dilakukan oleh banyak negara untuk memakai masker, termasuk masker kain.

Hasilnya bisa ditebak. Masker kain tidak melindungi sebaik masker medis, karena masker (karena sering digunakan berulang kali) malah memicu retensi kelembaban dan meningkatkan risiko infeksi pernafasan. (https://journals.viamedica.pl/cardiology_journal/article/view/CJ.a2020.0054/50906)

Penelitian yang dilakukan C. Raina MacIntyre dan rekan di Vietnam (2015), mencoba membandingkan efektivitas penggunaan masker kain yang banyak dipakai orang dengan masker medis yang dipakai nakes.

Hasilnya juga kurleb sama dengan penelitian yang dilakukan Lukasz Szarpak, bahwa masker kain memiliki tingkat penetrasi partikel hampir 97%, sedangkan penetrasi partikel pada masker medis sekitar 44%. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa pemakaian masker kain dapat meningkatkan risiko infeksi ILI (influenza like illness) yang jauh lebih besar. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25903751/)

Dan terakhir penelitian yang dilakukan oleh Ming Gao dan rekan di China pada Agustus 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui infektivitas pembawa SARS-CoV-2 pada asimptomatik alias orang tanpa gejala. Jadi bukan tentang penggunaan masker. Pada bagian analisis saya coba jelaskan.

Lalu apa hasilnya? Pasien tanpa gejala si Kopit alias asimptomatik memiliki tingkat infektivitas SARS-CoV-2 yang lemah pada orang lain. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/32513410/)

Jadi apa yang bisa disimpulkan?

Asumsi bahwa masker dapat mencegah infeksi si Kopit, masih jauh untuk bisa dibuktikan secara ilmiah. Bahkan dinyatakan bahwa baik masker/respirator tidak punya hubungan konklusif terhadap infeksi virus.

Selain itu, penggunaan masker justru dapat membawa efek samping negatif yang nggak bisa disangkal lagi, seperti: sakit kepala, reaksi kulit hingga hipoksemia. Penelitian tersebut malah menyebutkan bahwa penggunaan masker dalam waktu lama akan dapat membawa konsekuensi berbahaya yang tidak terhindarkan.

Parahnya lagi, masker yang banyak beredar di pasaran adalah jenis kain yang tidak hanya gagal menghambat penyebaran virus (tingkat penetrasi partikel 98%) tapi juga dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terkena infeksi virus. Dengan kata lain, lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya jika dipakai.

Lantas bagaimana dengan asumsi bahwa orang tanpa gejala (asimptomatik) yang dapat menyebarkan virus, sehingga kita wajib memakai masker?

Pada penelitian terakhir sudah dijelaskan, bahwa orang yang asimptomatik memiliki tingkat infeksi yang lemah terhadap orang lain. Jadi kalo lemah, ngapain juga harus repot-repot pakai masker?

Jadi, apakah memakai masker dapat benar-benar berfungsi secara efektif, mengingat media mainstream termasuk yang paling getol mengkampanyekan hal tersebut?

Silakan simpulkan sendiri berdasarkan data penelitian yang sudah saya paparkan.

Sebenarnya pertanyaannya tuh bukan: “Perlu nggak sih kita pakai masker?” tapi yang benar: “Ngapain sih kita pakai masker?”

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!