Ruwetnya ke Mall

In Ekonomi

Ruwetnya ke Mall

Oleh: Ndaru Anugerah

Bagaimana bisnis ritel selama plandemi berlangsung?

Mari lihat datanya.

Menurut laporan yang dirilis oleh CBN Insights, pusat perbelanjaan alias Department Store justru blangsak saat plandemi berlangsung. Sasarannya nggak tanggung. Sejumlah nama besar dari Neiman Marcus hingga JC Penney langsung kena imbasnya.

Terus, apakah orang nggak berbelanja?

Tentu mereka berbelanja, hanya secara online.

Dengan kata lain ada transformasi besar yang mengubah mind-set orang untuk belanja, dari onsite beralih ke online. Karena adanya pergeseran ini, maka toko-toko konvensional yang ada di mall, praktis ditinggal pelanggan setianya. (https://www.cbinsights.com/research/retail-apocalypse-timeline-infographic/)

Bahkan sebuah artikel di Forbes, lebih dramatis lagi prediksinya. “Virus Kopit akan mempercepat ambruknya bisnis ritel secara global,” demikian kurleb-nya. (https://www.forbes.com/sites/stevendennis/2020/03/17/the-coronavirus-will-accelerate-retails-collapse-of-the-middle/)

Dan menurut analisa saya, kejatuhan bisnis ritel selaras dengan program utama sang Ndoro besar The Great Reset, dalam memicu kebangkrutan global dengan alih hadirnya si Kopit. (baca disini, disini dan disini)

Itu di luar sana. Bagaimana dengan kondisi yang ada di Wakanda?

Sama saja.

Semasa plandemi Kopit, satu persatu ritel besar justru gulung tikar karena kebijakan konyol berupa penutupan tempat usaha yang kerap digelar pemerintah Wakanda. Pada akhir Mei 2021, kondisinya bahkan berada di titik nadir. (https://www.kompas.id/baca/ekonomi/2021/05/28/terdampak-pandemi-ritel-di-titik-nadir)

Wajar saja, mengingat dengan kondisi ‘survival’, siapa juga yang mau menghamburkan uang untuk beli barang yang sifatnya sekunder atau tersier.

Belum selesai urusan yang satu, pemerintah Wakanda malah memberlakukan kebijakan Karantina Darurat. Ini tentu saja sangat memukul sektor ritel tersebut.

Akibatnya bisa ditebak, PHK massal adalah solusi yang diberikan kepada para pekerja sektor ritel tersebut. Kalo toko ditutup terus, apa mau penguasaha memberikan gaji kepada para karyawannya yang nggak bekerja?

“Berdasarkan data, ada sekitar 280 ribu karyawan yang bekerja di pusat perbelanjaan. Dengan adanya pemberlakuan Karantina Darurat selama 6 pekan, maka akan ada 84 ribu karyawan yang akan ‘di rumahkan’,” begitu ungkap seorang narsum.

Cerita buruknya, akan ada potensi kerugian sekitar 5 triliun akibat kebijakan Karantina Darurat, yang akan ditanggung oleh para pengusaha ritel. (https://www.liputan6.com/bisnis/read/4606108/ppkm-darurat-diperpanjang-6-pekan-mal-akan-phk-84-ribu-pegawai-dan-rugi-rp-5-triliun)

Ibarat sudah jatuh lalu tertimpa meteor, kebijakan terbaru yang diluncurkan oleh pemerintahan Wakanda, cukup bikin pusing pala berbie 7 keliling.

Apa kebijakan barunya?

Mall boleh dibuka selama Karantina Darurat, namun kapasitas pengunjung hanya 25%.

Bukan itu saja, pengunjung yang mau masuk ke mall, harus bisa menunjukkan bukti bahwa dirinya telah di vaksin Kopit. Bahkan manula yang berusia di atas 70 tahun dan anak-anak dilarang masuk ke mall. (https://money.kompas.com/read/2021/08/09/221100626/luhut–akan-ada-uji-coba-masuk-mal-wajib-tunjukkan-kartu-vaksin)

Aturan tambah komplit dengan keluarnya pernyataan salah satu menteri di Wakanda, bahwa pengunjung mall harus punya status negatif test PCR atau Swab Antigen, yang biayanya sudah tentu ditanggung oleh warga Wakanda. (https://www.inews.id/news/nasional/menteri-perdagangan-menyatakan-tes-negatif-pcr-menjadi-syarat-masuk-mall-selengkapnya-di-inews-siang)

Sekarang coba dijawab dengan nalar.

Dengan tanpa aturan saja, nggak ada jaminan bahwa mall bakal ramai diserbu pengunjung mengingat masyarakat kini daya belinya melemah.

Nah kini dengan hadirnya peraturan abrakadabra yang sudah pasti akan mempersulit pengunjung, berapa banyak orang yang akan bertandang ke mall?

Test PCR/Swab antigen saja sudah ratusan ribu harganya, padahal rencana ke mall hanya sekedar cuci mata. Orang waras mana yang mau kehilangan uang ratusan ribu di tengah kondisi seperti ini? Belum lagi kalo berdasarkan test, kedapatan hasilnya positif. Apa nggak berabe?

Pusing jadinya, bukan?

Yang jelas kata pak Lurah Wakanda, “Itu bukan urusan saya!”

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

4 commentsOn Ruwetnya ke Mall

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu