Operasi Condor

In Sejarah

Operasi Condor

Oleh: Ndaru Anugerah

Sukses yang digelar CIA sebagai lengan Deep State dalam menggulingkan pemerintahan Salvador Allende di Chili, menginspirasi proyek yang lebih besar lagi di Amerika Latin guna menghantam siapapun yang dianggap kelompok ‘kiri’. (baca disini)

Apakah proyek besar tersebut?

Operasi Condor.

Berdasarkan dokumen resmi yang dirilis oleh pemerintah AS dikemudian hari, Operasi Condor merupakan kerjasama dinas intelijen dari beberapa negara Amerika Selatan dalam menumpas gerakan ‘kiri’ di wilayah tersebut atas inisiasi CIA. (https://nsarchive2.gwu.edu/NSAEBB/NSAEBB416/docs/780822cia.pdf)

Operasi Condor terbilang sukses karena mengakibatkan penghilangan paksa, penyiksaan dan pembunuhan brutal terhadap sekitar 60 ribu, selain pemenjaraan politik sekitar setengah juta orang. Dari angka tersebut, setengahnya terjadi di Argentina. (https://www.telesurenglish.net/multimedia/Operation-Condor-20161219-0022.html#)

Wajar, mengingat sekretariat Operasi Condor memang terletak di Buenos Aires, Argentina. (https://www.intel.gov/argentina-declassification-project/records)

Secara resmi Operasi Condor dimulai pada 1975. Ada beberapa negara Amerika Latin yang terlibat dalam operasi tersebut, antara lain Chili, Brazil, Argentina, Uruguay, Paraguay, Ekuador dan Bolivia. Dan semua negara tersebut bisa terlibat karena ada sokongan AS di belakangnya.

Apa target yang mau dicapai?

Nggak lain penggulingan pemimpin ‘kiri’ yang berkuasa di negara tersebut ataupun oposisi yang dinilai kental dengan gerakan ‘kiri’.

Siapa yang melakukan aksi tersebut?

Tentu saja pihak pemegang bedil yang jadi andalannya. Mereka dilatih cara efektif ‘memperlakukan’ gerakan kiri dengan todongan senjata, dimana sebelumnya mereka dilatih dalam unit khusus yang difasilitasi AS. (baca disini)

Ini bukan isapan jempol.

Kudeta yang terjadi di Bolivia pada 1971, siapa yang menyokong seorang Hugo Banzer Suarez dalam menggulingkan Presiden Juan Jose Torres yang sosialis dan pro rakyat? (https://www.liberationnews.org/10-07-10-documents-prove-us-government-html/)

Lalu kalo kita sedikit telusuri, bagaimana seorang Banzer mendapatkan pelatihan militer di School of America yang ada di Panama selain Sekolah Kaveleri Lapis Baja yang ada di Texas, AS. (https://www.nytimes.com/1971/08/25/archives/political-prisoner-to-president-hugo-banzer-suarez.html)

Mengapa juga pemerintaha Nixon memberikan puluhan juta dollar AS setiap tahunnya kepada pemerintahan Banzer, kalo nggak ada udang dibalik bakwan-nya? (https://nacla.org/article/alliance-power-us-aid-bolivia-under-banzer)

Atau bagaimana AS menyokong kudeta di Uruguay di tahun 1973 guna menegakkan rezim otoritarian dibawah kepemimpinan Juan Maria Bordaberry yang kemudian memberangus gerakan ‘kiri’ Tupamaros di negara tersebut? (http://motherearthtravel.com/uruguay/history-12.htm)

Hal yang sama juga dengan kudeta yang terjadi di Argentina pada 1976, yang sukses menggulingkan Presiden Isabel Peron.

Kudeta yang dibesut oleh Jenderal Jorge Rafael Vivelda tersebut juga dapat sokongan dari AS mengingat presiden Peron adalah sosok sosialis tulen yang wajib digulingkan. (https://nsarchive.gwu.edu/briefing-book/southern-cone/2021-03-23/argentinas-military-coup-what-us-knew)

Dengan kata lain, modus yang dilakukan di negara-negara Amerika Latin sama saja.

Kalo ada pemimpin ‘kiri’, harus digulingkan. Jika mereka nggak berani bersikap terhadap gerakan ‘kiri’ juga digulingkan. Dan pihak bersenjata yang sengaja digandeng dalam menjalankan operasi ini, mengingat mereka adalah anjing yang sangat setia kepada majikannya. (baca disini)

Barulah, setelah rezim otoritarian bercokol di negara tersebut, guna memperkuat status maka senjata bakal dipasok guna menumpas gerakan ‘kiri’ yang bersisa. Masuk akal, mengingat hanya dengan todongan senjata maka gerakan ‘kiri’ bisa diberangus.

Selain menggunakan senjata, maka ada cara brutal lainnya yang sengaja digunakan guna menimbulkan efek kejut. Salah satunya adalah ‘penerbangan maut’ atau death flights yang banyak diterapkan di Argentina.

Pada tataran operasional, maka para korban dibius, diikat dan dimasukkan ke dalam kantong mayat plastik, dimana perut mereka ditusuk-tusuk dengan menggunakan bayonet sebelum dilemparkan keluar dari pesawat atau helicopter ke arah lautan. Ajigile! (https://www.axios.com/argentina-death-flights-dictatorship-trial-6837e2aa-550f-41a0-9166-6d069e1850fc.html#:~:text=Argentine%20’death%20flights’%20trial%20gets%20underway&text=For%20the%20first%20time%2C%20Argentina,into%20the%20ocean%20to%20drown.)

Darimana mereka mendapatkan ide untuk death flights tersebut?

Tentu saja dari mentor mereka yang telah melatih mereka menjadi the Death Squads. (https://prism.ucalgary.ca/bitstream/handle/1880/110583/9781552389072_chapter02.pdf?sequence=4&isAllowed=y)

Pertanyaan sederhana: apakah semua orang yang telah menjadi korban adalah orang-orang kiri?

Fakta menyatakan justru sebaliknya.

Mayoritas yang terbunuh adalah mahasiswa, musisi, penulis, jurnalis, biarawan/biarawati, wanita hamil, guru, hingga anggota serikat pekerja yang nggak tahu menahu soal gerakan ‘kiri’. (https://www.history.com/news/mothers-plaza-de-mayo-disappeared-children-dirty-war-argentina)

Operasi Condor mempunyai kemiripan dengan rejim diktator yang bercokol di banyak negara di dunia yang disokong oleh AS guna menumpas gerakan oposisi dengan todongan senjata, termasuk di Indonesia.

Berapa banyak korban meregang nyawa karena dituding ‘komunis’ pasca 1965? (https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/713677655?journalCode=cjgr20)

Kenapa bisa mirip dengan Operasi Condor?

Ya karena ada kepentingan kartel Ndoro besar yang diusik oleh pemimpin yang berkuasa. (baca disini, disini dan disini)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu