Lihat Dulu Urgensinya

In Sosial Budaya

Lihat Dulu Urgensinya

Oleh: Ndaru Anugerah

“Perlu gak sih, kita disuntik vaksin Kopit?” tanya seseorang.

“Pertanyaannya kok nggak berkembang, sih?” pikir saya. Perasaan saya pernah ulas berulang-ulang soal itu. (baca disini dan disini)

“Apa masih kurang?” pikir saya.

Well, oke lah biar nggak mengecewakan. Kali ini saya akan coba kasih ulasan yang berbeda agar anda bisa mendapatkan jawaban yang terus diulang-ulang kek kaset kusut tersebut.

Apa sih urgensinya kita divaksin? Maksud urgensi disini adalah manakala anda nggak divaksin, maka anda bakal mati dalam waktu dekat atau seketika. Kalo pertanyaan itu nggak bisa dijawab, untuk apa juga anda divaksin?

Berarti kita coba lihat, berapa sih nilai IFR (Infection Fatality Rate) alias tingkat kematian akibat infeksi dari virus Kopit tersebut. Dengan tahu nilainya, kita bakalan punya gambaran berapa parahnya tingkat kematian yang dipicu oleh si Kopit.

Tentu saja datanya berasal dari penelitian yang ilmiah.

Pada 19 Mei 2020, Prof. John Ioannidis dan rekan-rekannya memberi ulasan mereka tentang kasus kematian Kopit secara global. Dan mereka mendapati bahwa IFR alias tingkat kematian si Kopit berkisar antara 0,02% hingga 0,4%. (https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.05.13.20101253v1)

Lalu pada tanggal 4 Mei 2020, Prof. Henrilk Streeck dan rekan-rekannya, mengadakan penelitian di Jerman dan menemukan bahwa IFR alias tingkat kematian si Kopit ternyata kurang dari 0,36%. (https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.05.04.20090076v1)

Bertempat di Universitas Stanford pada 30 April 2020, para ilmuwan di kampus Ivy League tersebut mendapatkan hasil IFR di daerah Santa Clara, AS yang hanya 0,17%. (https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.04.14.20062463v2)

Sebuah studi berbeda yang dilakukan di provinsi Guilan, Iran dan diterbitkan pada 1 Mei 2020, menemukan nilai IFR si Kopit hanya 0,12%. (https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.04.26.20079244v1)

Dan University of Southern California (USC) juga melakukan penelitian yang sama pada 21 April 2020 silam pada daerah Los Angeles, AS dan didapatkan hasil nilai IFR si Kopit yang kurang dari 0,2%. (https://pressroom.usc.edu/preliminary-results-of-usc-la-county-covid-19-study-released/)

Masih banyak hasil penelitian serupa di banyak belahan dunia lainnya, dengan nilai IFR yang kurleb sama alias kurang dari 1%. Ini saya kasih link-nya buat anda. (https://swprs.org/studies-on-covid-19-lethality/)

Dapat disimpulkan bahwa semua studi serologis yang dilakukan dibanyak tempat, hasilnya rata-rata 0,2%.

Apa mungkin mereka melakukan penelitian dengan hasil yang telah disepakati sebelumnya alias udah janjian dulu, gitu? Jelas nggak mungkin.

Hasil ini jelas menegasikan prediksi yang dilakukan oleh WHO pada Februari 2020 silam yang menyatakan angka IFR si Kopit 3,4%. Dapat angkanya darimana? Karena ketinggian angka prediksinya.

Jadi, kalo tingkat kematian katakanlah 1%, apakah si Kopit bisa dianggap mematikan?

Bisa dikatakan bahwa si Kopit nggak lebih mematikan daripada virus flu biasa alias sama saja.

Kalo sudah begini, silakan anda jawab pertanyaan di atas dengan kepala dingin. Perlu nggak sih divaksin kalo tingkat kematiannya kurang dari 1%?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 2)

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama tulisan, saya sudah mengulas tentang upaya yang dilakukan BG dalam

Read More...

Mengubah Kode Genetik? (*Bagian 1)

Mengubah Kode Genetik? (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Secara fungsional, virus nggak memiliki nyawa sendiri. Untuk bisa hidup, mereka harus tumbuh

Read More...

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 1)

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Apa penyebab utama pemanasan global? Kalo ditanya sang Ndoro besar, sudah pasti jawabannya karena

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu