Klub Ndoro Besar (*Bagian 1)

In Sejarah

Klub Ndoro Besar (*Bagian 1)

“Memang Klub Bilderberg itu apa?” tanya seorang netizen kepada saya.

Bildeberg merupakan grup yang dibentuk pada tahun 1954 di Belanda, sebagai grup pertemuan rahasia yang dilangsungkan setahun sekali. Tercatat ada sekitar 130 elit politik-keuangan-militer-akademik dan media dari Amerika Utara dan Eropa Barat yang tergabung dalam klub tersebut.

Singkatnya, Grup Bildeberg (GB) merupakan jaringan informal yang sangat berpengaruh yang dapat berkonsultasi satu sama lain secara pribadi ataupun rahasia. (http://www.cbc.ca/news/background/bilderberg-group/)

Kalo bisa dibilang, bahwa GB adalah wadah pemikir global rahasia yang awalnya menghubungkan pemerintah dan pelaku ekonomi di Eropa Barat dan Amerika Utara, saat Perang Dingin berlangsung. (http://www.canada.com/topics/news/world/story.html?id=ff614eb8-02cc-41a3-a42d-30642def1421&k=62840)

Dan tujuan utama dari GB adalah globalisme. Jadi nggak salah kalo kita bilang bahwa GB adalah klub Ndoro besar alias globalis a.k.a. elite global. (https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/03058298920210010705?journalCode=mila)

Pendiri GB di Eropa Barat diantaranya Pangeran Bernhard dari Belanda.

Asal tahu saja bahwa Bernhard pernah menjadi anggota NAZI hingga tahun 1934 selain pernah bekerja pada perusahaan IG Farben yang kemudian membuat gas Zyklon B yang dipakai pada kamp konsentrasi. (http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/netherlands/7377402/Dutch-Prince-Bernhard-was-member-of-Nazi-party.html)

Di Amerika Utara (AS), pendiri GB antara lain: David Rockefeller, Dean Rusk (pejabat Council on Foreign Relations), Joseph Johnson (pejabat di Carnegie Foundation) dan John McCloy (pejabat pada di Ford Foundation dan Chase Manhattan). (https://www.amazon.com/Foundations-Public-Policy-Pluralism-Political/dp/0791456420)

Dan analis geopolitik mahfum bahwa ketiga yayasan: Rockefeller, Carnegie dan Ford merupakan mesin rekayasa sosial yang paling wahid. Prof. Robert F. Arnoke menulis, “Ketiga yayasan tersebut memiliki pengaruh korosif pada tatanan masyarakat demokratis dan mereka tidak dapat diatur oleh siapapun yang berkuasa.” (https://www.amazon.com/Philanthropy-Cultural-Imperialism-Foundations-Abroad/dp/0253203031)

Jadi ketiga yayasan akan mendanai (lembaga think-tank, LSM dan pendidikan) dan mendengungkan globalisasi dengan ‘tatanan dunia baru’ sebagai isu sentralnya. Mereka juga menampilkan AS sebagai garda terdepan dalam setiap aksinya. (Inderjeet Parmar, “‘To Relate Knowledge and Action’: The Impact of the Rockefeller Foundation on Foreign Policy Thinking During America’s Rise to Globalism 1939-1945,” Minerva (Vol. 40, 2002), page 246)

Nggak aneh jika kemudian Prof. Stephen Gill selaku pakar ilmu politik bilang, “Mereka yang terkenal secara akademisi di AS, merupakan sebuah jaringan yang terkoneksi dengan Rockefeller.” (https://www.cambridge.org/gb/academic/subjects/politics-international-relations/international-relations-and-international-organisations/american-hegemony-and-trilateral-commission?format=PB&isbn=9780521424332)

Coba kita cek, apakah benar yang dilontarkan Prof. Gill tersebut?

Anda tahu Henry Kissinger? Dia adalah ‘anak didik’ Rockefeller. Anda kenal ahli strategi AS Zbigniew Brzezzinski, juga terkoneksi dengan Rockefeller. Atau mungkin James Wolfensohn selaku mantan Presiden Bank Dunia, juga terkoneksi dengan Rockefeller.

Ini baru 3 nama. Kalo ditelusur dengan cernat, maka pernyataan yang dikemukan Prof. Gill bakal menemukan pembenarannya.

Apa proyek pertama GB?

Pasar Bersama Eropa yang kelak dikenal sebagai Uni Eropa.

“Eropa perlu bersatu dan karenanya negara-negara Eropa perlu melepaskan sebagian dari kedaulatan mereka guna penyatuan ini,” demikian ungkap Joseph Retinger selaku salah satu deklarator GB di tahun 1955. (https://www.amazon.com/Trilateralism-Trilateral-Commission-Planning-Management/dp/0896081036)

Apakah gerakan ini hanya menyangkut kepentingan Eropa semata?

Nggak juga. Justru CIA membantu upaya penyatuan Eropa tersebut dalam hal teknis dan pendanaan. (http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/europe/1356047/Euro-federalists-financed-by-US-spy-chiefs.html)

Dan di tahun 1957, Perjanjian Roma ditandatangani dalam upaya membentuk Masyarakat Ekonomi Eropa atau yang biasa dikenal dengan Komunitas Eropa. (https://www.cvce.eu/en/obj/treaty_establishing_the_european_economic_community_rome_25_march_1957-en-cca6ba28-0bf3-4ce6-8a76-6b0b3252696e.html)

Puncaknya di tahun 1992, Perjanjian Maastricht ditandatangani. Dengan demikian Uni Eropa secara resmi terbentuk. Ini makin sempurna saat Bank Sentral Eropa serta Euro diperkenalkan kepada masyarakat global di tahun penghujung 1990-an. (https://www.history.com/this-day-in-history/the-euro-debuts)

Pertanyaannya: apakah setelah Eropa bersatu dengan Bank Sentral dan mata uangnya, akan cukup untuk mengatasi masalah teknis lainnya, semisal Undang-Undang?

Nggak juga. Untuk itu, perlu dibuat yang namanya Konstitusi Eropa. Dan Perjanjian Lisbon yang ditanda tangani di tahun 2007 silam, telah mengatasi masalah ini. (https://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Lisbon)

Perlu anda tahu bahwa yang menulis sebagian besar Konstitusi Bersama tersebut adalah Valery Giscard d’Estaing yang merupakan mantan presiden Perancis plus teman dekat Henry Kissinger dan tentunya anggota GB. (https://www.planet.fr/politique-societes-secretes-les-politiques-qui-sont-membres.57793.29334.html?page=12)

Klop sudah.

Lalu, untuk apa sang Ndoro besar repot-repot membentuk Uni Eropa?

Coba anda pikir, untuk membuat One World Order, apa mungkin dibesut dalam semalam? Nggak mungkin, bukan?

Dengan bersatunya Eropa, maka akan memudahkan bagi sang Ndoro besar dalam menyatukan negara lainnya dalam Kaukus yang sesuai dengan keinginannya.

Kalo Eropa yang masyarakatnya ‘maju’ saja bisa diatur, lalu apa susahnya dalam mengatur masyarakat dunia yang lain yang lebih ‘terbelakang’?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Jejak Gates di Indonesia

Jejak Gates di Indonesia Oleh: Ndaru Anugerah Siapa nggak kenal Bill Gates? Saya yakin, sedunia pasti kenal lah dengan sosok yang satu

Read More...

Krisis di Chad

Krisis di Chad Oleh: Ndaru Anugerah Presiden Idriss Deby terbunuh ditangan pemberontak Front Chad untuk Perubahan dan Kesesuaian (FACT), setelah kurleb

Read More...

Proyek Nyamuk Gates (*Bagian 2)

Proyek Nyamuk Gates (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama tulisan, saya sudah mengulas tentang rencana Oxitec dalam mengendalikan nyamuk

Read More...

2 commentsOn Klub Ndoro Besar (*Bagian 1)

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu