Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 1)

In Sosial Budaya

Proyek Memblokir Matahari (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa penyebab utama pemanasan global?

Kalo ditanya sang Ndoro besar, sudah pasti jawabannya karena adanya gas rumah kaca alias karbon yang dihasilkan industri dan kendaraan berbahan bakar fosil. (baca disini, disini dan disini)

Nggak aneh kalo Bill Gates (BG) menyalurkan dana jumbonya untuk menggelar rencana spektakuler guna ‘memblokir’ matahari agar tercipta efek pendinginan global. (https://www.forbes.com/sites/arielcohen/2021/01/11/bill-gates-backed-climate-solution-gains-traction-but-concerns-linger/)

Proyek yang kemudian jatuh kepada fisikawan Harvard tersebut berencana mengirim roket/balon udara ke atmosfer dan menjatuhkan berton-ton bahan kimia agar cahaya matahari bisa diblokir. Jadi konsepnya sama dengan letusan gunung berapi yang mengeluarkan debu vulkanik ke angkasa.

Namun rencana tersebut kini terkendala.

Pada awal April yang lalu, Badan Antariksa Swedia (SSC) mengumumkan bahwa mereka menarik diri dari program SCoPEX alias The Stratospheric Controlled Perturbation Experiment yang didanai oleh BG, yang bertujuan meredupkan matahari tersebut dengan geoengineering buatan manusia.

Kalo bahasa sederhananya, mereka menarik diri karena proyeknya dinilai ‘nggak masuk akal’. (https://swedesinthestates.com/sweden-ditches-harvard-experiment-to-dim-the-sun-funded-by-bill-gates/)

Gimana nggak?

Rencananya, debu sulfat aerosol kalsium karbonat akan dijatuhkan ke atmosfer dengan memakai balon dan roket yang akan diluncurkan dari kota Esrange, Kiruna di Swedia Utara.

Kenapa harus pakai kalsium karbonat?

Ya karena zat tersebut dikenal juga sebagai debu kapur yang bisa meredupkan matahari, sehingga cahaya tersebut nggak mencapai bumi. Jadi berton-ton zat tersebut disebar ke atmosfer untuk mencegah pemanasan global.

Masalahnya apa itu logis? Justru nggak.

Komunitas ilmiah dan aktivis lingkungan di negara tersebut, sudah protes terhadap proyek ‘gila’ tersebut. Bahkan masyarakat asli Swedia, Saame yang kebanyakan gembala rusa takut bahwa partikel yang disebar tersebut bakal mencemari lingkungan dan ternak mereka. (https://summit.news/2021/04/02/good-news-bill-gates-geoengineering-plot-to-block-the-sun-is-scrapped/)

Sebelum saya menggali lebih dalam tentang rencana BG tersebut, anda perlu tahu dulu siapa-siapa saja yang bermain di belakang proyek tersebut.

Sejak 2010 silam, BG telah menyerukan peredupan matahari oleh manusia. Untuk mewujukan rencananya tersebut, dana sebesar USD 4,6 juta diberikan kepada fisikawan Harvard yang bernama Prof. David Keith.

Penunjukkan Prof. Keith bukan tanpa sebab, mengingat dirinya telah lama berinteraksi dengan BG sejak 2005. Dan begitu Prof. Keith mendirikan perusahaan yang bernama Carbon Engineering di Kanada, BG dan rekan kartelnya Chevron, langsung mendukungnya.

Usaha yang dikembangkan Keith adalah Direct Air Capture yang akan menangkap karbon dioksida (CO2) langsung dari udara sekitar dengan menggunakan kipas besar, untuk mendorong ekstraksi CO2 dengan filter dan pelarut kaustik yang dikembangkannya.

Upaya ini membutuhkan jumlah air dan energi yang sangat banyak selain biaya yang super boros. Guna mencapai kondisi nol karbon, maka biaya yang dibutuhkan dalam setahun mencapai USD 5 trilyun. Warbiyasah! (https://www.etcgroup.org/content/sugar-daddy-geoengineering)

Apakah itu berhasil? Waktu yang akan membuktikannya.

Dalam acara di TED Talk (2010), BG bilang bahwa upaya pemblokiran matahari harus dilakukan guna mengurangi efek pemanasan global. “Apa yang disebut sebagai geoengineering tersebut harus dilakukan secara bersama-sama,” ungkapnya. (https://www.ted.com/talks/bill_gates_innovating_to_zero/transcript#t-5985)

Jadi, cita-cita BG harus diwujudkan dengan memakai banyak tangan. Istilahnya ‘kerjasama global’.

Namun naas, karena Swedia menampik proposal yang disodorkan BG tersebut, karena dinilai nggak logis dan justru bakal mendatangkan masalah baru.

Apakah dengan mundurnya Swedia akan menyurutkan langkah BG?

Sepertinya tidak.

Prof. Keith bilang bahwa meskipun Swedia mundur dari proyek tersebut, bukan berarti rencana gagal. “Kami akan mencari dukungan pada pemerintahan Biden untuk melakukan tes di AS,” ungkapnya.

Apakah ini akan kembali menemukan kendala?

Uang punya kuasa. Setidaknya US National Academies of Sciences, Engineering and Medicine menyatakan bahwa akan ada ‘dana jumbo’ mencapai ratusan juta dollar, yang akan digelontorkan ke bidang rekayasa geo surya selama lima tahun ke depan, termasuk geoengineering. (https://www.sciencemag.org/news/2021/03/us-needs-solar-geoengineering-research-program-national-academies-says)

Dengan cuan sebanyak itu, siapa juga yang nggak keder untuk ikutan?

Lalu kenapa ilmuwan Swedia menganggap ide geoengineering yang dikemukakan BG dianggap nggak logis? Memang sebenarnya geoengineering yang dilontarkan BG itu seperti apa?

Saya akan ulas pada bagian kedua nanti.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Jejak Gates di Indonesia

Jejak Gates di Indonesia Oleh: Ndaru Anugerah Siapa nggak kenal Bill Gates? Saya yakin, sedunia pasti kenal lah dengan sosok yang satu

Read More...

Krisis di Chad

Krisis di Chad Oleh: Ndaru Anugerah Presiden Idriss Deby terbunuh ditangan pemberontak Front Chad untuk Perubahan dan Kesesuaian (FACT), setelah kurleb

Read More...

Proyek Nyamuk Gates (*Bagian 2)

Proyek Nyamuk Gates (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama tulisan, saya sudah mengulas tentang rencana Oxitec dalam mengendalikan nyamuk

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu