Efek Domino Lebanon

In Ekonomi

Efek Domino Lebanon

Oleh: Ndaru Anugerah

Bagaimana kondisi ekonomi Suriah belakangan ini?

Baru-baru ini, Presiden Bashar al-Assad curhat ke publik bahwa krisis ekonomi yang menimpa Suriah semakin tak terkendali. (https://www.reuters.com/article/syria-crisis-assad-deposits-int-idUSKBN27K2W4)

Ini diperparah karena ada simpanan uang Suriah di Lebanon senilai kurleb USD 20-42 milyar yang nggak bisa ditarik akibat ‘dibekukan’ dan sepertinya bakal ‘hilang’. (https://www.arabnews.com/node/1758926/middle-east)

Dengan adanya UU Caesar yang dijatuhkan pada Suriah ditambah lagi cadangan uang di LN yang nggak bisa ditarik, menambah sulit perekonomian negara tersebut. Mata uang Suriah-pun terjun bebas sejak awal tahun lalu memicu resesi nggak tertahankan dan harga-harga otomatis terkerek naik. (https://www.trtworld.com/opinion/the-caesar-act-and-what-awaits-syria-37476)

Bahkan untuk membeli gandum dan roti yang jadi bahan makanan utama di Suriah, rakyat mulai kesulitan. Ini makin diperburuk saat Trump memerintahkan pasukannya untuk membakar lahan gandum rakyat Suriah beberapa waktu yang lalu. Jadinya, stok gandum dalam negeri Suriah makin berkurang. (https://atalayar.com/en/content/trump-has-ordered-us-forces-burn-wheat-fields-syria-according-report)

Ironis.

Padahal dulu Suriah adalah eksportir gandum ke Eropa sebelum perang Suriah meletus di tahun 2011. Namun sejak perang Suriah, para jihadis mencuri dan menjual hasil jarahan seperti gandum untuk ‘dibawa’ ke Turki dan Erdogan kemudian menjualnya ke Uni Eropa. Warbiyasah. (http://ahtribune.com/world/north-africa-south-west-asia/syria-crisis/1107-isis-french-riviera.html)

Pertanyaanya, kenapa uang Suriah banyak ‘diendapkan’ di Lebanon?

Lebanon bukanlah negara yang kaya SDA. Salah satu sumber ‘dollar’ yang dimilikinya berasal dari para TK Lebanon yang mencari pekerjaan di LN. Jadi mirip-mirip TKI, lah. Ini lumayan berhasil. Bahkan saat krisis keuangan global di tahun 2008, kiriman ‘dollar’ masih bisa berjalan dengan aman.

Ini terkendala saat Perang Suriah berkecamuk di tahun 2011.

Kalo dulu, Saudi banyak berinvestasi ke Lebanon untuk sekedar ‘membeli’ pengaruh politik disana. Namun sejak Perang Suriah, Saudi tarik dukungan karena menganggap Lebanon adalah sekutu Suriah yang jadi musuh berat Saudi. (https://www.france24.com/en/20120223-assad-syria-homs-friends-pressure-humanitarian-hillary-clinton)

Sejak itu pasokan dollar di Lebanon, perlahan ‘mengering’. Krisis ini berkepanjangan, hingga tahun 2016.

Saat itulah Riad Salameh selaku kepala sentral Banque du Liban membuat terobosan dengan memperkenalkan rekayasa keuangan yang nggak lain adalah skema Ponzi. (https://www.reuters.com/article/uk-lebanon-crisis-financial-explainer/explainer-lebanons-financial-meltdown-and-how-it-happened-idUKKBN268223)

Gimana caranya?

Bank-Bank swasta di Suriah diiming-imingi untuk memberi pinjaman kepada bank sentral dengan bunga fantastik. Uang hasil pinjaman kemudian dibelanjakan untuk proyek-proyek gaje, hingga kasih sogokan kepada para elite politik di Suriah.

Dengan skema ‘menggiurkan’ tersebut, siapa yang nggak kepincut. Dan akhirnya kabar baik tersebut sampai juga ke Suriah. Akibatnya, makin banyak pihak yang taruh uangnya di bank sentral Lebanon tersebut dengan bunga yang ‘aduhai’.

Tercatat, jumlah uang nasabah yang berhasil dihimpun mencapai ratusan milyar dollar di tahun 2018. (https://www.economist.com/finance-and-economics/2020/11/05/deconstructing-the-lebanese-central-banks-ponzi-scheme)

Yang namanya skema Ponzi, cepat atau lambat pasti terkuak. Orang mulai curiga dan ambil ancang-ancang untuk tarik uangnya secara serentak di bank-bank swasta yang berafiliasi dengan bank sentral. Sebagian berhasil, namun banyak yang naas, karena uang mereka sudah ‘menguap’ duluan entah kemana.

Walhasil pemerintah membekukan rekening di bank-bank Lebanon, sehingga orang tidak dapat lagi menarik ‘dollar-nya’ di sana. (https://www.gfmag.com/magazine/march-2020/lebanon-liquidity-crisis)

Bagaimana dengan bank sentral Lebanon?

Asetnya sudah ludes buat bayar utang. Akibatnya PM Hassan Diab curcol ke Amrik soal kelakuan Riad Salameh yang dianggap biang kerok krisis ekonomi di Lebanon. (https://www.thenationalnews.com/world/mena/france-intervenes-to-stop-sacking-of-lebanon-s-under-pressure-central-bank-governor-1.1010783)

Bukannya dapat dukungan, Dubes AS untuk Lebanon malah ngancam, “Jangan coba-coba pecat Salameh kalo nggak mau dapat masalah, karena dia adalah orang kami.” (https://www.islamtimes.org/en/news/863113/us-ambassador-warns-lebanon-of-major-consequences-if-investigates-involvement-bdl-governor-in-currency-crisis)

Gegara kasus ini, mata uang Pound Lebanon langsung terjun bebas. Awalnya dinandrol 1500 per dollar, kini menjadi 8000 per dollar.

Pada saat inilah, hanya sang Ndoro besar yang bisa jadi ‘dewa penyelamat’ bagi Lebanon. (https://www.reuters.com/article/us-imf-world-bank-lebanon-idUSKBN26Z2OJ)

Cuma satu yang perlu diingat, yang namanya utang pasti ada segudang syarat yang harus dipenuhi. Aliasnya, Lebanon harus mau diatur sama sang Ndoro besar, seperti halnya Republik Wakanda kalo mau dikasih utang baru.

Akankah Lebanon mau ‘takluk’ terhadap tekanan sang Ndoro besar yang dulu dimusuhinya? (https://www.reuters.com/article/us-lebanon-crisis-plan-idUSKBN22D5NG)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yang Resmi Pasti Aman?

Yang Resmi Pasti Aman? Oleh: Ndaru Anugerah Presiden Republik Wakanda dalam satu kesempatan ngomong ke publik kurleb demikian, “Semua vaksin Kopit

Read More...

Antara JFK dan Indonesia (*Bagian 1)

Antara JFK dan Indonesia (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Jumat, 22 November 1963. Sebuah kendaraan yang membawa presiden AS ke-35, John

Read More...

Kembali Terbongkar

Kembali Terbongkar Oleh: Ndaru Anugerah Ada berita yang cukup mengejutkan baru-baru ini di AS sana. Apa itu? Dr. Genevieve Briand dari Universitas

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu