Bukan Perbandingan Apple to Apple


526

Bukan Perbandingan Apple to Apple

Oleh: Ndaru Anugerah

“Sepertinya C19 nasibnya akan sama dengan pandemi flu Spanyol 1918 dalam jumlah korban jiwa,” demikian ungkap seseorang menanggapi postingan yang ada di wall facebook orang lain. Benarkah?

Sebelum bisa menjawab, anda perlu tahu apa itu flu dan flu Spanyol.

Influenza atau flu disebabkan oleh virus yang menyerang sistem pernafasan dan sangat menular. Ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara, tetesan pernafasan yang dihasilkan akan ditransmisikan ke udara dan dapat dihirup oleh siapapun yang ada disekitarnya.

Selain itu, dengan menyentuh sesuatu dimana virus telah menempel di tangan, maka seseorang yang menyentuh mulutnya, matanya atau hidungnya, akan otomatis mudah terinfeksi. (https://www.history.com/topics/flu)

Nah, pandemi flu di tahun 1918 dapat terjadi saat ada virus influenza jenis baru yang sangat ganas dan menyebar dengan cepat ke penjuru dunia, dengan gejala: menggigil, demam dan kelelahan. Beberapa bisa sembuh, namun nggak sedikit yang akhirnya meregang nyawa. (https://www.bellevueheraldleader.com/news/history-repeating-itself/article_6217094c-6deb-11ea-af5b-039ddc1675c0.html)

Yang membuat flu 1918 begitu menakutkan adalah korban dapat meninggal hanya dalam beberapa jam/hari setelah gejala, dengan kulit yang membiru, paru-paru dipenuhi cairan yang membuat mereka mati lemas. (https://canbynowpod.com/school/schools-closed-meetings-canceled-canby-during-the-spanish-flu-pandemic-of-1918/)

Selain itu, tidak seperti flu yang lain, flu Spanyol justru menyerang banyak anak muda yang sebelumnya sehat. Padahal secara literatur, orang muda biasanya lebih kebal terhadap serangan penyakit menular, termasuk flu. (http://www.history.com/topics/world-war-i)

Meskipun bernama flu Spanyol, namun flu 1918 bukan berasal dari Spanyol. (https://www.history.com/news/why-was-it-called-the-spanish-flu)

Tidak ada yang tahu pasti darimana flu tersebut berasal. Namun kasus pertama yang diketahui dan dilaporkan berasal dari Camp Funston di Fort Riley, Kansas pada 11 Maret 1918. Beberapa tentara yang terinfeksi menyebarkan penyakit ke kamp militer lain di seantero Amrik lalu menyebrang ke Eropa dalam rangka PD I. (https://www.history.com/this-day-in-history/first-cases-reported-in-deadly-influenza-epidemic)

Hal ini senada dengan pernyataan sejarawan kondang Kenneth C Davis, bahwa korban pertama bernama Albert Gitchell seorang juru masak di Camp Fuston, pada musim semi 1918. (https://dontknowmuch.com/)

Bahkan dokter Loring Miner dari Haskell County, Kansas (dekat Camp Fuston), melihat lusinan pasiennya terserang flu yang tidak biasa antara Januari hingga Maret 1918, dan melaporkannya kepada pihak otoritas kesehatan, namun sayangnya tidak digubris. Padahal tingkat virulensinya demikian intens. (https://www.thegreatcoursesdaily.com/the-1918-spanish-flu-why-we-were-so-vulnerable/)

Ketika flu 1918 melanda, dokter dan ilmuwan tidak tahu apa penyebabnya dan bagaimana mengobatinya. Akibatnya, banyak yang tepar karena flu tersebut tanpa penanganan yang berarti. Sekolah dan bangunan publik lainnya disulap menjadi rumah sakit darurat karena jumlah pasien-nya membludak.

Pejabat berwenang terpaksa memberlakukan karantina dan memerintahkan warganya untuk mengenakan masker dan menutup tempat-tempat umum termasuk sekolah, gereja dan gedung teater. Orang-orang disarankan untuk tidak berjabatan tangan dan tetap stay at home. (http://www.chroniclenewspaper.com/opinion/columns/deja-vu-MC1141718)

Karena tidak adanya penawar ditengah orang yang paranoid, maka orang beramai-ramai mengkonsumsi aspirin, seiring anjuran yang diberikan oleh Ahli Bedah Umum AS, Angkatan Laut dan juga jurnal Asosiasi Medis Amerika.

Walhasil, mereka mengalami gejala keracunan aspirin termasuk hiperventilasi dan penumpukan cairan di paru-paru. Ini berakibat makin banyaknya orang yang mati karena flu tersebut, dipicu oleh keracunan obat. (https://www.nytimes.com/2009/10/13/health/13aspirin.html)

Berapa jumlah kematian akibat flu Spanyol tersebut? Karena tidak adanya pencatatan medis yang tersusun rapih, korban diperkirakan mencapai 100 juta orang alias 3% dari populasi dunia, dengan 10-20% rasio kematian dari pasien terinfeksi. (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK22148/)

Lantas bagaimana pandemi bisa berlalu?

Flu Spanyol berakhir pada musim panas 1919, karena mereka yang terinfeksi (dan tidak mati) akhirnya bisa mengembangkan kekebalan kawanan (herd immunity). (https://www.biospace.com/article/compare-1918-spanish-influenza-pandemic-versus-covid-19/)

Dan Swedia tengah mengembangkan sistem tersebut di negaranya, karena memang itulah cara yang paling efektif sepanjang sejarah pandemi di dunia. (baca disini) dan (baca disini)

Apakah pandemi C19 sama dengan pandemi flu Spanyol?

“Dibandingkan dengan flu 1918, pandemi C19 tentu tidak seburuk itu,” demikian ungkap Amy Seery, asisten profesor di Kansas University School of Medicine Wichita. (http://www.kansas.com/news/local/article200880539.html)

Hal ini selaras dengan tingkat kematian global yang hanya 1,4%. Artinya hanya 1,4% orang yang terinfeksi SARS-CoV-2 yang berujung pada kematian, sementara sisanya (98,6%) dapat memperoleh kesembuhan. (https://www.worldometers.info/coronavirus/coronavirus-death-rate/)

Bahkan angka kematian C19 jauh lebih sedikit daripada kematian akibat flu musiman terparah yang pernah ada. (https://manber.ch/ArticleShow.aspx=ID250946)

Jadi, silakan simpulkan sendiri, apakah fake pandemic C19 separah Spanish flu pandemic?

Bukan perbandingan apple to apple, Bray..

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!