Bencana Fiktif?

In Sosial Budaya

Bencana Fiktif?

Oleh: Ndaru Anugerah

Belum lama ini, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) merilis laporannya yang dinamakan The Sixth Assessment Report (AR6). Pada intinya, laporan itu memberikan prediksi tentang kerusakan yang akan dialami bumi dipicu oleh pemanasan global. (https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg1/)

Anda bisa baca sendiri laporannya, karena saya sudah kasih link-nya di atas.

Ada beberapa hal yang bisa dicermati tentang laporan tersebut. Pertama tentang perubahan suhu permukaan secara global. (lihat gambar dibawah)

Yang kedua tentang proyeksi emisi masa depan. (lihat tabel dibawah)

Apa yang bisa dicermati?

Bahwa dari prediksi yang dibuat IPCC, maka dari tahun 2021 hingga 2040, paling parah akan terjadi kenaikan suhu sebesar 1,6°C.

Pada 2041 hingga 2060, paling parah akan ada kenaikan suhu sebesar 2,4°C.

Sedangkan pada tahun 2081 hingga 2100, paling parah akan ada terjadi kenaikan suhu sebesar 4,4°C.

Itu skenario terparah, yang katanya disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari bahan bakar fosil oleh aktivitas manusia.

Sedangkan prediksi terbaik, peningkatan suhu permukaan bumi pada tahun 2081 hingga 2100 mendatang, hanya sekitar 2,7°C.

Dengan kata lain, skenario yang difabrikasi media mainstream bahwa pemanasan global akan membawa kehancuran pada bumi dalam waktu dekat, terbantahkan dengan laporan IPCC tersebut.

Itu jelas lebay!

Bahkan pejabat PBB sendiri mengeluarkan status Code Red for Humanity menanggapi laporan yang dirilis IPCC tersebut. Pesan yang ingin disampaikan: ‘Nggak ada tempat yang aman di planet yang tengah memanas ini’. (https://www.bbc.com/news/science-environment-58130705#:~:text=The%20landmark%20study%20warns%20of,if%20the%20world%20acts%20fast.)

Pertanyaannya: lembaga sekelas PBB, pejabatnya ngerti baca data apa matanya sudah kena katarak?

Apa tujuan sebenarnya yang ingin dicapai?

Mirip-mirip plandemi yang hanya menebar ketakutan, mereka mau bilang akan bahaya yang mengancam iklim, dapat menempatkan hidup manusia dalam bahaya.

Itu memang skenario-nya. Tebar dulu ketakutan melalui media, lalu muncullah solusi yang mereka tawarkan atas masalah ‘fiktif’ tadi.

Memang apa solusi yang ditawarkan?

Nggak lain adalah Kesepakatan Hijau Baru alias New Green Deal (NGD). Asal tahu saja, bahwa proposal NGD yang dirilis pada 2019 silam, sangat boros biaya bahkan sangat nggak masuk akal. (https://mishtalk.com/economics/aoc-s-green-new-deal-pricetag-of-51-to-93-trillion-vs-cost-of-doing-nothing)

Ini selaras dengan estimasi yang dibuat oleh genk Davos pada 2015, bahwa kurleb dibutuhkan dana USD 90 triliun untuk mendesain ulang semua kota yang ramah lingkungan, dimana kelak mobil tidak lagi dibutuhkan. (https://www.weforum.org/agenda/2015/02/can-we-design-cities-that-dont-need-cars/)

Itu yang bakal mereka tawarkan sebagai solusi, agar manusia nggak punah oleh karena pemanasan global yang kian hari makin tak terkendali.

Bagi pengamat geopolitik harusnya sudah paham bahwa sang Ndoro besar memang hendak membentuk tatanan dunia baru yang berkelanjutan, dengan dalih adanya pemanasan global. (baca disini, disini dan disini)

Kembali ke laptop.

Bagaimana kita melihat laporan yang dibuat IPCC tersebut?

Pertama, seperti yang pernah saya ulas, bahwa laporan itu bisa dibilang cacat. Puluhan fisikawan dan ilmuwan iklim top dunia, sebelumnya mematahkan klaim yang dibuat IPCC. “Bukan emisi karbon dioksida yang memicu pemanasan global, tapi matahari.” (baca disini)

Kedua, kalopun betul klaim yang dibuat IPCC, masuk akal nggak sih kita harus mengeluarkan dana yang sangat besar guna menanggulangi kenaikan suhu hingga 2,7°C di tahun 2100 nanti?

Silakan anda menalar laporan IPCC tersebut.

Sebagai penutup, coba anda lihat apa yang dikatakan Al Gore pada 2009 silam, “Arktik akan bebas es dalam 5 tahun mendatang.” (https://www.youtube.com/watch?v=MsioIw4bvzI&t=11s)

Apakah itu terbukti?

Nyatanya justru sebaliknya. Es di Arktik bukannya meleleh seperti ramalan lebay Al Gore, tapi malah makin menebal. (https://wattsupwiththat.com/2018/12/16/ten-years-ago-algore-predicted-the-north-polar-ice-cap-would-be-gone-inconveniently-its-still-there/)

Monmaap: apalah anda masih mau ditakut-takuti?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu