Akhiri Scamdemic

In Politik

Akhiri Scamdemic

Oleh: Ndaru Anugerah

Utusan khusus WHO untuk C19, Dr. David Nabarro dalam sebuah sesi wawancara (11/10) bilang kalo lockdown bukan cara efektif dalam mengendalikan si Kopit, (https://pandemic.internationalsos.com/reports/who-official-states-lockdown-policies-not-helpful-to-public-health-oct-11-2020)

Kami di WHO tidak menganjurkan lockdown sebagai cara utama dalam mengendalikan virus karena hal itu akan berdampak buruk pada kemiskinan yang disebabkannya,” ungkap Dr. Nabarro.

Bukan itu saja.  Dr. Nabarro juga bilang bahwa lockdown harus segera diakhiri.

Kenapa WHO tiba-tiba bisa mengeluarkan pernyataan tersebut? Padahal Tedros pada Maret lalu menyatakan bahwa lockdown adalah cara terbaik dalam menghentikan penularan virus, sehingga diharapkan virus Kopit nggak muncul lagi?

Maka banyaklah yang bertanya kepada saya untuk cari tahu jawabannya, ada apa sebenarnya dibalik keluarnya pernyataan kontroversial tersebut. “Baca di media nggak ketemu jawabannya, bang,” kurleb ungkap mereka.

Ok, saya coba membahasnya.

Anda pernah dengar Deklarasi Great Barrington? Kalo belum pernag dengar, silakan baca ulasan saya sebelumnya. (baca disini)

Secara singkat, Deklarasi Great Barrington yang diteken pada 4 Oktober yang lalu oleh American Institute for Economic Research (AIER) merupakan sebuah petisi yang didukung oleh banyak ilmuwan kesehatan masyarakat dan juga ahli epidemiologi. Isinya mendesak pemerintah untuk ambil kebijakan terfokus daripada lockdown dalam pandemi si Kopit. (https://en.wikipedia.org/wiki/Great_Barrington_Declaration)

Terus solusinya apa?

Tinggalkan lockdown dan ambil kebijakan herd immunity yang terbukti efektif di Swedia, sambil melindungi kelompok rentan terhadap infeksi si Kopit. (https://au.news.yahoo.com/who-coronavirus-lockdown-u-turn-221105275.html)

Tak disangka-sangka, petisi tersebut punya kekuatan tekan yang lumayan mumpuni hingga kemudian didengar suaranya oleh WHO.

Sehari kemudian (5/10) petinggi WHO yang terdiri dari 34 anggota dewan ekskutif buat konpers yang menggelegar. Intinya, virus Corona tidak lebih mematikan atau lebih berbahaya ketimbang flu musiman. (https://apnews.com/article/virus-outbreak-archive-united-nations-54a3a5869c9ae4ee623497691e796083)

Tentang ini, saya udah bilang jauh-jauh hari. Tapi selalu dibilang teori konspirasi. Dan terbukti analisa saya benar lagi, bukan? (baca disini, disini, dan disini)

Kembali ke laptop.

Apa dasarnya sehingga WHO bisa punya pemikiran tersebut?

Dr. Michael Ryan selaku Kepaala Keadaan Darurat WHO mengatakan bahwa pihaknya yakin telah ada sekitar 10% populasi dunia yang sudah terinfeksi si Kopit. Angka tersebut menurut Margaret Harris, selaku jubir WHO didapat dari studi seroprevalensi yang dilakukan di seluruh dunia. (https://swprs.org/studies-on-covid-19-lethality/)

Sebagai gambaran umum, saat ini populasi dunia mencapai 7,8 milyar. (https://en.wikipedia.org/wiki/World_population) Dengan 10% terinfeksi, artinya ada sekitar 780 juta kasus. Sementara data resmi menyatakan hanya sekitar 38 juta kasus infeksi di dunia. (https://www.worldometers.info/coronavirus/)

Singkatnya, ada ketidak sesuaian data proyeksi dan data real.

Lantas bagaimana dengan tingkat kematian (IFR) di dunia? Angkanya mencapai 1.082.272. Dengan kata lain, tingkat kematian akibat infeksi si Kopit hanya sekitar 0,14%. Ini sejalan dengan kasus flu musiman dan juga prediksi banyak ahli di seluruh dunia. (baca disini, disini dan disini)

Konyol bukan?

Karena pada Maret yang lalu, WHO ngotot bahwa proyeksi angka kematian akibat infeksi si Kopit mencapai 3,4%. Dan berbekal pada data inilah, makanya WHO menganjurkan lockdown kepada banyak negara di dunia. (https://www.sciencemediacentre.org/expert-reaction-to-who-director-generals-comments-that-3-4-of-reported-covid-19-cases-have-died-globally/)

Angka 0,14% sebenarnya jauh lebih rendah dari estimasinya, mengingat data yang terekam bisa jadi dimanipulasi (dengan menyatakan semua kematian karena si Kopit atau merekayasa sertifikat kematian pasien).

Artinya angka real-nya bisa dibawah 0,14% yang berarti si Kopit sama sekali nggak lebih berbahaya apalagi lebih mematikan daripada penyakit flu biasa. (https://off-guardian.org/2020/07/17/uk-govt-finally-admits-covid-statistics-are-inaccurate/)

Apakah masalah ini diangkat oleh media mainstream yang biasa menjadi agen kepanikan dari elite global? (https://www.dailymail.co.uk/news/article-8806669/760MILLION-people-Covid-19-predicts-10-caught-disease.html)

Jadi apa yang bisa disimpulkan?

Benar adanya kalo si Kopit nggak berbahaya apalagi mematikan. Itu yang buat pernyataan WHO lho ya, bukan saya. Jadi jangan tuding saya dengan teori konspirasi lagi, mengingat WHO merupakan badan kesehatan dunia yang selama ini dijadikan rujukan anda, bukan?

Kalo melakukan perhitungan proyeksi matematis sederhana saja nggak bisa, lantas apa masih relevan jika WHO kembali buat kebijakan kontroversial dan kita masih mau mengikutinya?

Satu yang penting, akhir segera scamdemic ini!

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Charlie Hebdo (*Bagian 1)

Charlie Hebdo (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Paris, 7 Januari 2015. Tiga pria menggunakan masker dan melakukan penyerangan di kantor majalah

Read More...

Ketika Sains Tergadaikan

Ketika Sains Tergadaikan Oleh: Ndaru Anugerah Pada awal Oktober silam, New England Journal of Medicine (NEJM) buat ulasan editorial yang isinya

Read More...

Upaya Menutup Kembali

Upaya Menutup Kembali Oleh: Ndaru Anugerah Pagi ini saya dapat kabar bahwa 3 orang tewas akibat serangan yang menggunakan pisau di

Read More...

3 commentsOn Akhiri Scamdemic

  • Terima kasih tulisan2 bapa, menjadi bahan referensi saya jika ada yg menanyakan tentang pandemic beberapa bulan ini di lingkungan kecil saya di bandung, saya selalu memegang apa yg bapa tulis dan percaya yg bapa tulis selalu konskuen tidak pernah mundur dan berubah, selalu a tidak pernah b atau c dari pertama pandemic terima kasih sekali..

  • Andi Rafi Aprisaldi

    Tp WHO tetap tolak herd immunity min karena bermasalah secara ilmiah menurut mereka.

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo