Upaya Mengepung Kremlin

In Politik

Upaya Mengepung Kremlin

Oleh: Ndaru Anugerah

Tok-tok-tok. Sah sudah hasil pilpres di Belarusia. Alexander Lukashenko berhasil memenangkan kontestasi dengan angka telak 80,23%. Sedangkan penantangnya Svetlana Tikhanovskaya yang merupakan mamud alias mama muda (37 tahun), dipaksa keok dengan torehan suara 9,9% saja. (https://www.aljazeera.com/news/2020/08/belarus-lukashenko-wins-election-marred-protests-200810065033575.html)

Dengan terpilihnya kembali Lukashenko, artinya presiden tersebut sudah 25 tahun berkuasa di Belarusia sejak 1994 silam alias 6 periode masa jabatan presiden. (https://www.dw.com/en/alexander-lukashenko-wins-belarus-election/a-54506718)

Begitu hasil pilpres diumumkan, langsung memicu kerusuhan di Belarusia. Apa sebabnya?

Tikhanovskaya-lah penyebabnya. Sebelum pilpres digelar, istri seorang vlogger Youtube kondang Belarusia (Sergei Tikhanovsky) yang nggak punya pengalaman politik itu, sudah jauh-jauh menyerukan bahwa inilah saatnya pergantian rezim di Belarusia dilakukan.

Akibatnya, massa pendukung Tikhanovskaya turun ke jalan, guna meneriakkan tuntutan demokratisasi guna terjadinya pergantian rezim di Belarusia. Sayangnya, jumlahnya nggak signifikan, hanya ratusan saja. (https://www.euronews.com/2020/05/25/belarus-hundreds-protest-in-minsk-against-president-lukashenko)

Ditambah dengan hasil pilpres yang jeblok, maka Tikhanovskaya makin gelap mata. “Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa mayoritas pemilih di Belarusia telah mendukung kami. Kenapa kami bisa kalah telak?” ungkapnya kepada publik. (https://krdo.com/news/national-world/2020/08/10/protests-in-belarus-as-disputed-early-election-results-give-president-lukashenko-an-overwhelming-victory/)

Artinya apa?

Tikhanovskaya cuma mau bilang bahwa pilpres telah berlangsung penuh kecurangan.

Benarkah? Dan apa implikasi berikutnya?

Saya coba jelaskan.

Apa sih posisi penting Belarusia secara politis?

Selama ini Belarusia merupakan zona penyangga antara Rusia dan NATO. Jarak antara Belarusia dan Rusia juga hanya sepelemparan lembing. Karena posisinya yang sangat dekat dengan Rusia inilah yang menjadikan Belarusia amat penting bagi Rusia.

Nggak aneh bila Rusia menggandeng Belarusia sebagai sekutunya. (https://eurasiangeopolitics.com/2015/06/01/why-the-west-should-be-pushing-for-a-buffer-zone-between-russia-and-nato/)

Dilain pihak, Belarusia juga penting bagi AS dan sekutunya, guna menghancurkan kekuatan Kremlin yang sudah sangat dekat jaraknya dari Belarusia. Namun sayangnya, kedekatan Rusia dan Belarusia makin membuat AS gigit jari dari hari ke hari.

Nggak aneh saat terjadi ketegangan antara Rusia dan Belarusia tentang pengiriman minyak dan perpanjangan kontrak pada akhir 2019, Washington buru-buru menawarkan pasokan alternatif bagi Belarusia.

Pompeo mengatakan, “AS ingin membantu Belarusia membangun negaranya secara berdaulat. Produsen energi kami siap mengirimkan 100% minyak yang anda butuhkan dengan harga bersaing.”

Pompeo menambahkan, “Belarusia tidak boleh dipaksa untuk bergantung pada satu mitra untuk kemakmuran atau keamanan nasional negaranya.” (https://www.dw.com/en/us-pledges-full-energy-supply-to-belarus/a-52227273)

Namun sayangnya, tawaran AS kembali ditampik Belarusia. Kontrak minyak antara Belarusia dan Rusia kembali ditandatangani. Padahal Pompeo sudah susah-susah datang ke Belarusia. (https://neftegaz.ru/en/news/energy/524656-russian-gazprom-neft-ready-to-negotiate-oil-deliveries-to-belarus/)

Aliasnya, nggak mungkin kedekatan antara Rusia dan Belarusia dipisahkan dengan cara memberi iming-iming minyak murah, sekalipun. Kalo rencana diplomasi gagal, maka langkah kedua pasti dikeluarkan, yaitu menggerakkan revolusi warna di Belarusia.

Tentang modus revolusi warna ala AS, saya sudah bahas dengan lengkap. (baca disini dan disini)

Dan momen yang paling tepat untuk mengeksekusi rencana tersebut adalah saat pemilu digelar. Bahasa yang dilontarkan-pun hasil copasan, “Pemilu curang. Saatnya pergantian rezim.”

Dan saat petugas keamanan mulai melakukan tindakan represif guna membubarkan aksi demonstrasi, maka secara berjamaah media mainstream dan LSM berbasis HAM dan Demokratisasi (yang bermuara ke NED dan Open Society) langsung buka suara dengan berteriak lantang, “Telah terjadi pelanggaran HAM secara masif oleh negara yang represif.”

Begitulah kurleb modus operandinya.

Solusinya apalagi selain rezim yang katanya represif tersebut harus dilengserkan dengan kekuatan massa.

Apakah terjadi kecurangan hasil pilpres di Belarusia? Hasil kemenangan mutlak yang diperoleh Lukashenko adalah jawabannya. Lain halnya kalo hasil kemenangannya beda tipis. (https://www.newsnow.com/us/World/Europe/Eastern+Europe/Belarus/Politics?type=ln)

Wajar jika kemudian presiden Lukashenko mengatakan, “Ada perang hibrida yang sedang dilancarkan terhadap Belarusia oleh kekuatan asing.” Tentu saja yang dimaksud adalah AS lewat aktivis oposan yang telah mengklaim telah terjadi kecurangan pada hasil pilpres. (https://www.wsj.com/articles/belarus-votes-after-waves-of-arrests-ahead-of-pivotal-election-11596978557)

Sebenarnya bukan hanya hubungan dengan Rusia saja yang buat AS dan elite global kesal dengan Belarusia. Pada pandemi abal-abal si Kopit ini saja, Lukashenko juga mentah-mentah menolak lockdown. “Nggak ada Corona di Belarusia. Bahkan virus itupun nggak ada,” ungkapnya sambil tertawa. (https://www.youtube.com/watch%3Fv%3DFEDqjY5WkcQ)

Ajaibnya, tanpa lockdown sekalipun tingkat kematian akibat si Kopit di Belarusia terbilang kecil Tercatat hanya 603 kematian per hari ini (16/8). (https://www.worldometers.info/coronavirus/country/belarus/)

Coba anda bayangkan saat anda merancang bahwa si Kopit dipersepsikan oleh media mainstream sebagai virus yang mematikan. Eh tahunya boro-boro dianggap eksis, malah diketawain. Apa nggak kurang ajar, namanya?

Apakah presiden Lukashenko akan tumbang oleh gerakan revolusi warna yang kini digelar di Belarusia? Nggak semudah itu, Rudolfo.

Saat berhasil memenangkan pilpres, Lukashenko langsung dapat ucapan selamat dari presiden Putin. “Kami mengharapkan hubungan antara kedua negara yang saling menguntungkan, supaya bisa lebih erat lagi ke depannya.” (https://www.vesti.ru/article/2438592)

Seolah Putin mau bilang kalo hubungan Rusia dan Belarusia nggak akan mudah untuk dihancurkan, bahkan dengan revolusi warna murahan ala AS sekalipun.

Dilain sisi, AS langsung mengamankan aset berharganya sebagai simbol perjuangan, Svetlana Tikhanovskaya, saat tahu bahwa revolusi warna akan berujung pada kegagalan. Tikhanovskaya langsung ‘dilarikan’ ke Lithuania. (https://news.sky.com/story/embattled-belarus-president-is-no-longer-a-legitimate-leader-says-lithuanian-counterpart-12048705)

Kenapa harus Tikhanovskaya perlu dilarikan? Apa rencana selanjutnya?

Saya akan bahas pada lain tulisan.

Anyway, optimize the long weekend you have, as much as you can.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yaman: Tinjauan Geopolitik

Yaman: Tinjauan Geopolitik Oleh: Ndaru Anugerah Seorang bertanya kepada saya, “Kenapa nggak pernah bahas soal Yaman, Bang?” Sekali lagi, bukan saya pilih-pilih

Read More...

Go to Hell with Your Aid

Go to Hell with Your Aid Oleh: Ndaru Anugerah “Bang, pernah nggak Indonesia punya sosok presiden yang berani menentang hegemoni Barat?”

Read More...

Biarkan Data Bicara

Biarkan Data Bicara Oleh: Ndaru Anugerah Adakah orang yang meninggal akibat menggunakan vaksin Big Pharma? Bukan ada lagi. Banyak adalah kata yang

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu