Terus yang Disuntik, Apa?


518

Terus yang Disuntik, Apa?

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada beberapa bulan terakhir, ratusan video amatir bermunculan di kolong jagat media sosial yang menampilkan orang yang punya gejala magnetik pada dirinya setelah divaksinasi si Kopit.

Bahkan seorang Dr. Sherri Tenpenny angkat bicara dengan menyatakan kebenaran kabar tersebut. “Orang menjadi punya daya magnet setelah divaksin,” begitu kurleb-nya. (https://nymag.com/intelligencer/2021/06/hot-new-conspiracy-theory-vaccines-turns-you-into-a-magnet.html)

Menanggapi fenomena itu, media mainstream kelabakan buat counter atas pemberitaan yang menyudutkan program sang Ndoro besar tersebut. Mulailah ‘amunisi’ ditembakkan, dari mulai julukan hoax hingga teori konspirasi bagi mereka yang percaya pada hal tersebut.

Menariknya, sekelompok orang yang mengatasnamakan European Forum for Vaccine Vigilante (EFVV) akhirnya buat penelitian sederhana (berupa survei) terhadap masalah yang viral tersebut, secara khusus di Luxemburg yang ada di Benua Biru. (https://www.efvv.eu/images/content/2021/0617/study-on-electromagnetism-of-vaccinated-persons-in-luxembourg_6edfa.pdf)

Jadi survei yang murni statistik dan sosiologis tersebut mengajukan 3 pertanyaan dasar.

Pertama apa benar orang dapat menunjukkan efek magnetik setelah divaksin Kopit?

Kedua, apa benar hanya individu yang divaksin yang dapat menunjukkan efek magnetik, sementara yang tidak divaksin tidak menunjukkan gejala?

Dan ketiga, kalo ini benar, maka apa sebenarnya yang disuntikan pada seseorang, sehingga dapat menimbulkan efek magnetik?

Singkat cerita, survei dilakukan dan dipimpin oleh Amar Goudjil yang sudah berpengalaman di bidang demografi dan sosiologi tersebut.

Desain penelitian dibuat, dimana 200 orang yang tinggal atau bekerja di Luxemburg akan diminta kesediaannya untuk wawancara. 100 orang yang divaksin, dan 100 lainnya yang tidak divaksin. Dan ditiap kelompok harus ada 50 orang laki-laki dan 50 orang perempuan.

Sebagai tambahan, hanya orang yang mengenakan pakaian berlengan pendek atau tanpa lengan, yang akan diwawancara. Ini logis, mengingat suntikan dilakukan di daerah lengan, bukan?

Setelah dieksekusi, pelaksanaan di lapang, nggak sesuai dengan desain penelitian yang dirancang sebelumnya. Banyak kendala yang ditemukan.

Hanya 30 orang yang divaksin dan 30 orang yang tidak divaksinasi yang akhirnya bersedia melakukan proses wawancara, dengan distribusi gender yang seimbang.

Apa hasilnya?

Pada 30 orang yang tidak mendapatkan suntikan vaksin si Kopit, tidak ada yang menunjukkan efek magnetik.

Sementara pada 30 orang yang sudah divaksin Kopit, 29 menunjukkan gejala magnetis. Dengan kata lain, magnet akan menempel pada kulit mereka tanpa kesulitan.

Dan dari 29 orang tersebut, 22 memiliki medan magnet yang hanya ada pada bekas suntikan mereka, Perlu anda ketahui, bahwa ke-22 orang tersebut, baru mendapatkan dosis satu kali suntikan.

Sementara 7 orang yan telah disuntik lengkap (alias sebanyak 2 kali), memiliki magnet yang menempel pada kedua area lengan dan bahunya, dimana suntikan dilakukan.

Pertanyaan selanjutnya, mereka yang disuntik tersebut, menggunakan vaksin apa?

Tentu saja vaksin-vaksin Big Pharma.

Menanggapi temuan tersebut, orang yang menerima vaksin tersebut langsung shock. Siapa juga yang nggak kaget melihat kenyataan yang ada pada diri mereka yang tiba-tiba berubah secara drastis setelah suntikan diberikan.

“Apa anda yang kaget kalo diri anda berada pada posisi mereka?”

Itu yang buat survei bukan saya, tapi European Forum for Vaccine Vigilante. Dan memang harus ada penelitian lebih lanjut untuk menjawab hal tersebut.

Yang perlu ditanyakan: kalo vaksin Big Pharma (jika ternyata akhirnya terbukti) bisa menimbulkan gejala magnetik pada tubuh seseorang, lalu bahan yang dipakai apaan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!