Siapa Penjahat Perangnya?

In Politik

Siapa Penjahat Perangnya?

Oleh: Ndaru Anugerah

Pasukan AS menggunakan helicopter Apache untuk menjatuhkan balon termal pada ladang gandum yang terletak di provinsi Hasaka, Suriah.

Aksi ini sukses menghancurkan gandum dan jelai Suriah yang merupakan galur murni dan bukan galur buatan yang dimodifikasi secara genetik (GMO) seperti yang diperkenalkan AS ke seluruh dunia.

Jumlah luas area yang terbakar mencapai 300 hektar, meliputi daerah Aleppo, Raqqa, Hasaka, Daraa dan Suwayda yang merupakan sumber lumbung pangan Suriah. Semuanya telah menjadi abu.

“Penghancuran tanaman pangan tersebut dilakukan setelah serdadu AS menerima perintah langsung dari Donald Trump,” begitu ungkap sebuah sumber. (https://www.ibtimes.sg/trump-ordered-us-forces-burn-hectares-wheat-field-syria-amid-covid-19-pandemicrussia-media-45482)

Tentang ini saya nggak terlalu kaget. Kenapa? Pada tulisan saya terdahulu mengenai Suriah, saya katakan bahwa Suriah masih jauh dari status damai, walaupun pihak pemerintah Assad berhasil memukul mundur jihadis binaan AS dari tanah Suriah. (baca disini)

“Suriah secara geopolitik merupakan busur yang efektif dalam menghantam posisi pertahanan Israel. Dan busur itu perlu dipatahkan, apapun taruhannya.” (baca disini)

Apa yang membuat pasukan AS menjadi demikian brutal disaat pandemi C19 melanda dunia?

Pernah dengar HR.31 116th Congress?

Itu merupakan RUU yang dipaksakan kepada Kongres oleh pemerintahan Trump yang isinya penetapan sanksi tambahan dan pembatasan keuangan pada institusi dan individu yang terkait dengan konflik di Suriah. (https://www.congress.gov/bill/116th-congress/house-bill/31)

Teknisnya, Departemen Keuangan AS akan menentukan apakah Bank Sentral Suriah adalah lembaga keuangan yang terkait dengan upaya pencucian uang atau tidak.

Kenapa AS ujug-ujug jadi ‘tertarik’ dengan Bank Sentral Suriah?

Ya karena Bank Sentral Suriah merupakan salah satu bank sentral di dunia yang tidak tersentuh jaringan Rothschild. Nggak aneh kalo dipermasalahkan, karena menyangkut alasan tadi. (https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Countries_without_Rothschild_Bank.png)

Kedepannya, peran Bank Sentral Suriah akan mendapat tantangan besar karena masih dimiliki oleh pemerintahan Suriah.

Apalagi isi RUU tersebut?

Presiden AS akan menjatuhkan sanksi kepada orang asing yang: (1) memberikan dukungan finansial atau terlibat dalam transaksi yang signifikan dengan pemerintah Suriah atau mereka yang bertindak atas nama Suriah, Rusia ataupun Iran; atau (2) secara sadar bertanggungjawab atas pelanggaran HAM yang serius terhadap rakyat Suriah. Siapa lagi kalo bukan Bashar Assad yang disasar atas perlakuannya terhadap suku Kurdi.

RUU tersebut juga akan menjatuhkan sanksi kepada siapa saya yang secara sadar menyediakan berbagai barang atau jasa ke Suriah, seperti pesawat untuk militer dan teknologi untuk memproduksi minyak bumi.

Apa sanksinya?

Pemblokiran transaksi keuangan dan juga pembatasan perjalanan masuk ke AS.

Namun anehnya, sanksi tersebut tidak berlaku untuk kegiatan yang terkait dengan pemberian bantuan kemanusiaan ataupun mendukung lembaga-lembaga demokrasi di Suriah. Saya yakin pembaca tahu apa yang dimaksudkan oleh AS sebagai lembaga-lembaga demokrasi tersebut.

Dan terakhir, presiden AS dapat menangguhkan sanksi dalam kondisi tertentu, jika itu menyangkut kepentingan keamanan nasional AS. Karenanya, pemerintah AS berwenang untuk membantu entitas yang melakukan investigasi kriminal dan pengumpulan bukti untuk menuntut mereka yang bertanggungjawab atas kejahatan perang di Suriah.

Ini juga kita tahu siapa yang bakal disasar.

Singkatnya RUU tersebut berbicara tentang kejahatan perang dimata AS. Lha kan lucu, siapa juga yang sebenarnya telah melakukan kejahatan perang?

Apakah membakar ladang gandum ditengah pandemi C19, bukan kejahatan perang? Bukankah memberikan pasokan senjata dan peralatan logistik ke pihak jihadis yang dilakukan AS guna mencuri minyak di Suriah dan sumber daya alam lainnya, juga merupakan kejahatan perang?

Jadi, sah-sah saja bagi AS untuk membombardir ladang gandum Suriah berbekal RUU tersebut, karena alasan kejahatan perang tadi. Aliasnya, maling teriak maling.

Menanggapi pembakaran tersebut, PBB hanya bersikap prihatin, sama kek boss Cikeas. “Tindakan ini patut disayangkan disaat epidemi C19,” begitu kurlebnya. Kalo gitu doang mah nggak perlu PBB untuk bicara, biarlah pak Beye yang mencuit lewat akun twitter-nya juga bisa.

Akibat dari aksi pembakaran tersebut, diperkirakan sekitar 9,3 juta rakyat Suriah bakal mengalami rawan pangan dan kelaparan. Ini bisa terjadi, karena gandum itu ibarat padi di Indonesia yang jadi sumber makanan utama. “Daging terlalu mahal bagi kebanyakan rakyat Suriah.”

Harapan terakhirnya adalah, dengan pembakaran ladang gandum tersebut rakyat akan kelaparan dan orang yang busung lapar akan lebih rentan terkena infeksi penyakit, termasuk C19, bukan?

Kesimpulannya: siapa penjahat perang sesungguhnya?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Tuding Mereka Dengan Teori Konspirasi

Tuding Mereka Dengan Teori Konspirasi Oleh: Ndaru Anugerah Saat rencana besar elite global mulai terkuak oleh sekelompok orang dengan memaparkan beberapa

Read More...

Bukan Anti-Mainstream

Bukan Anti Mainstream Oleh: Ndaru Anugerah Razia pada warga yang tidak menggunakan masker, mulai masif digelar. Setidaknya di Jakarta. Sanksi yang

Read More...

Deklarasi Balfour: Entry Point

Deklarasi Balfour: Entry Point Oleh: Ndaru Anugerah Bagaimana negara Israel bisa terbentuk? Siapa yang menjadi sponsornya? Mungkin anda pernah dengar tentang Deklarasi

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo