Sapi Perah Paman Sam


513

Sapi Perah Paman Sam

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, kenapa nggak sekali-sekali nggak bahas soal Brunei?” tanya seorang netizen.

Apa yang saya bahas, pakai skala prioritas. Jadi mana yang duluan minta, akan saya ulas berdasarkan tingkat penting atau tidaknya.

Nah mumpung sekarang saya punya waktu, saya akan bahas pertanyaan yang lama terbengkalai tersebut.

Adalah seorang jurnalis investigatif bernama Wayne Madsen yang mengulas secara detil tentang negara yang ada di tepi atas Kalimantan tersebut. (https://www.strategic-culture.org/news/2013/10/10/brunei-america-east-pacific-cash-cow-and-military-base/)

Menurutnya, Brunei sejak memperoleh kemerdekaannya dari Inggris di tahun 1984, telah menjadi negara sapi perah AS.

Madsen mengatakan bahwa Brunei telah secara diam-diam mendukung gerakan kontra Nikaragua selama pemerintahan Reagan, menyokong dana pertahanan Bosnia yang disokong oleh CIA pada tahun 1990-an, dan juga menggelontorkan dana jumbo ke Yayasan Bill Clinton yang ada di Little Rock, Arkansas.

CIA sendiri melihat Brunei sebagai negara kaya minyak dan menganggapnya sebagai elemen terpenting dalam menjalankan misi rahasianya di kawasan Asia dan sekitarnya.

Tentu saja yang dimaksud elemen penting adalah soal dana segar yang selalu siap digelontorkan jika CIA punya hajat.

Tentang kedekatan Brunei dengan presiden-presiden AS juga sudah menjadi rahasia publik.

Ambil contoh Barack Obama. Saat Obama bekerja pada Business International Corporation yang terkoneksi front CIA di Manhattan, hubungannya dengan Brunei sudah dimulai. (https://www.scoop.co.nz/stories/HL1009/S00027/obama-and-his-family-tied-to-cia-for-years.htm)

Bukan itu saja.

Nenek Obama, Madelyn Dunham juga telah lama menangangi banyak transaksi ‘rahasia’ raja Brunei saat masih bekerja pada Bank of Hawaii. Dan Dunham nggak mungkin bekerja sendiri tanda adanya ‘arahan’ dari pemerintah AS. (http://www.newenglandalliance.org/custom/bca_archives/BCA_2011_01_JanFeb.pdf)

Hubungan militer Brunei dengan AS juga sudah lama terjalin dengan tangan perantara Inggris.

Asal tahu saja, selama Perang Vietnam digelar, pasukan Inggris, AS, Australia dan Selandia Baru punya akses penuh untuk menggunakan hutan yang ada di Brunei (sebelum merdeka) sebagai tempat berlatih pasukan daratnya. (https://www.nytimes.com/1964/07/19/archives/borneobritains-south-vietnam-the-war-between-british-troops-in.html)

Karena dianggap sebagai ‘aset’ berharga, nggak aneh jika Brunei selalu dilindungi dari kepentingan yang ingin menggoyang kepemimpinan sang Sultan.

Nggak aneh saat ada pemberontakan yang bertujuan menggulingkan sang Sultan pada tahun 1962, akhirnya digagalkan oleh CIA. (http://open_jicareport.jica.go.jp/pdf/1000023399.pdf)

Masa iya aset berharga kok dibiarkan untuk digulingkan?

Sejak pemberontakan yang gagal tersebut, Sultan Brunei memerintah dengan tangan besi dan partai politik nggak dibiarkan ada di kesultanan tersebut. Siapa dulu backing-nya?

Apa karena kedekatan dengan AS saja, makanya Brunei dianggap sebagai ‘anak emas’?

Nggak juga.

Kalo kita sudah sebut komponen deep state CIA, maka nggak komplit kalo kita nggak menyebut kartel sang Ndoro besar di dalamnya.

Royal Dutch Shell, selaku kartel minyak Ndoro besar, sudah lama memegang hak monopoli produksi minyak di Brunei. (https://www.jstor.org/stable/27908424)

Bahkan saking kentalnya nuansa monopoli minyak Shell, para pekerja minyak lokal punya bahan becandaan kalo bendera Brunei yang ada unsur warna merah dan kuning, sengaja diambil dari bendera Shell Oil.

Bukan hanya di minyak dan gas, perusahaan konstruksi sang Ndoro, Bechtel Group yang terkoneksi dengan CIA juga punya peran dominan dalam menggarap proyek-proyek infrastruktur yang ada di Brunei. (https://isgp-studies.com/1001-club-membership-list)

Jadi kalo Brunei dijadikan tempat latihan tempur prajurit AS yang ada di Pasifik, ya sang Sultan sudah pasti fine-fine aja. Yang penting posisinya ‘aman’. (https://www.army.mil/article/209957/u_s_army_pacific_conducts_first_army_to_army_exercise_in_brunei)

Dengan semua data yang ada, nggak heran kalo Brunei kini boleh dibilang nggak punya masalah dengan pandemi Kopit karena angka kematiannya hanya 3 orang dan kasus infeksi sebanyak 240. (https://www.worldometers.info/coronavirus/country/brunei-darussalam/)

Wajar.

Mana ada sapi perah dibiarin sakit?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!