Rencana RAND (*Bagian 1)


517

Rencana RAND (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Bagi pengamat geopolitik, siapa yang nggak kenal RAND Corporation?

RAND adalah lembaga think-tank yang cukup berpengaruh di AS yang biasanya bergumul pada ide-ide rekayasa sosial dan teknologi yang akan membentuk suatu tatanan baru pada suatu negara. (https://www.mentalfloss.com/article/22120/rand-corporation-think-tank-controls-america)

Bahkan saking berpengaruhnya, Alex Abella selaku penulis dan pengamat geopolitik kawakan mengatakan, “RAND adalah jantung konspirasi dan keserakahan Pentagon yang telah banyak mengubah dunia modern, namun sedikit orang yang mengetahui jejaknya.” (http://www.sscnet.ucla.edu/polisci/faculty/chwe/austen/abella.pdf)

Nah, RAND belum lama menerbitkan laporan yang dikasih judul: ‘The Internet of Bodies: Opportunities, Risks, and Governance. (https://www.rand.org/pubs/research_reports/RR3226.html)

Apa isi laporan tersebut?

Secara garis besar tentang rencana menerapkan teknologi Internet of Bodies pada manusia.

Apa itu Internet of Bodies (IoB)?

Menurut definisi RAND, IoB adalah perangkat industri yang dikembangkan pada tubuh manusia yang bertugas mengumpukan informasi kesehatan dan pribadi lainnya, yang pada akhirnya akan mengirimkan data tersebut melalui internet.

Jadi untuk menjalankan IoB, butuh perangkat lunak (software), sehingga dapat terkoneksi dengan jaringan internet. Melalui software tersebut, maka akan dikumpulkan data biometrik seseorang, sehingga secara nggak langsung IoB akan mengubah fungsi tubuh manusia.

Dan IoB adalah perangkat penyempurna Internet of Things (IoT) yang selama ini digunakan sebagai sistem sensor biometrik.

Berdasarkan skenarionya, maka RAND akan mengembangkan IoB guna menganalisa materi genetik manusia. (https://unlimitedhangout.com/2020/10/reports/secretive-hhs-ai-platform-to-predict-us-covid-19-outbreaks-weeks-in-advance/)

Jika hal itu diterapkan, maka ke depannya semua fungsi tubuh manusia akan dapat dilacak dan dipantau secara berkala dengan data real time. Dan parahnya, orang bersukacita menyambut teknologi tersebut karena ‘katanya’ menawarkan kenyamanan dan efesiensi.

Padahal orang lupa, bahwa saat teknologi tersebut digunakan, maka ‘pihak tertentu’ akan tahu apapun yang kita lakukan tiap detiknya tanpa ada gangguan sedikitpun.

Apakah ada contohnya?

Anda tahu pil digital yang bernama aripiprazole yang dirilis pada tahun 2017 silam? Dengan pil tersebut, maka dokter akan tahu bahwa anda telah mengkonsumsi obat tersebut atau belum, pakai sistem sensor. Jadi kalo anda nggak minum obat, maka dokter akan mengetahuinya bahkan dari jarak jauh sekalipun. (https://www.accessdata.fda.gov/drugsatfda_docs/label/2017/207202lbl.pdf)

Lalu apa infrastruktur yang digunakan untuk menunjang IoB?

Jaringan 5G salah satunya. (https://needtoknow.news/2018/04/hidden-purpose-behind-5g-wireless-network/)

Bahkan saat ini, jaringan 6G kini tengah dikembangkan guna penyempurnaan proses transfer data, dan banyak ahli memprediksi bahwa di tahun 2030, jaringan tersebut bakal tersedia secara luas. (https://nationalinterest.org/blog/techland/5g-just-arriving-6g-already-works-172631)

Selain itu internet satelit. (https://www.allconnect.com/internet/satellite-internet)

Keduanya diperlukan untuk menyajikan jaringan kontrol dan pengawasan dengan data real time. Jadi nggak akan ada sela seperti saat anda melakukan telekonferensi pakai Google Meetings ataupun Zoom. Yang begituan nggak akan dipakai lagi.

Sedangkan pada tubuh manusia sendiri, nanoteknologi bakal digunakan untuk memanipulasi sel tubuh dan menghubungkannya ke jaringan internet.

Jadi jangan heran kalo beberapa vaksin Kopit (terutama berjenis m-RNA) telah memakai nanoteknologi, guna menunjang program ini. Dan vaksinasi global sangat membantu rencana tersebut. (https://www.news-medical.net/news/20200715/Nanotechnology-plays-major-role-in-COVID-19-vaccine-development.aspx)

Bukankah suatu produk teknologi nggak bisa dipakai kalo nggak ada azas manfaat didalamnya?

Betul sekali.

Menurut klaim yang dilakukan RAND, IoB punya beberapa manfaat potensial diantaranya: memungkinkan akses pelayanan yang lebih luas, memungkinkan pengobatan jarak jauh yang lebih dan lain sebagainya.

Yang namanya ‘mungkin’, bisa benar, bisa juga nggak.

Lantas kenapa RAND menggunakan kata ‘mungkin’?

Karena IoB memang ini masih bersifat eksperimental dan sangat punya kemungkinan salah jika diterapkan secara luas. Sama halnya dengan vaksin percobaan Big Pharma yang kini banyak dipakai dimana-mana. (baca disini dan disini)

Satu yang pasti, bahwa ada kaitan erat antara radiasi dari ponsel dengan berbagai penyakit yang ada pada manusia. Kanker salah satunya. (https://www.theguardian.com/technology/2018/jul/14/mobile-phones-cancer-inconvenient-truths)

Coba anda bayangkan jika IoB yang didukung oleh teknologi dengan tingkat radiasi yang lebih tinggi ditanamkan di dalam tubuh manusia, apa yang bakalan terjadi?

Ini patut dipertanyakan, mengingat belum ada studi jangka panjang dari penggunaan IoB pada tubuh manusia. Kalo memang ada bahaya potensial yang mengancam, siapa yang kelak dimintai pertanggungjawaban?

Blunder, bukan?

Pada bagian kedua nanti, saya akan ulas dengan lebih detil tentang potensi penyalahgunaan dari teknologi IoB tersebut.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!