Vaksin Percobaan (*Bagian 1)

In Sosial Budaya

Vaksin Percobaan (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Apakah vaksin-vaksin Big Pharma yang kini sedang dipakai di banyak negara, merupakan vaksin patent? Ya nggak lah. Itu masih dalam tahap uji coba alias percobaan.

Makanya untuk bisa memakainya, diperlukan Emergency Use Authorization, karena memang sebenarnya belum layak pakai.

“Bisa cerita lebih detil bang tentang vaksin-vaksin percobaan tersebut?” tanya seorang netizen.

Ok saya coba untuk menjawabnya, karena ini saya anggap penting untuk anda ketahui.

Dari sekian banyak vaksin Big Pharma yang lazim dipakai saat ini adalah BNT162b2 pabrikan Pfizer dan BioNTech. (https://www.pfizer.com/news/press-release/press-release-detail/pfizer-and-biontech-announce-vaccine-candidate-against)

Berdasarkan klaimnya, vaksin BNT diurutkan dari genom SARS-CoV-2 iterasi ke-3 yang diterbitkan di Wuhan (MN908947.3). Namun anehnya, kalo itu merupakan genom baru, kok urutan nukleotida yang bersifat unik tidak ditemukan pada vaksin m-RNA tersebut? (https://in-this-together.com/covid-19-evidence-of-global-fraud/)

Atas kejanggalan ini, Frances Leader menanyakan kepada lansgung kepada Pfizer, dan jawabannya sungguh mengejutkan, “Template DNA tidak berasal langsung dari virus yang sudah diisolasi yang diambil dari orang yang terinfeksi.” (https://hive.blog/worldnews/@francesleader/email-exchange-with-uk-mhra-exposing-the-genomic-sequence-of-sarscov2)

Artinya apa? Itu vaksin dikembangkan entah ambil virus darimana. Kalo nggak jelas asalnya, apa bisa mengatasi virus secara spesifik?

Itu yang terjadi dengan vaksin Pfizer. Bagaimana dengan vaksin AstraZeneca-Oxford?

Pada awal Desember, BBC menurunkan laporan tentang sebuah penelitian yang dipublikasi pada jurnal ilmiah The Lancet, yang intinya menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca-Oxford aman dan efektif serta memberikan perlindungan yang mumpuni. (https://www.bbc.co.uk/news/health-55228422)

Ini sekali bias media mainstream.

Apakah benar isi jurnal yang diterbitkan di The Lancet tersebut?

Para peneliti lewat The Lancet menyatakan, “ChAdOx1 nCoV-19 memiliki profil keamanan yang dapat diterima dan terbukti efektif melawan gejala C-19 sebagai analisis sementara pada uji klinis yang sedang berlangsung.” (https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(20)32661-1/fulltext)

Jadi ini hanya analisis sementara.

Lantas bagaimana mungkin BBC dengan lebay-nya mengklaim bahwa vaksinnya dapat memberikan perlindungan yang mumpuni?

Lalu pada bagian jurnal tersebut, para peneliti juga menyatakan, “Tidak ada publikasi peer-review yang tersedia tentang kemanjuran vaksin sindrom pernapasan akut virus Corona 2 (SARS-CoV-2)”

Nah kalo belum melalui proses peer-view alias divalidasi oleh rekan sejawat, mana mungkin isi jurnal tersebut dapat dijadikan rujukan, Bambang?

Dengan kata lain, nggak ada bukti ilmiah yang jelas yang menegaskan bahwa vaksinnya aman dan manjur dalam melawan Kopit seperti yang digembar-gemborkan BBC selaku media mainstream. Itu jelas lebay.

Lalu kalo kita kritisi isi jurnal, siapa yang mendanai penelitian tersebut? Nggak lain adalah CEPI dan Bil & Melinda Gates Foundation.

Klop sudah.

Jadi modus permainannya, uji coba vaksin belum rampung dilakukan, tapi pihak Big Pharma telah merilis dapat yang ‘seolah-olah’ uji cobanya telah rampung dan berhasil.

Dan peran media mainstream adalah mengamplifikasi temuan tersebut biar publik percaya. “Tuh kan, vaksinnya aman dan efektif.” Titik.

Tahu darimana aman dan efektifnya kalo datanya nggak tersedia?

Laporan BBC bukan satu-satunya yang bertindak lebay.

Financial Times (FT) juga melakukan hal yang kurleb sama. Saat regulator Inggris (MHRA) menyetujui vaksin AstraZeneca, FT menyatakan bahwa data akhir uji coba tahap 3 vaksin sudah lengkap dan sedang ditinjau agar vaksinnya bisa digunakan. (https://www.ft.com/content/61938eba-0ca3-436d-a043-89ac80d5c87a)

Setelah membaca laporan FT, publik yang tidak kritis langsung melahap santapan informasi yang tersedia bahwa benar vaksinnya telah memiliki standar uji keamanan yang ketat.

Bahkan NIH AS juga telah menyatakan uji terhadap vaksin buatan AstraZeneca tersebut telah dilakukan dan dilaporkan sebagai uji klinis NCT04516746. Nyatanya setelah dicek laporannya kosong alias datanya tidak tersedia. (https://clinicaltrials.gov/ct2/show/results/NCT04516746?view=results)

Itu baru klaim kosong yang dimainkan oleh media mainstream bahwa vaksin Big Pharma aman dan efektif.

Lalu bagaimana dengan proses uji coba-nya? Apakah berjalan sesuai dengan laporan media mainstream yang bersifat lebay tersebut?

Pada bagian kedua saya akan mengulasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yang Kaya Makin Kaya

Yang Kaya Makin Kaya Oleh: Ndaru Anugerah Kebijakan penutupan alias lockdown yang dipicu oleh hadirnya pandemi, mengakibatkan kebangrutan dan pengangguran secara

Read More...

Misteri MH370

Misteri MH370 Oleh: Ndaru Anugerah 8 Maret 2014. Sebuah pesawat komersial bernomor penerbangan MH370 yang mengangkut 239 penumpang dan awaknya hilang

Read More...

Memang Apa Bahayanya?

Memang Apa Bahayanya? Oleh: Ndaru Anugerah Saya terharu membaca pesan-pesan yang diberikan para pembaca setia saya. Mayoritas mengucapkan rasa terima kasihnya

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu