Saatnya Migrasi


508

Saatnya Untuk Migrasi

Oleh: Ndaru Anugerah

Sejak 2019, rumor tentang pengintegrasian Facebook, Instagram dan WhatsApp sudah santer terdengar. Dan rumor itu kemudian dikonfirmasi oleh Zuckerberg (30/1). “Ini dilakukan untuk mempermudah pengguna mengirim pesan di seluruh aplikasi milik Facebook Group,” ungkapnya. (https://www.cnbcindonesia.com/news/20190126075910-4-52465/whatsapp-instagram-fb-messenger-bakal-disatukan)

Jadi kalo sekarang terealisasi, itu lumrah. Namun ada yang nggak lumrah.

Baru-baru ini Facebook yang mengakuisisi WhatsApp buat kebijakan baru yang memungkinkan data yang tersimpan di WhatsApp akan terintegrasi dengan Facebook.

Pada tataran teknis, informasi seperti nama, gambar profil, daftar nomor telpon, status, hingga data rinci seperti jenis telpon yang digunakan pemilik akun akan ‘ditarik’ ke Facebook.

Dan celakanya, siapapun yang berbisnis di WhatsApp, informasi tentang alamat pengiriman, pembelian, jumlah uang yang dibelanjakan akan otomatis menjadi miliki Facebook.

Dan ini efektif paling lambat pada tanggal 8 Februari 2021 yang akan datang. Kalo anda nggak setuju terhadao kebijakan tersebut, maka akun WhatsApp anda akan di non-aktifkan. (https://www.rt.com/news/511840-whatsapp-surveillance-policies-facebook/)

Menanggapi kebijakan tersebut, pengguna WhatsApp meradang karena kebijakan tersebut dianggap sudah kelewat batas. Walhasil banyak pengguna aplikasi media sosial tersebut yang melakukan migrasi massal. Siapa juga yang bersedia data pribadinya ditarik dan dibagikan? (https://tekno.kompas.com/read/2021/01/11/07030047/karena-whatsapp-pengguna-baru-telegram-dan-signal-meningkat-drastis)

Di Turki, pihak berwenang malah menyelidiki kebijakan tersebut, dan menyerukan agar kebijakan tersebut ditangguhkan hingga investigasi selesai dilakukan.

“Aplikasi asing dapat menimbulkan risiko keamanan yang serius,” ungkap pejabat berwenang. (https://www.euronews.com/2021/01/11/turkey-investigates-whatsapp-and-facebook-over-data-privacy-update)

Bahkan Telegram sebagai kompetitor menyatakan melalui sang CEO Pavel Durov, “WhatsApp akan digunakan sebagai kuda Troya untuk memata-matai anda.” (https://www.rt.com/news/474043-durov-delete-whatsapp-surveillance/)

Dan lucunya, hanya beberapa hari setelah meluncurkan kebijakan baru tersebut, WhatsApp berhasil dijebol dimana grup obrolan pribadi langsung diindeks di mesin pencari Google. Ini jelas memalukan. (https://www.rt.com/news/512116-whatsapp-private-groups-google/)

Padahal awalnya WhatsApp dirilis dengan konsep menghormati privasi data para penggunanya. (https://www.rt.com/news/357203-whatsapp-facebook-data-privacy/)

Lantas, benarkah apa yang ditakutkan oleh para pengguna aplikasi media sosial tersebut?

Untuk ini, anda perlu tahu apa itu Facebook yang mengakuisisi WhatsApp.

Sudah rahasia umum jika CIA telah menggunakan Big Tech (Facebook, Twitter, Google) dan media sosial lainnya untuk memata-matai orang. Ini tertuang dalam proyek In-Q-Tel yang dibesutnya. (http://www.iqt.org/news-and-press/press-releases/index.html)

Jadi In-Q-Tel adalah badan usaha CIA yang telah berinvestasi pada sekitar 172 perusahaan rintisan (startup). Nggak aneh perusahaan rintisan yang disokong In-Q-Tel tersebut bisa langsung booming, karena memang ada ‘sokongan’ yang masif. (https://news.crunchbase.com/news/heres-20-q-tel-investments-said-taking-cias-money/)

Setelah sukses dan memiliki banyak pengguna, apa iya perusahaan rintisan tersebut nggak kasih kontribusi apa-apa buat CIA? Termasuk Facebook sekalipun.

Nggak aneh jika Evan Greer selaku wadir kelompok hak digital Fight for the Future mengatakan, “Saya tidak mempercayai produk apapun yang dibuat Facebook, karena model bisnis mereka adalah pengawasan.” (https://www.wired.com/story/whatsapp-facebook-data-share-notification/)

The Onion selaku pengembang IT ternama menyatakan, “CIA melalui Mark Zuckerberg telah memprakarsai pengawasan online besar-besaran.” (https://www.wired.com/wiredinsider/2011/05/facebook-invented-by-the-cia-says-the-onion/)

Anda tentu masih ingat skandal Cambridge Analytica, dimana Facebook ‘menjual’ informasi tentang data penggunanya kepada kandidat politik termasuk Trump pada gelaran pilpres AS di tahun 2016. (https://inet.detik.com/cyberlife/d-4623601/skandal-cambridge-analytica-bikin-facebook-didenda-rp-70-triliun)

Saat itu pendiri WhatsApp bahkan mengakui telah menjual privasi penggunannya kepada Facebook. Klop sudah. (https://sputniknews.com/science/201809271068403487-whatsapp-founder-admits-selling-users-privacy-facebook/)

Selain itu, yang nggak kalah penting adalah bahwa Facebook rawan dijebol. Comparitech mengatakan sebanyak 267 juta ID pengguna Facebook, nomor telpon dan nama dibiarkan terbuka di web, sehingga bisa diakses siapa saja tanpa kata sandi sekalipun.

Apa nggak gaswat kalo itu data penting yang anda punya? (https://www.comparitech.com/blog/information-security/267-million-phone-numbers-exposed-online/)

Ini bukan yang pertama. Setahun sebelumnya (tepatnya September 2019), Facebook juga berhasil dijebol database-nya dan sebanyak 419 juta data penggunanya berhasil diekspos publik. Omaigat. (https://techcrunch.com/2019/09/04/facebook-phone-numbers-exposed/)

Dengan semua paparan tersebut, apakah anda percaya kalo Facebook Group bilang bahwa dengan mengijinkan mereka menarik data yang anda miliki di WhatsApp, semua akan baik-baik saja?

Sebagai penutup, mantan kepala CIA Michael Hayden pernah bilang, “Anda jangan terlalu naif untuk mempercayai Facebook lebih dari percaya kepada pemerintah.” (https://www.fastcompany.com/4008765/ex-cia-head-people-are-naive-to-trust-facebook-more-than-the-government)

Kalo mantan kepala CIA saja bisa ngomong begitu, layak nggak sih kalo kita tetap keukeuh untuk mempertahankan akun WhatsApp kita?

Salam Demokrasi!!


(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!