Rabaa Movement

In Sosial Budaya

SIMBOL

Menurut kamus Oxford, symbol adalah a mark or character used as a conventional representation of an object, yang berarti sebuah tanda atau karakter yang digunakan sebagai perwakilan konvensional sebuah obyek. Singkatnya, simbol adalah tanda yang mewakili suatu obyek tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari, simbol banyak dipakai. Ambil contoh: kalo ada simbol swastika hitam pada bendera merah, pasti ingatan kita tertuju pada Nazi-nya Adolf Hitler. Atau ada lambang bintang segi enam (bintang Daud), ingatan kita tertuju pada negara Israel. Yah…semua ada simbol-nya sendiri-sendiri. Ada pesan yang mau disampaikan disana.

3 Juli 2013, di Mesir terjadi kudeta militer yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Sisi kepada presiden terpilih Mohamad Mursi. Ini merupakan kelanjutan revolusi Arab (Arab Spring) yang terjadi di banyak negara jazirah Arab di Timur Tengah sejak 2011. Konon katanya, gerakan kudeta ini disokong oleh Arab Saudi. Gimana bisa? Jawabannya simpel: Arab Saudi adalah negara pertama yang mengakui kudeta berdarah dibawah kepemimpinan Jenderal al-Sisi. Sebagai balasannya, tanggal 13 September 2013, massa menggelar demonstrasi damai besar-besaran dengan isu utama menolak kudeta. Massa terkonsentrasi di Rabia al-Adawiya Square. Nama tempat Rabia sendiri diambil dari seorang sufi  yang terkenal dalam sejarah Islam, bernama Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah.

Selanjutnya, bukan kata damai yang demonstran dapatkan, malahan pihak militer menghujani massa yang sedang aksi duduk dengan timah panas. Retetet-tetet…Walhasil, banyak yang tewas grak ditempat. Ribuan jumlahnya. Salah satunya adalah putri pemimpin  Ikhwanul Muslimin Mesir Mohamad Beltagy yang bernama Asmaa. Dan ironisnya, sang ayah tidak dapat melihat jenasah putrinya. Raib entah kemana…

Sejak saat itulah, gerakan perlawanan itu dikenal publik sebagai gerakan Rabia, alias Rabaa Movement. Rabia dalam bahasa Arab, berarti empat/yang ke-empat. Kok Empat? Karena presiden Mohamad Morsi adalah presiden ke-empat di Mesir yang terpilih lewat jalur pemilu yang konstitusional, setelah Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat dan Hosni Mubarak.

Empat juga berarti 4 hal yang mereka tolak, yaitu: Arabism (menolak campur tangan Arab Saudi), Secularism (menolak sekularisme barat), Nationalism (menolak konsep kebangsaan) dan Democracy (demokrasi barat). Sebagai gantinya, mereka juga mengusung konsep khilafah sebagai perekat ummat Islam sedunia.

Selanjutnya mereka menggunakan simbol empat jari yang diacungkan, dengan jempol yang dilipat. Itulah simbol gerakan Rabia. Gerakan Rabia ini makin dipopulerkan oleh Erdogan, presiden Turki. Kontras dengan orang-orang yang mendukung kepemimpinan Morsi, massa yang terkonsentrasi di Tahrir Square yang pro-kudeta militer lebih memilih tanda V (=victory) dengan 2 jari tengah dan telunjuk yang diacungkan. Ini adalah simbol kemenangan model pan-Arabia, yang dianggap kebarat-baratan oleh kaum pemuja khilafah…

Selain itu, mereka juga membuat simbol Rabia pada bendera kuning dan jari tangan berwarna hitam. Apa maksudnya? Warna kuning melambangkan kubah emas  Masjid Sakhra Qubbatus di Yerusalem yang menjadi kiblat pertama bagi kaum Muslim, dan warna hitam untuk menandai kain hitam yang menutupi Ka’bah.

Singkatnya, gerakan Rabia adalah simbol kebangkitan, yang dipicu dari pembantaian massal, penindasan hak politik yang menargetkan Islam dan Muslim. Gerakan ini juga disinyalir sudah mendunia.

Lantas, apa relevansinya gerakan Rabia dengan gerakan Islam fundamentalis yang ada di Indonesia? Kalo kita sedikit cermat, lihatlah aksi-aksi bela Islam dengan jumlah massa yang fantastik. Pertanyaannya sederhana, mengapa diadakan pada tanggal dan bulan yang berkorelasi dengan angka 4? Gak percaya? Coba kita utak-atik togel sedikit…4 November (4x1x1=4). 212 alias 2 Desember (2x1x2=4) dan yang terakhir aksi sebelum pilkada putaran pertama, alias 11 Februari (1+1+2=4). Aneh? Mungkin… tapi kok kalo dilihat lawannya, yang merupakan petahana alias Ahok dengan simbol 2 jari-nya, kok jadi klop ya dengan gerakan pan-Arab yang kebarat-baratan dan ditentang oleh gerakan Rabia?? Belum lagi Ahok juga Kristen. Omaigat…makin lengkaplah penderitaannya..

Ahh…entah lah. Sekali lagi, ini suatu kebetulan yang bener-bener maknyus rasanya…

Iseng-iseng pernah kepikiran, apa perlu kita undang Mia Khalifah untuk memecahkan kode-kode togel tersebut?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu