Menyoal Makanan Sehat (*Bagian 1)


528

Menyoal Makanan Sehat (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Kita acap kali dicekoki dengan konsep makanan sehat sedari kecil di bangku sekolah. Yang kita tahu, bahwa jika kita menyantap makanan 4 sehat 5 sempurna, maka hidup kita bakal sehat, sesehat makanan yang kita santap sehari-hari. (https://www.detik.com/bali/berita/d-6611281/makanan-4-sehat-5-sempurna-beserta-contoh-dan-manfaatnya)

Lalu tiba-tiba, pertanyaan menghentak dilontarkan teman saya yang notabene-nya adalah seorang dokter. “Memangnya ada makanan sehat?” begitu kurleb-nya.

Pertanyaan yang dilontarkan teman saya tersebut, selaras dengan temuan yang didapat oleh Dr. Albert Barabasi.

“Kita hampir nggak tahu apa-apa tentang sebagian besar senyawa dalam makanan kita. Yang kita tahu hanya 150 komponen nutrisi utama, tanpa tahu nutrisi ‘gelap’ yang ada di dalamnya yang justru mempengaruhi kesehatan,” ungkap pakar nutrisi dari Harvard Medical School tersebut. (https://www.nature.com/articles/s43016-019-0005-1)

Seperti yang kita ketahui, bahwa nutrisi terbagi dalam 2 golongan utama, makronutrien dan nikronutrien. (https://health.clevelandclinic.org/macronutrients-vs-micronutrients/)

Makronutrien semisal protein, karbohidrat dan lemak. Sementara mikronutrien bisa berupa mineral, vitamin dan biokimia lainnya, yang walaupun jumlahnya kecil namun justru memiliki efek kesehatan yang cukup besar.

Jadi, merujuk pada pendapat Dr. Barabasi, bahwa 99,5% komponen dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari, masih menjadi misteri hingga saat ini. Selama misteri ini belum terpecahkan, maka penyebab penyakit dalam tubuh manusia (karena makanan) nggak akan pernah diketahui secara pasti.

Apa implikasi dari pernyataan Dr. Barabasi?

Dengan pengetahuan yang terbatas, kita nggak akan pernah tahu apa dampak makanan yang kita makan bagi kesehatan kita.

Contoh sederhana beta karoten (penyusun vitamin A), yang dikenal luas nutrisi yang diperlukan tubuh untuk menjaga kesehatan mata, kulit dan berfungsi sebagai zat anti oksidan. (https://jovee.id/apa-saja-manfaat-beta-karoten-bagi-kesehatan/)

Nyatanya beta-karoten nggak pernah hadir sendirian dalam tumbuhan penghasilnya, mengingat ada sekitar 400 molekul yang mengikutinya. 400 molekul itulah yang diistilahkan sebagai nutrisi gelap oleh Dr. Barabasi.

Masalahnya, dalam nutrisi gelap tersebut terdapat efek mikrobioma mengingat sebagian besar nutrisi gelap diubah secara kimia oleh bakteri yang ada dalam usus seseorang. Jadi jika seseorang sakit setelah mengonsumsi beta-karoten, itu bisa-bisa saja terjadi.

Dengan kata lain, jika suatu penelitian mengungkapkan manfaat dari suatu nutrisi, hasilnya bisa ambigu, mengingat ada komponen lain dari nutrisi tersebut yang justru lebih banyak jumlahnya, tapi nggak pernah diketahui dampaknya pada tubuh seseorang.

Tapi bukan itu yang akan saya bahas kali ini.

Saya justru mau bahas tentang makanan sintetis yang kerap diklaim memiliki nilai manfaat setara dengan makanan alami. Terlebih lagi soal asumsi bahwa makanan sintetis bersifat ramah lingkungan, sehingga baik untuk dikonsumsi karena menyelamatkan planet bumi dari pemanasan global. (https://www.azolifesciences.com/article/Synthetic-Food-An-Overview.aspx)

Benarkah asumsi tersebut?

Anda perlu tahu bahwa proses pengolahan pangan sering kali mengubah komposisi molekul bioaktif dari makanan, sehingga mempengaruhi kesehatan seseorang yang mengonsumsinya. (https://knowablemagazine.org/article/food-environment/2023/what-can-we-do-about-ultraprocessed-foods)

Belum lagi jika kita lihat fakta saat ini bahwa banyak sekali makanan olahan yang menggunakan bahan-bahan kimia sintetik dimana efeknya terhadap kesehatan seseorang juga belum diketahui secara pasti.

Dengan dua hal itu saja, ditambah fakta bahwa dalam makanan alami saja masih banyak nutrisi gelap yang kita belum tahu itu apa, bagaimana bisa dikatakan bahwa makanan sintetis/olahan ataupun hasil rekayasa genetik dapat dikatakan ekuivalen dengan makanan alami?

Meskipun produk keduanya memiliki bentuk, rasa dan aroma yang sama, toh komposisi mikronutrien-nya berbeda, bukan? Sudah pasti risiko kesehatan-nya juga berbeda alias tidak setara.

Kalo diklaim bahwa keduanya setara, lantas dimana masuk akalnya?

Sekarang kita mau bahas klaim kedua yang dilontarkan bahwa untuk memproduksi makanan sintetis nggak perlu hewan asli untuk memproduksinya, sehingga bersifat ramah lingkungan.

Benarkah?

Berdasarkan riset, industri daging sintetis yang dikembangkan di laboratorium justru menghasilkan CO2 empat hingga duapuluh lima kali lebih banyak dibandingkan peternakan tradisional. (https://interestingengineering.com/science/lab-grown-meat-25-times-co2#)

Dikatakan bahwa setiap kilogram daging produksi laboratorium menghasilkan emisi karbon dioksida antara 246 – 1508 kilogram. Dengan demikian, risiko daging sintetis terhadap pemanasan global malah jauh lebih besar ketimbang daging produksi peternakan tradisional. (https://www.newscientist.com/article/2372229-lab-grown-meat-could-be-25-times-worse-for-the-climate-than-beef/)

Belum lagi jika ditinjau dari segi kesehatan, dimana makanan sintetis tersebut berisiko mendatangkan masalah kesehatan dari mulai obesitas, kardiovaskular, diabetes hingga kanker. (https://www.cell.com/cell-metabolism/fulltext/S1550-4131(19)30248-7)

Dengan sederet penyakit yang mematikan tersebut, alih-alih sehat malah kematian yang bakal didapatkan seseorang yang kerap mengonsumsi makanan sintetis yang ‘katanya’ higienis tersebut. (https://www.bmj.com/content/365/bmj.l1949)

Dan diakhir cerita, anda bakal dapat zonk, mengingat daging hasil ‘budidaya’ tersebut nyatanya nggak pernah bisa memiliki nutrisi yang setara dengan daging konvensional yang mereka gantikan. Penelitian Dr. Paul Wood dengan tegas menyatakan hal ini. (https://academic.oup.com/af/article/13/2/68/7123477?searchresult=1&login=false)

Lalu bagaimana dengan klaim bahwa daging sintetis yang digunakan sebagai makanan pengganti, tidak memerlukan hewan dalam proses produksinya?

Mungkin anda tidak paham, bahwa sebagian besar daging hasil ‘budidaya’ yang berbasis sel, justru dibuat dengan menumbuhkan sel hewan dalam larutan serum janin sapi, yang tentu saja dibuat dari darah anak sapi yang belum dilahirkan.

Dengan kata lain, sapi yang sedang bunting kemudian disembelih untuk menguras darah janin yang dikandungnya. Istilah yang dipakai Fetal Bovine Serum (FBS). (https://www.motherjones.com/environment/2022/03/lab-meat-fetal-bovine-serum-blood-slaughter-cultured/)

Jadi apakah makanan/daging sintetis sesuai dengan klaimnya yang tidak memerlukan hewan dalam proses produksinya?

Silakan anda jawab sendiri pertanyaan retorik tersebut.

Pada bagian kedua nanti kita akan bahas sisi gelap makanan sintetis secara lebih mendalam.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!