Menggandeng Vatikan

In Ekonomi

Menggandeng Vatikan

Oleh: Ndaru Anugerah

Baru-baru ini terbentuk aliansi baru yang bernama Council for Inclusive Capitalism. Aliansi ini dibawah arahan Lynn Forester de Rothschild dengan menggandeng rekan strategis mereka yaitu tahta suci Vatikan.

Jadi akan ada kemitraan strategis antara perusahaan besar yang ada di Fortune 500 dengan Vatikan yang berencana membentuk tata ekonomi baru bagi dunia.

Kapitalisme telah gagal. Karenanya dewan ini akan mengikuti arahan Paus Fransiskus untuk membentuk tatanan masyarakat baru yang berkeadilan dan berkelanjutan,” kurleb ungkap Lynn. (https://www.prnewswire.com/news-releases/the-council-for-inclusive-capitalism-with-the-vatican-a-new-alliance-of-global-business-leaders-launches-today-301187931.html)

Aliansi ini bukan kaleng-kaleng, karena akan melibatkan lebih dari USD 10,5 trilyun aset yang akan dikelola, perusahaan dengan nilai pasar lebih dari USD 2,1 trilyun dan 200 juta pekerja dilebih dari 163 negara. (https://www.forbes.com/sites/jackkelly/2020/12/09/pope-francis-partners-with-corporate-titans-to-make-capitalism-more-inclusive-and-fair-is-this-for-real-or-just-corporate-virtue-signaling/?sh=535c229e4c7b)

Jadi Ndoro besar sekelas Rothschild dengan kekayaan fantastik, tiba-tiba hatinya jadi terenyuh dengan kaum misqueen yang makin banyak aja saat pandemi Kopit melanda dunia. Dan mereka terinspirasi untuk membentuk tatanan dunia baru yang berpihak pada kaum tertindas.

Kira-kira narasinya begitu.

Apa iya begitu?

Sekarang kita lihat siapa saja yang terlibat dalam proyek Ndoro besar tersebut.

Ada Rajiv Shah selaku presiden Rockefeller Foundation dan juga Darren Walker yang bertindak sebagai presiden Ford Foundation. Bukankah kedua lembaga tersebut terkenal karena gigih dalam memperjuangkan aborsi, agenda depopulasi dan juga mendukung kebijakan imperialis AS?

Anda pasti tahu lockdown, bukan? Nah Rockefeller Foundation sejak 2010 sudah ‘merancang’ skenario kuncian global tersebut. (https://www.nommeraadio.ee/meedia/pdf/RRS/Rockefeller%20Foundation.pdf)

Belum lagi Darren Walker jelas-jelas mengakui bahwa dirinya adalah seorang gay dalam sebuah wawancara dengan NYT. (https://www.nytimes.com/2019/07/12/nyregion/darren-walker-ford-foundation.html)

Anggota CIC lainnya adalah Fiona Ma dari Partai Demokrat yang merupakan aktivis pro-aborsi. (https://www.cal-catholic.com/pro-abortion-fiona-ma-joins-popes-council-for-inclusive-capitalism/)

Dalam tataran korporasi juga nggak kalah serunya. Ada nama beken sekelas Merck dan Johnson&Johnson.

Merck pernah berbohong kepada publik tentang risiko obat arthritis Vioxx miliknya yang menyebabkan 55 ribu penggunanya meninggal akibat serangan jantung akibat efek obat tersebut. (https://www.ucsusa.org/resources/merck-manipulated-science-about-drug-vioxx)

J&J juga nggak mau ketinggalan. Perusahaan ini banyak terlibat kasus penipuan seputar efek negatif obat anti-psikotik Risperdal, hadirnya bahan asbes pada produk bedak bayi yang dapat memicu kanker, hingga adanya opioid dalam obat penghilang rasa sakit milik mereka yang mematikan. (https://www.theguardian.com/business/2019/oct/18/johnson-and-johnson-opioids-lawsuits-product-recalls)

Lalu kalo Paus bilang bahwa mereka akan menerapkan prinsip moral dalam berbisnis dengan rakyat tertindas, moral model gimana yang dimaksud Paus Fransiskus? (https://spectator.org/pope-francis-council-inclusive-capitalism-vatican/)

Dengan demikian, alasan bahwa CCI berencana membentuk tatanan dunia baru yang inklusif dan berkeadilan serta berpihak pada wong cilik, jelas mengada-ada.

Kalo begitu apa tujuannya?

Dengan adanya pandemi Kopit, maka dunia butuh tatanan dunia baru akibat hancurnya perekonomian global. Maka CCI yang jadi rujukannya. CCI sendiri bukan program acak selepas proses Great Reset tersebut.

Dan ini selaras dengan SDG 16 yang telah dipatok akan tergenapi pada 2030 nanti. (baca disini)

Namun jika Ndoro besar tiba-tiba langsung mengumumkan agenda besar tersebut, bukan nggak mungkin terjadi penolakan sana-sini, seperti halnya vaksin si Kopit. Untuk itu mereka butuh badan keagamaan yang bisa kasih ‘persetujuan’ terhadap proyek besar tersebut.

Dan apa otoritas keagamaan yang paling kuat di planet ini selain Vatikan? Kalo sudah mengkooptasi agama, minimal para pengikutnya bisa direduksi untuk menolak proyek besar sang Ndoro.

Gak heran jika Lady Lynn ngomong begini, “Kita akan gagal dalam upaya tersebut. Tapi dengan terhubung ke Vatikan akan ada prinsip penebusan dan pengampunan Kristen.” (https://www.politico.eu/article/council-for-inclusive-capitalism-vatican-ceos-join-push-system-change/)

Apakah kedekatan Rothschild dan kubu Vatikan hanya soal kebetulan semata?

Coba cek sejarah.

Saat Perang Napolon berakhir, James Mayer de Rothschild selaku kepala keluarga Rothschild adalah sosok yang ditunjuk sebagai bankir resmi Kepausan. Apa iya nunjuk bankir lembaga Kepausan kek milih driver ojol? (https://www.swfinstitute.org/news/83068/pope-francis-wades-into-institutional-investing-calls-for-changes-in-capitalism)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu