Mari Lihat Dampaknya

In Sosial Budaya

Mari Lihat Dampaknya

Oleh: Ndaru Anugerah

Kalo bicara soal vaksinasi di Wakanda, nggak menarik perhatian saya sama sekali. Mendingan bicara tingkat vaksinasi di AS saja, biar nggak ada yang baperan.

Memangnya ada berapa banyak orang yang sudah disuntik vaksin Kopit di Amrik sana?

Menurut data yang dirilis secara resmi (24/7), ada sekitar 163 juta orang yang telah divaksinasi secara penuh atau setara dengan 49,7% populasi disana. (https://ourworldindata.org/covid-vaccinations?country=USA)

Kok bisa sebanyak itu?

Tentu saja. Mengingat media mainstream punya andil yang sangat besar dalam membentuk persepsi publik, utamanya dalam membentuk iklim takut pada si Kopit.

Nggak heran kalo akhirnya rakyat Amrik berbondong-bondong minta divaksin, agar bisa segera terbebas dari si Kopit, meskipun disana nggak ada peraturan wajib vaksin kek yang terjadi di Wakanda. (https://www.bbc.com/news/world-us-canada-55193939)

Menariknya, apa yang mungkin terjadi dengan seseorang setelah disuntik dengan vaksin Big Pharma yang dipakai disana?

Segera setelah suntikan diberikan, maka triliunan partikel gen akan dilepaskan dari otot deltoid tempat jarum suntik masuk ke tubuh seseorang, yang pada akhirnya mendatangkan malapetaka pada pembuluh darahnya.

Ini bukan saya yang ngomong, tapi pakar Jantung kenamaan dari Kanada yang bernama Dr. Charles Hoffe.

“Gumpalan darah yang banyak diungkap media dan diklaim jarang terjadi adalah gumpalan darah besar yang bisa mengakibatkan stroke. Sedangkan gumpalan darah yang kita bicarakan adalah gumpalan darah mikroskopis sehingga terlalu kecil untuk di deteksi dengan menggunakan pemindaian jenis apapun,” ungkap Dr. Hoffe.

“Satu-satunya cara untuk mendeteksinya adalah dengan melakukan tes D-dimer,” pungkasnya. (https://www.bitchute.com/embed/ChQwQBggc8TL)

Perlu anda ketahui bahwa test D-dimer digunakan untuk mengukur jumlah fibrin yang terdegradasi dalam darah, yang bersama dengan trombosit darah akan menutup luka. (https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29096812/)

Menurut penuturan Dr. Hoffe, setengah dari pasiennya memiliki hasil tes D-dimer yang abnormal setelah disuntik oleh vaksin Kopit berjenis m-RNA yang diproduksi Big Pharma.

Apa konsekuensi dari hasil test tersebut?

Hasil D-dimer yang abnormak tersebut akan menyebabkan gumpalan darah mikro yang pada gilirannya akan mampu merusak jaringan di otak, paru-paru, sumsum tulang belakang, jantung serta jaringan dan organ yang tidak bisa beregenerasi.

Dan hasil kerusakan yang ditimbulkan bersifat permanen.

“Saat vaksin diberikan, maka 25% akan bertahan di lengan anda (otot deltoid), dan 75% akan dikumpulkan oleh sistem limfatik dan akan dimasukkan ke dalam peredaran darah,” ungkap Dr. Hoffe.

“Ada sekitar 40 triliun partikel m-RNA yang akan diterima oleh seseorang saat tubuhnya menerima dosis tunggal dari vaksin Moderna. Dan partikel ini akan menyerap ke dalam kapiler darah,” begitu kurleb papar Dr. Hoffe.

Pada gilirannya, partikel gen tersebut akan masuk ke dalam sel, dimana setiap gen akan mampu menghasilkan protein lonjakan. Sehingga tubuh seseorang akan berubah menjadi pabrik pembuat protein lonjakan akibat masuknya partikel dari suntikan tersebut.

Saat memasuki tubuh, protein lonjakan tersebut akan dideteksi sebagai benda asing, sehingga tubuh membuat antibodi untuk melawannya. Proses ini kemudian menjadikan protein lonjakan secara permanen menjadi bagian dari dinding sel yang melapisi pembuluh darah seseorang.

Ini yang kemudian menyebabkan terjadinya endotel vaskular, dimana protein lonjakan, sel darah putih dan antibodi akan menarik trombosit darah sehingga terbentuk gumpalan darah di sekitarnya.

Dan test D-dimer mampu mendeteksi gumpalan darah mikro yang baru terbentuk tersebut.

“Hanya butuh waktu 4-7 hari setelah vaksinasi, maka test D-dimer akan mampu mendeteksi tingkat abnormalitas pada 62% pasien yang telah disuntik menggunakan vaksin m-RNA,” tutur Dr. Hoffe.

Apa ciri-ciri paling umum yang ditemukan pada pasien yang memiliki abnormalitas pada test D-dimer nya?

Pasien tersebut akan mudah terengah-engah saat bernapas.

Jika kemudian ada kombinasi dengan pemberian ventilator pada pasien yang kesulitan dalam bernapas tersebut, apa nggak akan menciptakan duet maut bagi si pasien? (baca disini)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu