Sidell’s Findings

In Sosial Budaya

Sidell’s Findings

Oleh: Ndaru Anugerah

Dokter Cameron Kyle Sidell yang bertugas pada unit gawat darurat di RS Maimonides Medical Center, Brooklyn, sukses memicu kontroversi publik, ketika beberapa minggu yang lalu di mem-posting sebuah video di Youtube.

Kontennya menyatakan bahwa penggunaan ventilator justru malah membahayakan nyawa pasien COVID-19.

“Kami bekerja dibawah acuan medis yang tidak benar,” demikian Sidell memperingatkan.

“Saya percaya kita sedang mengobati penyakit dengan metode yang salah, sehingga menyebabkan kerusakan yang fatal bagi sejumlah besar pasien dalam waktu yang relatif singkat.”

Menurut temuan Sidell kepada Medscape, bahwa sekitar 70% pasien COVID-19 yang menggunakan ventilator tidak pernah pulih kondisi penyakitnya, malahan berujung maut.

Temuan ini selaras dengan rilis yang dikeluarkan AP News, bahwa sekitar 80% pasien yang menggunakan ventilator justru tidak terselamatkan.

Setelah penyataannya tersebut, klaim Sidell yang didukung oleh dokter-dokter yang berpikiran sama, memicu perdebatan sengit dalam komunitas medis. Beberapa mendukung penggunaan ventilator, sedangkan sebagian lagi mendukung klaim yang diajukan Sidell.

Terlepas dari pro-kontra tersebut, satu yang pasti bahwa penggunaan ventilator di lapangan bagi para penderita COVID-19, ternyata tidak sebaik yang diharapkan dokter.

Teknik ventilasi mekanik dengan memakai tabung yang ditempatkan dijalan nafas pasien untuk mengantarkan oksigen ke tubuh mereka ketika paru-paru mereka tidak bisa lagi bekerja normal, maka upaya invasif ini sulit untuk berhasil.

Menurut jurnal The Lancet, data dari China dan New York menunjukkan bahwa lebih dari 80% malah tidak pulih sejak menggunakan ventilator. Bahkan laporan di Inggris, walaupun angkanya agak kecil dikit, tapi kegagalan penggunaan ventilator cukup signifikan (sekitar 66%).

Angka kematian yang tinggi tersebut menurut Sidell dikarenakan para dokter berasumsi kalo mereka memiliki sindrom pernafasan akut (ARDS). Nyatanya bukan disitu masalahnya. Karena kalo ARDS sumber masalahnya, harusnya berespons baik terhadap metode ventilasi mekanis.

Nggak aneh jika sekelompok dokter Eropa mengirimkan surat ke American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine (30/3), yang intinya menyatakan bahwa COVID-19 berbeda dengan ARDS, sehingga penggunaan ventilasi mekanis (ventilator) praktis tidak diperlukan.

“Lebih banyak tingkat kematian yang dipicu oleh penggunaan ventilator saat ini,” begitu kurleb-nya.

Lantas, bagaimana kondisi paru-paru pasien COVID-19 sesungguhnya?

Justru paru-parunya relatif baik-baik saja.

Terus dimana masalahnya?

Ketidakmampuan untuk mendapatkan oksigen ke dalam darah mereka, sehingga kadar oksigen dalam darah rendah.

Kondisi ini diperburuk dengan penggunaan ventilator saat konsentrasi oksigen dalam darah yang hanya 10%-20% saja. Padahal pada kondisi normal, tingkat oksigen dalam darah bisa mencapai 95%, menurut British Lung Foundation.

Dengan kata lain, COVID-19 bukan sejenis ARDS (sindrom pernafasan akut). Karena perlu treatment yang berbeda dalam penanganannya.

Lalu COVID-19 itu sebenarnya apa?

Menurut Sidell, yang selama ini dianggap penyakit pneumonia pada pasien Corona, kemungkinan adalah high altitude sickness. “Jadi masalahnya bukan di pneumonia-nya,” ungkap Sidell.

High altitude sickness (HAS) sendiri biasanya dialami oleh mereka yang biasa tinggal di dataran rendah, kemudian mengalami gangguan sesak nafas saat mendaki ke dataran tinggi (8000 kaki di atas permukaan laut).

Pada beberapa kasus HAS, dapat menyebabkan akumulasi cairan pada paru-paru.

Karenanya, treatment-nya pun harus berbeda.

Pada kasus yang nggak begitu parah, cukup kasih parasetamol dan aspirin, sedangkan untuk kasus yang parah diberikan obat acetazolamide dan nifedipine. Ini akan memacu seseorang untuk bernafas lebih cepat dan memetabolisme lebih banyak oksigen.

Sebenarnya dalam kondisi normal, penderita HAS cukup ambil istirahat panjang dan memberikan kesempatan bagi tubuh mereka untuk menyesuaikan diri agar dapat bekerja dengan cadangan oksigen yang sedikit.

Dalam hal ini, Sidell kasih solusi alternatif bagi pasien COVID-19, dengan memakai metode perawatan oxygen first. Artinya mendapatkan kadar oksigen dalam darah setinggi mungkin, dengan menggunakan tekanan udara serendah mungkin dengan ventilasi lembut.

Dengan kata lain, ventilator jelas nggak dibutuhkan bagi penderita COVID-19.

“Sebaiknya mereka diberikan perangkat non-invasif seperti BiPAP (Bi-level Positive Airway Pressure) agar kadar oksigen darah mereka bisa meningkat secara signifikan setelah satu atau dua jam setelahnya,” demikian pungkas Sidell.

Semoga temuan Sidell ini bisa dicoba dalam menangani pasien Corona di Indonesia.

Namanya altenatif, apa salahnya jika diberi kesempatan?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Apa Trump Lebih Berbahaya Dari Kopit?

Apakah Trump Lebih Berbahaya Dari Kopit? Oleh: Ndaru Anugerah Di AS sana, ada 2 topik panas yang saat ini kerap diperbincangkan.

Read More...

Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2)

Rencana Besar Elite Global (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian 1 saya telah mengulas tentang Oded Yinon’s Plan (OYP) yang

Read More...

Kado Perpisahan Trump

Kado Perpisahan Trump Oleh: Ndaru Anugerah Apa yang telah dilakukan Trump buat Israel selama 4 tahun kepemimpinannya? Sangat banyak dan bukan kaleng-kaleng

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu