Made in Sotralia

In Politik

Pada hari Minggu (3/3) kemarin, lembaga sigi asal negeri kanguru – Roy Morgan Research – merilis hasil analisa seputar gelaran pilpres 2019 ini. “Paslon JOMIN akan memenangkan pilpres dengan mudah,” ujar Michele Levine selaku CEO lembaga survei tersebut. Angkanya nggak tanggung-tanggung, 58% berbanding 42%.

Berdasarkan analisa MR, paslon JOMIN memiliki dukungan pedesaan yang kuat, sementara paslon BOSAN hanya kompetitif di daerah perkotaan. Preferensi dukungan di pedesaan kepada JOMIN mencapai angka 63,5%, sedangkan paslon BOSAN hanya mampu meraih 36,5%.

Bagaimana dengan daerah perkotaan? Elektabilitas kedua paslon bersaing ketat. JOMIN diprediksi akan meraup suara 53% sementara BOSAN akan meraih angka 47%.

Bagaimana dengan kaukus Barat?

Paslon BOSAN akan mampu mengungguli JOMIN pada daerah Jawa Barat, Banten dan juga Jakarta. Termasuk juga daerah selatan Sumatera yang merupakan basis kampreters. Dengan kata lain, JOMIN bakal keok dikandang kampret.

JOMIN diprediksi akan mampu unggul telak pada kantong daerah JATENG, JATIM dan juga BALI. Pada wilayah Jateng, perolehan JOMIN diramalkan menang telak dengan 74,5% berbanding 25,5%. Di Jatim dan Bali, juga sami mawon, JOMIN diperkirakan leading 73% berbanding 27%.

Yang cukup aneh pada daerah utara Sumatera dan sekitarnya, dimana JOMIN mampu meraup suara hingga 74%, sedangkan BOSAN Cuma 26%. Apa mungkin karena di Sumatera bagian utara banyak yang mulai makan sayur kol? Entahlah..

Dalam melakukan surveinya, Roy Morgan Research mengklaim telah menjaring 1039 pemilih berusia 17 tahun ke atas, dengan teknik wawancara tatap muka di 17 propinsi di Indonesia. Adapun survei tersebut diambil pada Januari 2019, yang lalu.

Bagaimana kita membaca hasil survei dari lembaga sigi besutan negeri kanguru, tersebut?

Pertama, yang namanya survei, sifatnya hanya analisa. Bukan hasil pilpres yang sesungguhnya. Artinya jika dan hanya jika pilpres digelar pada Januari kemarin, maka kemungkinan besar paslon JOMIN akan memenangkan kontestasi.

Masalahnya adalah, pilpres akan digelar di April nanti. Masih banyak yang bisa dilakukan untuk mendongkrak elektabilitas paslon. Kerja-kerja relawan dan mesin pemenangan pemilu, justru akan memanas menjelang hari pencoblosan, bukan saat-saat ini.

Dengan kata lain, hasil survei tersebut sebenarnya hanya memberikan proyeksi. Bisa benar, bisa juga berbalik 180 derajat. Pesannya satu, jangan terlalu jumawa pada hasil survei tersebut. Kerja-kerja gerilya di lapangan jangan sampai kendor dan puas akan hasil tersebut.

Kedua, walaupun lembaga sigi sekelas Roy Morgan pernah mengeluarkan hasil survei pada gelaran pilpres 2014 silam, dengan hasil prediksi yang gemilang, toh kita harus sadar bahwa kondisi 2014 tidak sama dengan situasi nasional saat ini.

Sebagai gambaran, saat menjelang pilpres 2014, Roy Morgan Research merilis hasil surveinya dengan hasil 52% untuk paslon Jokowi-JK dan 48% untuk paslon Prabowo-Hatta. Dan hasil pilpresnya, ternyata tidak jauh beda dengan hasil survei mereka, 53,17% berbanding 46,85% untuk kemenangan paslon Jokowi-JK.

Gimana nggak hebat? Hanya terpaut 1,17% suara alias bias yang hanya 2,25%. Nggak nyampe angka 5% kesalahannya.

Namun saat ini, seperti yang kita ketahui bersama, kalo Sotralia selaku sekutu Barat, sangat berkepentingan Jokowi lengser. Kebijakan yang dibuat pakde untuk ambil alih Freeport, jelas membuat negeri Kanguru tersebut gerah. Wajar, karena investasi Sotralia di bumi Papua lumayan banyak. Dan efek domino kebijakan atas Freeport, bisa mengganggu kenyamanan bisnis mereka.

Maka, saat terjadi penembakan di Papua, tepatnya di daerah Nduga terhadap para pekerja BUMN Istaka Karya (1/12), banyak suara menuding ada peran Sotralia didalamnya. Modusnya dengan membantu persenjataan OPM guna melawan pemerintah yang sah.

Jadi sangat wajar kalo kita menaruh curiga, karena sekali lagi bukan nggak mungkin keluarnya hasil survei tersebut hanya akan membuat para cebongers jumawa. Lupa kalo hasil survei bukanlah hasil pilpres yang sesungguhnya. “Lha buat apa kita gerilya lagi, kan udah menang?”

Pilpres ini masih bersisa beberapa puluh hari saja. Jangan cepat jumawa pada hasil survei, meskipun itu dibuat oleh lembaga survei yang kredibel sekalipun. Ingatlah petuah Sun Tzu: berikan lawan kemenangan di awal, agar mereka kelak terlena.

Tetap rapatkan barisan…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu