Krisis Solar Global (*Bagian 1)


524

Krisis Solar Global (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa kata para pemimpin Barat yang dikutip media mainstream tentang penyebab kenaikan harga bahan bakar yang terjadi secara global?

Semua secara kompak bersuara: ini salah Rusia yang telah menginvasi Ukraina sejak Februari silam. Dengan kata lain, krisis Ukraina yang dijadikan kambing hitam atas kenaikan harga energi tersebut. (https://www.ft.com/content/5a7ea3b8-c446-46a9-a836-fce811a97069)

Apa iya begitu?

Nyatanya, bukan krisis Ukraina yang menyebabkan kenaikan harga tersebut, tapi pemberlakuan sanksi yang dilakukan oleh AS dan sekutunya.

Dengan adanya sanksi alias embargo, maka Rusia yang merupakan negara pengekspor hasil pangan dan bahan bakar dunia, jadi nggak bisa menyalurkan produknya ke negara-negara yang membutuhkan.

Walhasil, karena nggak bisa ‘jualan produknya’, terjadi kelangkaan produk pangan dan bahan bakar, yang berimbas pada melambungnya harga-harga di pasaran.

Siapa yang kena imbasnya, itu retorik untuk ditanyakan, bukan?

Apa iya AS dan sekutunya yang memberlakukan sanksi tersebut nggak tahu implikasi atas sanksi yang mereka terapkan pada Rusia? Ini juga nggak perlu ditanyakan. (baca disini)

Sekarang, saya akan coba ulas tentang skenario lanjutan, yang dalam waktu dekat akan terjadi secara global.

Apa itu, dan bagaimana ceritanya?

Anda perlu tahu, bahwa solar memegang peranan sentral dalam industri. Pada tataran teknis, mayoritas yang masuk dan keluar dari kawasan industri alias pabrik, pasti menggunakan solar.

Dengan kenyataan ini, solar secara nggak langsung berkorelasi positif dengan PDB (Produk Domestik Bruto) suatu negara. (https://www.reuters.com/business/energy/diesel-shortage-europe-threatens-slow-economic-growth-2022-03-24/)

Sebelum adanya krisis di Ukraina, harga solar Eropa sudah mencapai tingkat yang spektakuler. Penyebabnya karena penarapan lockdown yang menghancurkan rantai pasokan global dan menyebabkan berkurangnya penggunaan solar. (https://www.euronews.com/my-europe/2021/10/28/why-europe-s-energy-prices-are-soaring-and-could-get-much-worse)

Nggak hanya itu, di saat yang sama kartel Ndoro besar juga mendorong agenda Hijau mereka (ESG), guna mewujudkan agenda The Great Zero Carbon di tahun 2050 mendatang. (https://www.promarket.org/2022/04/11/esg-investors-exit-voice-stigler-rustandy-video/)

Bahkan perusahaan minyak terbesar di dunia sekelas BP dan Shell, menghentikan pengiriman solar ke beberapa negara di Eropa untuk alasan ini.

Ini sungguh parah, mengingat Rusia yang semula merupakan pemasok solar sekitar 60-70% bagi Eropa, jadi nggak bisa menyalurkan produknya ke Benua Biru tersebut akibat penerapan sanksi. Dengan adanya aksi tambahan yang dilakukan BP dan Shell pada Jerman, Eropa mau dapat pasokan solar dari mana lagi? (https://www.reuters.com/business/energy/shell-bp-hold-back-german-diesel-sales-shortage-fears-2022-03-10/)

Memangnya, dimana posisi Rusia sebagai produsen solar dunia?

Di tahun 2020 silam, Rusia adalah produsen solar kedua terbesar di dunia, setelah AS. Setidaknya lebih dari 1 juta barrel per harinya mereka salurkan ke belahan dunia dan 70% dari angka tersebut disalurkan ke negara-negara Uni Eropa dan Turki.

Negara Eropa yang paling banyak memakai solar Rusia adalah Perancis, Jerman dan Inggris, dan biasanya solar dipakai untuk kepentingan bahan bakar kendaraan yang menggunakan mesin diesel. (https://cnsnews.com/index.php/article/international/terence-p-jeffrey/russia-was-second-largest-net-exporter-crude-oil-and)

Adalah fakta jika permintaan akan solar di Uni Eropa jauh lebih tinggi dari di AS, karena kebanyakan mesin kendaraan yang ada di sana, menggunakan mesin diesel yang otomatis memerlukan solar sebagai bahan bakarnya.

Alasannya klasik: lebih ekonomis dan efisien.

Gimana nggak?

Sejak Rudolf Diesel mengembangkan motor konvensional di tahun 1897, maka bahan bakar diesel alias solar, banyak dipakai sebagai sumber energi utamanya. (https://www.famousinventors.org/rudolf-diesel)

Selain tingkat efisiensinya yang tinggi, solar juga mampu menempuh jarak yang lebih jauh ketimbang bahan bakar lainnya.

Nggak aneh jika semua moda transportasi hingga mesin pertanian, menggunakan solar sebagai bahan bakar ketimbang bensin. (https://www.quora.com/Why-is-diesel-not-the-primary-fuel-type-for-automotives-though-it-is-easier-to-produce-more-fuel-efficient-is-cleaner-burning-than-gasoline-and-is-better-for-the-environment-as-a-whole)

Belakangan, alat berat yang dipakai pada sektor pertambangan, konstruksi, mesin uap, kereta barang hingga kendaraan militer, juga menggunakan solar sebagai bahan bakar utama.

Dan itu berlaku terus hingga saat ini. Disini saja, sudah tergambar dengan jelas pentingnya solar dalam menggerakkan industri.

Jika pasokan solar dunia terhambat pengadaannya, maka efek jangka pendek maupun jangka panjangnya tentu anda bisa proyeksikan. Ini bisa terjadi, karena hampir semua industri, mengandalkan solar sebagai penggerak utama mesin-mesinnya.

Memangnya apa yang terjadi dengan pasokan solar dunia saat ini?

Pada bagian kedua kita akan mengulasnya dengan lebih detil.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!