Farewell Larry King

In Sosial Budaya

Farewell Larry King

Oleh: Ndaru Anugerah

Siapa yang nggak kenal dengan sosok pewawancara legendaris dunia, Larry King?

Memulai karir di Florida sebagai jurnalis dan pewawancara lokal pada dekade 1950an, Larry kemudian banyak dikenal publik dunia lewat acaranya The Larry King Show yang mengudara pada radio nasional AS pada 1978.

Sukses dalam acaranya tersebut, membuat Larry dikontrak sebagai pembawa acara (host) pada acara yang sama yang disiarkan secara internasional melalui kanal berita CNN selama lebih dari 25 tahun (1985-2010).

Yang jadi ciri khas acara Larry tersebut adalah selain hadirnya bintang tamu yang beragam (dari selebritis hingga politisi terkemuka), Larry juga kerap mendiskusikan segala hal, dari mulai kehidupan pribadi hingga isu-isu yang kontroversial.

Kalo boleh jujur, Larry-lah sosok yang jadi rujukan pewawancara kondang lainnya semisal Oprah Winfrey.

Dan selepas dari CNN, Larry mendirikan Ora TV yang berbasis di New York pada 2012 dimana dirinya membawakan acara bertajuk Larry King Now. (https://www.rt.com/usa/507925-larry-king-dies-hospital/)

Seiring sukses dirinya, berbagai penghargaan bergengsi Larry telah raih termasuk dua penghargaan Peabody, Emmy, hingga Cable ACE.

Dibalik kesuksesan yang diraihnya, Larry punya penyakit jantung dan juga stroke. Hal inilah yang mendorongnya untuk mendirikan Larry King Cardiac Foundation yang didedikasikan kepada penyitas jantung bergolongan ekonomi lemah alias kaum misqueen.

Selain dikenal sebagai sosok filantropis, Larry juga dikenal sebagai tokoh Yahudi yang kerap menyokong upaya-upaya Zionis bersatu.

Nggak aneh jika kemudian Larry kerap diundang untuk menghadiri Kongres Yahudi se-dunia yang kerap mengadakan konferensi tahunan, sebagai tamu kehormatan. (https://www.prnewswire.co.uk/news-releases/world-jewish-congress-president-ronald-s-lauder-calls-for-jewish-people-to-unite-against-anti-semitism-and-anti-zionism-at-annual-jerusalem-post-conference-621562613.html)

Larry dikenal sebagai sosok yang kontroversial. Salah satunya saat pilpres AS 2016 digelar. Kedekatannya dengan sosok Trump seharusnya menghantarnya untuk mendukung temannya tersebut menjadi presiden.

Alih-alih mendukung Trump, Larry malah bilang begini, “Walaupun telah berkawan lama dengan Trump, namun Trump nggak bisa dipegang ‘buntutnya’. Jadi saya akan memilih Hillary dalam gelaran pilpres nanti.” (https://www.politico.com/blogs/on-media/2016/06/larry-king-ill-probably-vote-for-hillary-224457)

Dan sekarang, sang pewawancara kondang tersebut tutup usia pada usia 87 tahun setelah pada awal bulan Januari 2021 dirinya dinyatakan positif Kopit dengan kondisi kritis. (https://www.rt.com/usa/511394-larry-king-hospitalized-covid-report/)

Terlepas kontroversi yang ada pada dirinya, dunia kehilangan sosok pewawancara legendaris.

Selamat jalan Larry, walaupun engkau seorang Atheis sekalipun.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yaman: Tinjauan Geopolitik

Yaman: Tinjauan Geopolitik Oleh: Ndaru Anugerah Seorang bertanya kepada saya, “Kenapa nggak pernah bahas soal Yaman, Bang?” Sekali lagi, bukan saya pilih-pilih

Read More...

Go to Hell with Your Aid

Go to Hell with Your Aid Oleh: Ndaru Anugerah “Bang, pernah nggak Indonesia punya sosok presiden yang berani menentang hegemoni Barat?”

Read More...

Biarkan Data Bicara

Biarkan Data Bicara Oleh: Ndaru Anugerah Adakah orang yang meninggal akibat menggunakan vaksin Big Pharma? Bukan ada lagi. Banyak adalah kata yang

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu