Benang Kusut Pendidikan


516

Apa yang salah dengan pendidikan kita?

Bicara tentang salah atau nggak-nya, kita harus punya parameter yang bisa mengukurnya. Tangible, istilahnya. Darimana kita bisa tahu kalo pendidikan kita salah arah?

Tolak ukur yang paling sederhana, dengan melihat yang ada disekitar kita. Contohnya dalam hidup bermasyarakat. Dalam pakem bermasyarakat kita, ada kelas-kelas yang membedakan pribadi yang satu dengan pribadi yang lain. Ada istilah orang kaya, ada orang miskin.

Itu baru dari strata sosial. Bagaimana dengan budaya korupsi? Golongan mayoritas dan minoritas? Atau bahkan sikap intoleran sampai radikalisme yang tumbuh subur di masyarakat kita? Ya, itu semua buah dari sistem pendidikan kita.

Jadi jelas, ada yang salah dalam pendidikan kita. Pertanyaan berikutnya: salahnya dimana?

Kiblat pendidikan yang kita pakai selama ini.

Selama ini, kita terlalu berkiblat pada pendidikan ala Barat utamanya Amerika. Gak percaya?

Coba iseng jalan ke mall, produk ada yang banyak bertebaran disana sekaligus digandrungi sama anak jaman now? Dari mulai KFC hingga Starbucks, dari Mc.D hingga film Hollywood, semuanya produk mamarika. Seolah kalo nggak nongki-nongki disana, kita bakalan dicap kurang gaul…

Darimana asalnya mindset ala Amerika itu? Ya dari iklan di tivi dan internet kemudian turun ke sekolah. Dan di sekolah menemukan penguatannya dari teman-teman disekelilingnya juga nggak ketinggalan para gurunya, bahwa segala yang berbau amerika, pasti oke punya.

Sudah rahasia umum bahwa pendidikan ala mamarika lebih menekankan pada sisi kapitalisme semata. Semua diukur dengan materi. Mau masuk sekolah saja, ibarat naik pesawat. Semua ada kelas-kelasnya. Jangan aneh kalo kita kenal sekolah elite, ada sekolah abal-abal.

Jadinya, sekolah ibarat investasi. Orang tua mau sekolahin anaknya dengan biaya mahal, bukan tanpa tujuan. Mau nyekolahin anak di kedokteran dengan biaya milyaran, karena semua ada hitung-hitungan investasinya.

Hasilnya sungguh warbiyasah. Kelak si anak menjadi dokter, maka yang dipikir duluan adalah gimana caranya balik modal. Nggak lagi peduli nasib pasiennya. Kasih resep obat kalo bisa yang paling mahal, biar komisi dari mafia obat bisa nambah dirinya kaya raya.

Kelak jadi pejabat negara, yang dilakukan pertama kali adalah bagaimana bisa korupsi supaya bisa tajir melintir. “Kan kita masuknya pake nyogok. Lha uang nyogok kapan kembali kalo nggak korupsi?” demikian kilahnya.

Nggak bisa disalahin. Itu semua produk pendidikan yang menekankan pada kapitalisme, dimana materi adalah patokan utamanya. Money is not everything, but anything needs money, right?

Mungkin kita sering dengar kata yang sering didengung-dengungkan: excellence alias keunggulan akademis. Karena dengan keunggulan akademis, suatu sekolah akan berbeda dengan sekolah yang lain. Ada yang unggulan, ada juga yang kaleng-kaleng.

Akibatnya, anak-anak kita dipicu untuk bersaing dengan slogan utama “meraih prestasi setinggi langit untuk sukses di masa depan.” Kata “excellence” tadilah diktum pembenarannya.

Seperti saya pernah ulas dalam tulisan saya (baca disini) sekolah kemudian mencetak individu egois dengan fixed mindset-nya. Gampang menyalahkan keadaan bila menemukan kegagalan.

Gabener jekardah adalah prototype sempurna dengan kelakuannya yang selalu cari kambing hitam bila dirinya ketahuan salah. Ketahuan ngakalin anggaran, yang disalahin justru e-budgeting-nya.

Anehnya, sudah tahu kalo kiblat pendidikan kita salah arah, tapi nyatanya kita selalu bangga dengan model pendidikan gaya Amerika. Kita seolah buta, bahwa dalam survei yang dilakukan Organization for Economic Co-operation & Development dengan PISA-nya, AS malah nggak dapat posisi 10 besar dunia.

Kenapa kok bisa begitu? Karena orientasi pendidikan yang salah.

“Pendidikan yang benar adalah saat seorang pribadi dapat menjalani hari-hari belajarnya yang sesuai dengan bakat dan minatnya,” demikian kata seorang Paolo Freire. Dengan kata lain, pendidikan itu membebaskan, bukan malah membelenggu, apalagi menjadikan seseorang terasing.

Coba anda punya anak terus bakat dan minatnya menulis puisi. Akankah anda berani mengatakan, “Nak, nanti kuliah ambil jurusan menulis puisi, yah.” Jujur akan sulit, ngaku aja deh. Anda akan lebih pragmatis mengatakan, “Jangan ambil jurusan itu, nggak ada duitnya, Nak”

Jadi, anak anda akan dipaksa mengambil kuliah yang sesuai dengan kebutuhan pasar, bukan sesuai dengan bakat dan minatnya. Kecuali kalo anak anda siap misqueen.

Inilah pekerjaan rumah paling berat bagi seorang Jokowi yang tengah frustasi dalam menangani carut marut pendidikan kita. Kalo untuk mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga dengan pola yang sama, bakalan terseok-seok, dan nggak jaminan bakal bisa mengejarnya.

Satu yang paling mungkin dilakukan adal dengan berpikir out of box.

Kalo menterinya jebolan profesor praktisi pendidikan dari AS lagi, bakalan tambah kusut. Mendingan berjudi dengan menunjuk seorang milenial yang sudah punya gen disruptif. Dengan pola pemikiran disruptifnya, diharapkan terjadi perubahan revolusioner di bidang pendidikan.

Ingat bagaimana Nokia bisa didisrupsi sama Samsung? Siapa yang melakukannya? Nggak lain ya milenial. Konon hanya milenial yang punya gen disrupsi tersebut.

Kita akan lihat bagaimana seorang Nadiem bisa mengurai benang kusut tersebut, atau justru malah memotongnya.

Mengingat ini beban berat, ke depan saya akan kasih masukkan kepada menteri milenial tersebut tentang apa yang sebaiknya dilakukan dalam mengambil kebijakan. Kali aja didenger.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!