Vietnam ditengah Pandemi


517

Vietnam ditengah Pandemi

Oleh: Ndaru Anugerah

Vietnam adalah salah satu negara yang sukses dalam menangani pandemi C-19.

Bagimana tidak?

Berdasarkan data dari Worldometers (23/4) dari negara tersebut, ditemukan sebanyak 268 kasus, namun tidak satupun korban meninggal dunia, dengan 224 orang telah dinyatakan sembuh.

Ada apa dibalik cerita suskes Vietnam dalam mengatasi C-19?

Seperti kita tahu, Vietnam memiliki kedekatan hubungan ekonomi dengan China. Nggak aneh, apapun yang terjadi di China praktis selalu dalam pantauan Vietnam. Termasuk kasus Wuhan yang merebak dipenghujung tahun 2019.

Pemerintah Vietnam cukup responsif dengan menggelar pertemuan darurat dengan para pejabat tinggi dari Kementerian Kesehatan, untuk membahas langkah-langkah memerangi Corona di Vietnam. Teknisnya akan dibuat Komite Pengarah yang berwenang atas kontrol penanganan pandemi C-19.

Ibaratnya, sedia payung sebelum hujan.

Jadi, saat negara tersebut mendapati kasus pertama C-19 pada 23 Januari, negara tersebut sudah siap duluan bagaimana harus bertindak.

Sebagai bagian dari rencana, sekolah-sekolah langsung diliburkan setelah Tahun Baru Imlek (16/1). Dan Kemenkes merilis pedoman pengendalian dan pencegahan virus serta menyerukan mobilisasi umum secara terpusat.

Hasil dari gercep tersebut, sungguh memuaskan. Pada 26 Februari saja, otoritas kesehatan Vietnam hanya mencatat 16 kasus C-19. Itupun berhasil dipulangkan dari RS semuanya dalam keadaan sehat.

“Kami menerapkan diet ketat pada pasien C-19,” demikian ungkap sumber di Kemenkes Vietnam.

Dalam menangani kasus penyakit yang ditimbulkan oleh virus, Vietnam punya pengalaman dalam memerangi epidemi SARS di tahun 2003. Saat itu, Vietnam menerapkan 2 langkah tegas. Pertama melacak kontak secara intensif selain memantau ketat terhadap program karantina orang yang terinfeksi.

“Dengan 2 langkah tersebut, kami berkeyakinan akan mampu menekan kasus infeksi menjadi kurang dari 1000 orang.” Dan belakangan ini sungguh terbukti.

Dalam melakukan pelacakan kontak, Vietnam melakukannya dengan 3 cara: identifikasi kontak, daftar kontak dan tindak lanjut kontak. Tentu saja dalam memudahkan aktivitas tersebut, mereka menggandeng petugas kesehatan, petugas keamanan, pegawai negeri sipil dan juga militer.

Contoh paling gamblang adalah bagaimana mereka menangani pasien nomor 91. Butuh 300 personil yang dikerahkan dalam identifikasi kontak, daftar siapa saja yang telah melakukan kontak dengan pasien, serta tindak lanjut penanganannya ke fasilitas karantina.

Semua dilakukan hanya dalam 2 hari saja, dengan tujuan utama yaitu menekan laju penyebaran C-19.

Lalu bagaimana dengan kasus massal?

Itu juga pernah terjadi di negara tersebut. Pada 12 Februari dimana sebanyak 5 orang telah terinfeksi C-19 di Propinsi Vinh Phuc. 5 orang tersebut merupakan para pekerja yang baru pulang dari Wuhan dan harus menjalani program isolasi selama 20 hari.

Di bandara, yang merupakan jalur keluar masuk orang ke negara tersebut, pemerintah Vietnam menerapkan aturan yang mewajibkan deklarasi medis untuk semua penumpang yang tiba, selain karantina yang juga harus diikuti.

Hal penting lainnya yang diterapkan oleh pemerintah adalah penggunaan teknologi selama masa pandemi berlangsung.

Misalnya nih, dalam rangka memastikan transparansi dan akuntabilitas publik, setiap warga negara bisa mengakses informasi tentang lokasi semua kamp karantina (terutama yang dijaga pihak militer) melalui platform media sosial – Zalo – yang cukup terkenal disana.

Jadi kalo ada yang bilang data pasien C-19 di negara tersebut dimanipulasi oleh negara, main lu kurang jauh, Bray…

Jadi teknologi memainkan peran penting dalam memantau pasien yang dicurigai dan dikonfirmasi atau yang sudah terinfeksi. Dan kemenkes telah bekerjasama dengan perusahaan teknologi untuk bisa memberikan pelaporan secara online.

Ada aplikasi NCOVI yang diperkenalkan oleh Kementerian Informasi dan Komunikasi, yang memungkinkan semua warga negara secara proaktif menyatakan status kesehatan mereka setiap harinya.

Pemerintah Hanoi juga memakai aplikasi SmartCity, guna melacak kasus terinfeksi, dikarantina atau yang sudah pulih dari Corona.

Bagaimana itu semua bisa dilakukan?

Pemerintah mengharuskan semua pasien untuk menginstal aplikasi tersebut di ponsel mereka. Jadi saat mereka pindah posisi barang 20-30 meter saja dari tempat isolasi mereka, maka alarm akan otomatis berbunyi dan pemberitahuan akan dikirim ke kepala distrik perumahan guna tindak lanjutnya.

Melalui sentuhan teknologi, pemerintah Vietnam berhasil merespon pandemi C-19 dengan menyajikan data yang bukan saja akurat namun juga up to date.

Walaupun penggunaan teknologi menimbulkan kekhawatiran tersendiri atas kontrol negara pada peretasan data pribadi setiap warganya, nyatanya 62% warga Vietnam cukup puas akan respons pemerintah dalam menangani C-19.

Terlepas dari sistem negara sosialis yang dianutnya, Vietnam layak dijadikan acuan dalam menanggulagi pandemi C-19. Setidaknya sudah kasih referensi yang mumpuni bagaimana harus bertindak dengan tepat.

Jangan dikit-dikit cuma bisa teriak Kopar-Kapir dan Kuminis, tapi ujungnya malah nggak ngasih solusi sama sekali.

“Jangankan kasih solusi Bang, lha diatur sama pemerintah aja masih ngeyel.”

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!