The party is about to begin

In Politik

The party is about to begin

Apa menariknya mengulas tentang aksi reuni kampus sorga yang berlangsung Sabtu, 2 Desember 2017 kemarin? Walaupun sepi pemberitaan media, namun toh suka tidak suka acara tersebut telah berlangsung. Pertanyaannya, untuk apa acara tersebut digelar?

Dalam setiap event yang melibatkan banyak massa, pasti ada pendana-nya. Bagi saya, sederhana, dimana acara digelar, pasti si donatur setidaknya ada didalamnya, minimal untuk mengawasi jalannya aksi yang dia danai. Jangan sampe kejadian, dia udah menggelontorkan uang, dijanjiin untuk dihadiri 7juta orang, eh taunya yang datang cuma 7ribu orang. Bisa rugi bandar, tongg… Apa kata dunia, coba…??

Nah kita lihat, siapa yang datang disana? Ada capres abadi PS yang kemudian membagikan buku kecil saat acara berlangsung. Ada pula klan cendana yang lain. Dari situ jelas sudah, siapa pendana-nya. Yah nggak mungkin juga donaturnya si ustadz Kiwil. Bisa-bisa dikasih istri-istrinya nanti buat modal demo nanti…

Kemudian kita lihat, siapa-siapa yang terlibat?

Ada 3 komponen yang terlihat. Pertama, Gerindra. Yang kedua, PKS sebagai tim hore. Nah yang ketiga, adalah ormas yang sudah dibubarkan dan dicap sebagai organisasi terlarang oleh pemerintah. Ya, benar… HTI. Sebagai informasi yang saya terima, reuni ini sudah digembosi oleh pihak NU dan Muhammadiyah. “Aksi 212 tahun lalu (2016) bisa ‘meriah’ karena kedua ormas besar ini (NU dan Muhammadiyah –red) banyak oknum-oknumnya yang melibatkan diri, bang,” demikian lontar teman saya yang kerja di dunia intelijen. Oo, pantes kalo gitu. Singkatnya, aksi reuni perdana ini, jumlahnya sudah jauh berkurang. Alhamdulillah, banyak yang sudah sadar rupanya.

Terus, kalo secara kuantitas jumlah mereka berkurang, apakah pertanda mereka akan gulung tikar?

Nanti dulu…

Sebelum menjawab soal itu, apa urgensi dilaksanakannya event tersebut. Konsolidasi 2019. Itu kata kuncinya. Terlepas siapa yang akan diusung sebagai lawan jokowi di 2019, namun acara ini punya 3 tujuan. Pertama, untuk konsolidasi internal. Maksudnya, kalo ajang reuni tidak diadakan tahun ini, melainkan pada tahun 2018, akan nampak sekali bau politisnya. Berbeda kalo tahun ini digelar, dan tahun depan digelar kembali, maka pernyataan bahwa reuni syarat unsur politis, akan mudah ditepis. “Cuman reuni doang, kok…”

Kedua, dari pihak panitia sebagai ajang pemetaan. Maksudnya? Panitia akan mampu memetakan, daerah mana saja yang potensial untuk digarap sebagai kantung suara di pilpres 2019 nanti. Begini maksudnya. Contoh, simpul Karawang mampu kirim 10 bis, namun Tangerang hanya mampu kirim 2 bis, kan bisa dipetakan bahwa Karawang lebih potensial untuk digarap ketimbang Tangerang. Terlebih lagi, pilkada Jabar (dimana Karawang ada di dalamnya) berlangsung tahun depan. Maka akan memudahkan proses mapping tersebut. Aha…cerdas juga rupanya.

Ketiga, bagi pihak HTI, ini adalah ajang show of force. Boleh saja pemerintah membubarkan ormas ini. Namun, militansi kadernya tidaklah otomatis mati suri. Mereka masih eksis. Terbukti pada acara tersebut, bendera plus atribut HTI yang serba Khilafah itu, banyak bertebaran. Dan puncaknya mereka menerbangkan balon yang mengusung bendera HTI ke udara. Singkatnya kalo bulan bisa ngomong: “Helo…gue masih ada nih, belum koit…” Tercatat, menurut data yang saya dapat, ada sekitar 1-2jutaan massa dan simpatisan HTI tersebar di Indonesia. Jumlah yang kecil memang, Namun jika berkolaborasi dengan PKS, maka efek duet-nya bisa kita lihat pada pilkada DKI kemarin.

2019 memang masih jauh. Namun konsolidasi yang baik, akan menentukan siapa pemenangnya, kelak. Bukan pada kuantitas, tapi kulitasnya. The party is about to begin. Ini bukan akhir, melainkan permulaan rally dari sebuah proses yang panjang.

Skor sementara memang 1-1. Namun, tackling dan sliding akan makin keras menuju babak akhir pertandingan. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk, dimana banyak teman menjadi unfriend dan banyak grup sosmed akan ada penyusup-penyusup. Dan ujug-ujug, kita akan dibuat gerah karenanya…

Hmm… Bau gosong itu mulai tercium, jenderal…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 2)

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama saya sudah jelaskan fakta tentang si Kopit. Bahwa

Read More...

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1)

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Bagaimana cara membuat orang takut? Pakai propaganda jawabannya. Kalo anda pernah

Read More...

Belajarlah Dari Sejarah

Belajarlah dari Sejarah Oleh: Ndaru Anugerah “Apakah abang setuju bila Papua Barat memisahkan diri dari Indonesia?” tanya seorang melalui kanal whatsapp.

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo