Siapa Tandemnya?

In Politik

Selepas pertemuan dengan aktivis 98, Jokowi ditanya oleh kalagan pers tentang siapa yang akan dipilih mewakili beliau di pilpres 2019. Jawabannya singkat: “Tanya aktivis 98.”

Gak lama setelah pernyataan terlontar, whatsapp saya pun mulai kebanjiran pesan dengan nada pertanyaan yang sama: “Siapa pendamping pakde?”

Sebel juga, kalo harus tebak-tebak buah manggis. Pasal saya bukan dukun. Jujur informasi secara ajeg juga masih di-keep sama kalangan istana. Gimana cara jawabnya, coba?

Terpaksa nyerah, daripada harus diteror mlulu dengan pertanyaan, yang itu-itu juga.

Saya pernah menulis, kalo 2019 adalah era take-off buat Jokowi. Harus ada suksesor di 2024 nanti, dan kudu dipersiapkan dengan baik. Kalo menaruh sang suksesor menjadi wapres, itu mah cara jadul. Pasti sang cawapres akan dibantai abis-abisan sama kaum kamfret fetamburan dan para oposisi lainnya, baik sebelum ataupun sesudah launching paslon, Agustus nanti.

Aliasnya, jabatan cawapres nanti, adalah jabatan operasional. Orang tersebut harus bisa kerja, terutama sama pakde. Yah, ibarat naik sepeda tandem. Gak mungkin satu ngegenjot maju, yang satu ngejenjot mundur. Yang ada stagnan, seperti tandem pakde dengan Opa Jack saat ini.

Nah, dari clue tersebut, langsung ditarik ke informasi yang cukup vital. Pertanyaannya: sampai detik ini, siapa cawapres yang dikantongi pakde? Ada yang bilang 5, ada yang 10, ada juga klaim 9. Kebanyakan, menurut saya. Dalam analisa saya, cawapres potensial cuma 3 orang: Mahfud, Moeldoko sama TGB.

Ini dapat dilihat benang merahnya dari statement yang keluar di media massa mainstream, baik dari pakde maupun dari pihak partai-partai penyokong utama pakde. Lagian, semua cawapres tersebut bukan ketua partai. Akan lebih aman buat pakde, karena tidak ada vested-interest partai di dalamnya.

Kebayang gak, kalo misalnya cak Imin yang diajuin? Partai pendukung bakalan mencak-mencak minta jatah yang sama. Biar adil, kalangan non ketua parpol yang diajukan.

Terus, gimana dinamikanya?

Dari pihak pakde sendiri, sebenarnya lebih klop ke Mahfud. Namun apa daya, pihak mama Mega punya calon yang berbeda. Mama punya 2 nama: Moeldoko dan TGB. Sah-sah aja sih namanya masuk bursa. Maka tidak heran kalo hari-hari belakangan nama TGB ramai dibicarakan. Terutamanya setelah pertemuan Bogor, antara pakde dan mama.

“Cawapres Jokowi akan diumumkan ketika cuaca cerah, secerah matahari yang terbit dari timur,” begitu kata mama Mega. Selaku seorang linguistik, saya sangat paham maksudnya. Orang tersebut berasal dari wilayah timur Indonesia. Dan itu mengerucut pada sosok TGB.

Selepas pernyataan simbolis tersebut, pakde yang merasa kurang sreg, langsung melontarkan pernyataan balasan, dengan meminta KPK untuk menelisik siapa cawapres yang pas. Kalo udah melibatkan KPK, berarti cawapres yang digadang, pasti terindikasi ada bau-bau korupsinya. Dan dari ke-3 nama, TGB lah yang sekali lagi terendus kasus Newmont.

Terpaksa dahh, TGB-pun angkat koper. Ibarat tim panser yang dipaksa pulkam sama tim Korsel.

Tinggal tersisa 2 nama, sang Jenderal dan Mahfud. Dan dinamika pada polling yang dilakukan via sosmed, sudah terlihat tuh, siapa nama cawapres yang akan menjadi definitif dalam waktu dekat. Coba cek: siapa pemenang polling antara Mahfud dan Moeldoko selaku pasangan tandem pakde?

Kalo diminta saran, siapa yang lebih pas, maka saya akan jawab dengan pertanyaan: apakah kerja operasional seorang wapres nanti-nya hanya melulu soal hukum dan ketata-negaraan? Bukan-kah masalah yang dimiliki bangsa ini cukup multi-dimensional? Jadi yang dibutuhkan praktisi, bukan cendikiawan, pastinya.

Saya harap, dengan hadirnya tulisan ini, hidup saya bisa lebih tenang. Semoga teror via whatsapp segera berlalu. Mending kirimin sesuatu yang bermanfaat, lah. Misalnya kirim parcel kek, atau minimal kirim video Lagi Syantik. Biar kita bisa joget-joget pake Tik-Tok…

Betewe, bukannya Syantik tuh kata sifat, ya? Apa jaman NOW sudah berubah jadi kata kerja?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

One commentOn Siapa Tandemnya?

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu