Sarat Rekayasa (*Bagian 1)


520

Sarat Rekayasa (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bagaimana Abang memaknai perang Ukraina-Rusia?” tanya seorang di ujung sana.

Saya perlu meralat pertanyaannya. Yang terjadi sesungguhnya bukanlah perang, namun konflik yang dipaksakan. Itu yang terjadi dari awal hingga saat ini. (baca disini dan disini)

Apa tujuannya?

Mengkatalisasi mega proyek sang Ndoro besar, The Great Reset. Dengan adanya konflik yang dipaksakan tersebut, maka ekonomi global akan makin terpuruk akibat efek domino yang ditimbulkannya. (https://news.un.org/en/story/2022/03/1114602)

Saya akan kasih anda sedikit bukti, kalo yang terjadi saat ini adalah konflik yang dipaksakan, alias hanya main ‘perang-perangan’.

Sebelum menjawabnya, apakah anda paham esensi perang?

Secara harfiah, perang adalah permainan yang dibuat sang Ndoro besar, untuk memuluskan rencananya pada wilayah yang dilanda perang tersebut.

Perang di Irak yang dilakukan AS dan sekutunya, 2 tahun selepas serangan 911, misalnya.

Apa pemicunya?

Nggak lain adanya isu yang dilontarkan oleh Gedung Putih bahwa Saddam Hussein yang ‘katanya’ berkomplot dengan teroris Al Qaeda, tengah memproduksi senjata pemusnah massal (WMD) yang dapat digunakan guna menyebar teror ke seluruh dunia. (https://www.washingtonexaminer.com/weekly-standard/saddams-al-qaeda-connection)

Apakah terbukti tudingan tersebut?

Nyatanya itu adalah hoax yang nggak pernah terbukti kebenarannya, karena memang nyatanya Irak nggak pernah punya teknologi secanggih yang diisukan, apalagi untuk memproduksi pemusnah seperti yang dituduhkan. Terlalu lebay. (https://www.theguardian.com/world/2004/oct/07/usa.iraq1)

Itu hanya alasan untuk meluluh-lantakan Irak dibawah kepemimpinan Saddam Hussein yang mulai iseng terhadap kartel sang Ndoro besar. (baca disini)

Siapa yang diuntungkan atas perang tersebut?

Tentu saja kontraktor-kontraktor militer swasta, alias Military Industrial Complex yang ‘bermitra’ dengan pemerintah AS. Dengan adanya perang, mereka berhasil meraup untung sebanyak-banyaknya, minimal dari hasil jualan senjata. (https://www.aljazeera.com/opinions/2014/1/11/big-money-behind-war-the-military-industrial-complex/)

Nggak hanya itu.

Pasca perang-pun mereka masih bisa meraup untung dengan cara menggelar proyek untuk merekonstruksi daerah yang hancur karena perang dan juga hak kelola wilayah ‘strategis’.

Sekilas tujuannya sangat mulia.

Padahal kalo dicermati ada 2 hal yang berlaku disana.

Pertama, negara yang hancur akibat perang ‘dipaksa’ berhutang untuk memperbaiki jaringan infrastuktur yang rusak parah (ujung-ujungnya rakyat yang harus membayar hutangnya). Dan kedua, bantuan yang diberikan punya segudang syarat yang diberikan sebelum bisa dicairkan.

Jangan anda pikir kalo hutangan itu diberikan dengan sangat mudahnya, ya. Semua tergantung kepentingan.

Untuk mempermudahkan rencana ini, maka pasca perang, biasanya mereka membentuk pemerintahan boneka yang kelak mudah disetir sana-sini, yang lagi-lagi untuk kepentingan sang Ndoro besar di wilayah tersebut.

Kasus di Irak adalah yang paling gamblang.

Pasca perang, AS sengaja membentuk Coalition Provisional Authority (CPA) sebagai ‘boneka’ mereka, yang kelak harus mau disetir sesuai kebutuhan. (https://www.jstor.org/stable/10.7249/mg847cc)

Saya kasih ilustrasi tambahan yang mudah anda cerna.

Anda pasti tahu bahwa pasca perang, maka sumur minyak yang ada di Irak butuh perbaikan sana-sini. Lalu siapa yang diberikan hak untuk mereparasi dan mengoperasikan ladang minyak tersebut oleh CPA?

Jawabannya: Kellogg Brown & Root (KBR), sebuah perusahan kontraktor militer swasta asal AS, yang merupakan jejaring kartel sang Ndoro besar. Apakah ini hanya kebetulan semata? (https://news.un.org/en/story/2005/12/164852)

Ada lagi kontraktor militer swasta lainnya yang diberi ‘proyek’ pemulihan di Irak, yaitu DynCorp.

Alih-alih untuk mendanai proyek pemulihan, nyatanya DynCorp malah menggarap proyek yang lain yang nggak kalah ‘strategis’, yaitu perdagangan anak-anak dibawah umur untuk dijadikan budak seks bagi para pedofilia. Apa nggak gila? (https://www.thelibertybeacon.com/u-s-a-private-military-contractor-dyncorp-is-a-child-sex-trafficker-what-the-un-doesnt-want-you-to-know/)

Sekarang kalo diringkas, siapa yang diuntungkan dengan adanya perang?

Tentu saja kartel sang Ndoro besar.

Dan ini berlaku bagi setiap perang yang digelar dibelahan bumi manapun.

Kalo anda cermat, di kedua kubu yang sedang berseteru, pasti ada kartel sang Ndoro di belakangnya dalam hal dukung mendukung. Dengan kata lain, mereka pasang taruhan di kedua pihak.

Sambil menjual senjata kepada kedua kubu, usai perang mereka-pun bakal dapat proyek rekonstruksi dan tata kelola wilayah, terutama pada kawasan yang kaya sumber daya alamnya (dari mulai minyak, gas, emas hingga logam tanah jarang).

Ketentuan ini berlaku pada siapapun kubu yang menang perang. Dan sudah pasti kubu yang menang perang, adalah ‘boneka’ yang sengaja pasang agar kelak bisa mereka atur.

Lalu apa relevansi saya bicara soal perang dan konteks konflik yang dipaksakan antara Ukraina dan Rusia?

Pada bagian kedua kita akan bahas.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!