Saat SickKids Melawan Mainstream

In Sosial Budaya

Saat SickKids Melawan Mainstream

Oleh: Ndaru Anugerah

Pandemi si Kopit telah menghantam dunia selama beberapa bulan. Selama itu juga gedung-gedung sekolah ditutup di seluruh penjuru dunia. Anak-anak diwajibkan bersekolah di rumah sesuai anjuran WHO. Home learning istilahnya. Tidak terkecuali di Kanada.

Namun ada yang beda hari-hari belakangan ini, khususnya yang terjadi di Toronto, Kanada.

Ada apa di sana?

Toronto’s Hospital for Sick Children yang lebih dikenal dengan nama SickKids, baru-baru ini telah mengeluarkan laporan terperinci tentang penutupan sekolah dan dampaknya bagi anak.

“Kami menemukan bahwa penutupan sekolah dapat berdampak serius pada kesehatan fisik dan mental anak-anak usia sekolah,” demikian kurleb isi laporan tersebut. (http://www.sickkids.ca/PDFs/About-SickKids/81407-COVID19-Recommendations-for-School-Reopening-SickKids.pdf)

Bukan itu saja. SickKids juga melaporkan bahwa kerugian yang bisa dialami anak karena tidak boleh bersekolah, seperti: peningkatan depresi, trauma, penyalahgunaan narkoba hingga keinginan untuk bunuh diri yang kuat. (https://muchadoaboutcorona.ca/2114-excess-suicides/)

Lalu, apa dasar dari SickKids mengeluarkan laporan tersebut? Bukankah selama ini diklaim bahwa anak usia sekolah sangat rentan terhadap pandemi si Kopit?

Justru sebaliknya.

“Terdapat bukti kuat bahwa mayoritas anak-anak yang terinfeksi SARS-CoV-2, baik yang bergejala ringan maupun TANPA GEJALA sekalipun, tidak menyebabkan kematian pada mereka, karena tidak adanya laporan kematian anak hingga saat ini.”

Dengan kata lain, SickKids mau bilang kalo klaim selama ini yang bilang bahwa anak-anak usia sekolah rentan terhadap kematian akibat si Kopit, nggak ada datanya alias lebih pada asumsi semata.

Apa lagi yang direkomendasikan oleh SickKids?

Tentang penggunaan masker wajah misalnya. “Masker wajah baik itu medis maupun non-medis TIDAK DIPERLUKAN ATAU DIREKOMENDASIKAN untuk anak-anak yang kembali bersekolah,”

Apa dasarnya?

“Masker wajah, jika dipakai secara tidak benar, justru dapat menyebabkan peningkatan RISIKO INFEKSI selain TIDAK PRAKTIS bagi seorang anak untuk mengenakannya dengan benar selama hari sekolah,” begitu ungkap SickKids.

“Selain itu kurangnya bukti bahwa memakai masker wajah DAPAT MENCEGAH PENULARAN SARS-CoV-2 PADA ANAK-ANAK,” papar SickKids.

Bukan itu saja. SickKids juga melaporkan, bahwa aturan tersebut juga berlaku sama pada penggunaan masker orang dewasa. Itulah sebabnya laporan tersebut menyarankan para guru untuk mengajar TANPA MENGGUNAKAN MASKER.

“Ekspresi wajah adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam menjalin komunikasi antara guru dengan murid-murid. Ini jelas tidak boleh dihilangkan oleh anak-anak saat belajar.” (https://muchadoaboutcorona.ca/fundamental-instincts/)

Bagaimana dengan aturan jarak fisik? Haruskah anak-anak melakukannya?

“Jarak fisik yang ketat TIDAK DITEKANKAN PADA ANAK-ANAK DI LINGKUNGAN SEKOLAH. Selain tidak praktis, physical distancing dapat menyebabkan KERUSAKAN PSIKOLOGIS YANG SIGNIFIKAN. Interaksi yang erat seperti bermain dan bersosialisasi merupakan pusat perkembangan anak dan tidak seharusnya dicegah oleh sesuatu yang tidak mendasar.”

Sepertinya, tim perumus kebijakan dari SickKids tahu pasti, bahwa anjuran yang selama ini diberikan oleh WHO untuk diterapkan, bukan saja nggak mendasar, tapi juga sesat. “Masa iya yang sesat diikuti?”

Apakah SickKids tidak memberikan saran sama sekali terhadap bahaya penyebaran si Kopit?

Nggak juga.

Mereka justru kasih masukkan yang dapat diterima akal sehat. “Jika cuaca memungkinkan, sebaiknya memberikan pembelajaran di luar kelas.”

Selain itu Sickkids juga menekankan pada ventilasi yang ada pada ruang-ruang kelas, dimana proporsi udara luar yang masuk melalui sistem tersebut, justru harus ditingkatkan. “Dengan adanya sirkulasi udara yang baik, bukankah penyebaran virus menjadi kurang efektif?”

Dan ajaibnya lagi, SickKids menyatakan, “Anak-anak berisiko tinggi TIDAK DISARANKAN UNTUK DIKARANTINA, karena tidak ada bukti yang meyakinkan untuk hal itu. SARS-Cov-2 tidak lebih menular daripada virus influenza.”

Pernyataan tersebut selaras dengan temuan CDC, bahwa si Kopit nyatanya nggak berbeda dengan virus pernafasan lainnya seperti influenza. (https://muchadoaboutcorona.ca/cdc-report/)

Logis kalo kemudian SickKids merekomendasikan untuk anak-anak bisa kembali bersekolah.

Saya jadi ingat pernyataan keras yang dikeluarkan oleh San Cunial selaku anggota Parlemen Italia baru-baru ini. “Akibat pandemi, anak-anak yang harus menanggung akibatnya dengan melanggar hak-hak yang mereka miliki. Mengapa mereka diperbolehkan bersekolah hanya dengan aturan yang sangat ketat?” (https://muchadoaboutcorona.ca/schools-into-concentration-camps/)

Seakan Sara Cunial mau ngomong, kalo sekolah itu tempat bersosialisasi anak dan BUKAN Kamp Konsentrasi Corona. “Kok mau sekolah aja dengan aturan super ketat yang buat ribet anak?”

Semoga makin banyak pemikiran yang mengutamakan akal sehat di luar sana.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Jejak Gates di Indonesia

Jejak Gates di Indonesia Oleh: Ndaru Anugerah Siapa nggak kenal Bill Gates? Saya yakin, sedunia pasti kenal lah dengan sosok yang satu

Read More...

Krisis di Chad

Krisis di Chad Oleh: Ndaru Anugerah Presiden Idriss Deby terbunuh ditangan pemberontak Front Chad untuk Perubahan dan Kesesuaian (FACT), setelah kurleb

Read More...

Proyek Nyamuk Gates (*Bagian 2)

Proyek Nyamuk Gates (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama tulisan, saya sudah mengulas tentang rencana Oxitec dalam mengendalikan nyamuk

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu