Saat Pakde Merajut Hubungan

In Politik

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, kenapa China belum juga membantu Indonesia dalam menanggulangi wabah COVID-19? Katanya Indonesia rekan strategis China? Kok yang dibantu malah Italia duluan?”

Begitulah kira-kira pertanyaan yang ditanyakan kepada saya, terkait bantuan China sebagai rekan strategis Indonesia, yang belum juga kelihatan hilalnya, beberapa hari yang lalu.

Yang anehnya menurut masyarakat awam, Italia yang demikian jauhnya kok malah dibantu duluan, sedang Indonesia yang jaraknya sepelemparan lembing kok terkesan dihiraukan.

Saya coba jawab, ya..

Dalam geopolitik, semisal bantuan-pun punya aspek pertimbangan yang matang. Tak terkecuali bantuan kemanusiaan China ke Italia yang dinilai membawa dampak strategis yang lebih besar ketimbang buat Indonesia.

Sebagai negara anggota G7 dan juga anggota Uni Eropa, Italia dinilai punya point strategis yang lebih karena juga beraliansi dengan NATO dan AS. Bayangkan jika hubungan yang sudah terjalin demikian mesranya antara Italia dan negara-negara Barat sukses ditelikung oleh China?

Dengan ditandatanganinya proyek BRI China oleh Italia, maka negara-negara Barat utamanya AS jadi ketar-ketir. Hal ini diperparah oleh hadirnya sosok Giuseppe Conte sebagai PM Italia saat ini.

“Conte lebih memprioritaskan Tiongkok sebagai rekanan ketimbang Uni Eropa dan juga AS,” demikian ungkap Paolo Guerrieri pakar Ekonomi Politik di La Sapienza University. Wajar saja, karena Conte adalah seorang sosialis. Lihat saja partai-partai pendukungnya. Jadi klop!

Jangan heran jika Conte yang sempat teriak minta bantuan ke negara-negara Eropa dan juga AS, toh nyatanya nggak juga dibantu. Justru akhirnya China yang merespon teriakan minta tolong dari Conte.

Karenanya, bangsa Italia sangat berterima kasih atas dukungan China dalam mengatasi krisis COVID-19 yang sedang mereka alami.

Bantuan kemanusiaan ini jangan dipandang sebagai bantuan secara letterlijk, karena sarat nilai politisnya. Ingat program Marshall Plan yang digelar oleh AS sebagai bantuan pemulihan kepada negara-negara Eropa yang hancur berantakan gegera Perang Dunia II?

Apa motifnya selain membendung pengaruh Uni Soviet pada negara-negara Eropa semasa perang dingin? Ya, bantuan China kepada Italia kurleb-nya sama.

Bahkan bantuan China yang diberikan kepada Serbia berhasil membuat Presiden Serbia – Aleksandar Vucic mengeluarkan statement: “Solidaritas Eropa tidak (pernah) ada, hanyalah dongeng semata. Satu-satunya negara yang dapat mebantu kami adalah China.” (New York Times, 18/3)

Singkatnya, langkah catur China dalam memecah soliditas negara-negara Eropa, kini sedang dimainkan. Dan AS sebagai centeng nggak akan tinggal diam melihat skenario yang sedang dimainkan oleh negera Tirai Bambu tersebut. Akan ada aksi kedepannya. Percayalah…

Kembali ke laptop…

Lantas, Indonesia apakah akan ditinggalkan oleh China?

Ya nggak lah. Gampang lihatnya. Nilai perdagangan Italia-Tiongkok pada 2018 hanya bernilai 48,25 milyar USD. Sedangkan nilainya di Indonesia mencapai 72,7 milyar USD. Dengan selisih nominal yang demikian besar, apakah Indonesia bukan dipandang sebagai rekanan strategis?

Tentu tidak Rudolfo..

Ada beberapa alasan kenapa China tidak serta menawarkan bantuan kepada Indonesia secara vulgar.

Pertama, strain COVID-19 yang kini melanda Indonesia memiliki kesamaan dengan yang pernah menyerang Wuhan. Dengan kata lain, penanganannya nggak akan banyak makan waktu ketimbang Italia yang strain COVID-19 nya berbeda dengan yang di Wuhan.

Kedua, secara geopolitik posisi Indonesia yang berdekatan dengan China akan lebih memudahkan komunikasi kedua negara ketimbang Italia yang jaraknya sudah beda benua. Dengan suksesnya China membantu Italia, maka AS akan makin kebakaran jenggot.

Kalo Indonesia duluan yang dibantu China, nothing to lose bagi Mamarika. Lha wong Indonesia sudah ditendang sebagai miitra strategis AS, dengan dicoretnya status Indonesia sebagai negara berkembang menjadi negara maju.

Dan yang ketiga, Indonesia terlalu banyak proxy AS bercokol.

Gak percaya? Saya kasih contoh.

Dokter Terawan sebagai Menkes memang orangnya pembawaannya santuy. Namun bukan berarti dia nggak punya konsep sebagai dokter sekaligus mantan perwira tentara yang pernah menjabat sebagai ketua International Committee on Military Medicine (ICMM).

Namun perilakunya bagi orang awam, cukup membuat gerah suasana.

Saat COVID-19 mulai masuk ke Indonesia, ketimbang memberi solusi yang berarti dalam menanganinya, eh dia malah menyuruh orang untuk berdoa.

Saat COVID-19 mulai meningkat eskalasinya, eh dia malah nyuruh masyarakat untuk mengkonsumsi obat herbal sebagai doping daya tahan tubuh. “COVID-19 nggak lebih parah ketimbang penyakit difteri,” katanya.

Dan saat orang-orang meminta pemerintah untuk menyediakan masker untuk dipakai, ketimbang menyediakan apa yang diminta, eh dia malah buat pernyataan: “Siapa juga yang nyuruh beli masker sehingga harganya jadi selangit? Masker itu hanya untuk yang sakit. Yang sehat gak usah pakai.”

Apa yang terjadi kemudian? Aliansi Koalisi Sipil yang mayoritas LSM, rame-rame memintanya mundur. “Turunkan Terawan,” demikian teriakannya. Siapa yang bergerak dibelakang mereka, silakan anda menyimpulkannya sendiri.

Sadar situasi, Jokowi akhirnya menyuruh Prabowo untuk terbang ke China guna menjemput bola minta bantuan. Padahal, nggak mungkin juga Indonesia ujug-ujug nyelonong duluan ke China tanpa ada kode untuk datang dari tuan rumah sebelumnya.

Dan mekanisme penjemputan bantuan memakai pesawat militer oleh Menhan, jelas langkah cerdas dalam menghalau rintangan yang mungkin dibuat oleh para proxy.

“Apa berani para proxy nyinyir dan mengkritisi tindakan yang ambil oleh tentara? Bisa dibayangkan jika yang menjemput bantuan ke China adalah pesawat sipil atau pesawat kepresidenan? Maka akan keluar teriakan seperti: pemerintah antek aseng, hingga pemerintah pro-komunis.”

COVID-19 ini jelas merupakan rencana AS yang gagal, minimal atas wilayah Asia.

Pertanyaannya: akankah langkah AS yang tengah dikuasai partai Republik, hanya terhenti sampai disini?

Ikuti ulasan saya selanjutnya.

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

COVID-19 di Italia

COVID-19 di Italia Oleh: Ndaru Anugerah Belt and Road Initiative merupakan satu-satunya inisitiatif yang dibuat China dan bersifat global. Memang sesungguhnya

Read More...

Hoax dari Amrik

Hoax dari Amrik Oleh: Ndaru Anugerah Klaim di media sosial menuduh pemerintah AS "baru saja menangkap" Dr. Charles Lieber dari Universitas

Read More...

Rame-Rame Kroyok LBP

Rame-Rame Kroyok LBP Oleh: Ndaru Anugerah Awalnya gabener Aibon yang mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan operasional bus AKAP, bus AJAP serta bus

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo