Saat CDC Dipaksa Keok

In Sosial Budaya

Saat CDC Dipaksa Keok

Oleh: Ndaru Anugerah

Apa dampaknya jika vaksin digunakan? Banyak tentunya. Salah satunya adalah autisme yang menyasar anak-anak.

Kok bisa?

Ya karena ada kandungan vaksin yang bernama merkuri Thimerosal yang dapat memicu autisme pada anak.

Ini bukan main-main. Pada sesi dengar pendapat alias audiensi dengan Kongres AS pada November 2012, CDC jelas-jelas mengakui kebenaran bahwa vaksin dapat memicu autisme. (http://healthimpactnews.com/2012/video-highlights-from-first-congressional-hearing-on-autism-in-10-years/)

Namun informasi penting begini, mana pernah diekspos media mainstream yang jadi kepanjangan tangan Big Pharma? Kalo anda ketik di Google misalnya, maka anda akan mendapatkan informasi yang sebaliknya bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme.

Karena informasi salah yang disebarkan media mainstream, akibatnya vaksin flu yang mengandung Thiemerosal masih tetap digunakan pada wanita hamil dan juga bayi. Jangan aneh jika kemudian angka autisme terus meningkat di AS karena tindakan tersebut.

Dan parahnya, CDC masih saja keukeuh untuk mencantumkan pada situs web resminya, bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme.

Mungkin karena kesal dan dianggap menyesatkan publik, Informed Consent Action Network (ICAN) melakukan gugatan hukum federal terhadap CDC di tahun 2017.

“Kalo benar vaksin tidak menyebabkan autisme, mana bukti penelitian yang menunjang?” begitu kurleb tuntutannya. (https://techtodaynewspaper.com/following-ican-lawsuit-cdc-removes-claim-vaccines-do-not-cause-autism-from-its-website/)

CDC nyatanya nggak bisa menjelaskan perihal penelitian yang dapat mendukung klaim yang mereka lakukan.

Paling banter, CDC menyajikan 20 jenis penelitian yang menyatakan vaksin tidak menyebabkan autisme, yang setelah diverifikasi di pengadilan nyatanya penelitian tersebut nggak bisa dijadikan alat bukti yang mendukung klaim CDC.

Bahkan Institute of Medicine yang telah ‘dijadikan rekanan’ oleh CDC menegaskan, “Kami tidak dapat mengidentifikasi satu studi-pun yang mendukung bahwa DTaP tidak menyebabkan autisme.”

Dan uniknya, satu-satunya studi yang relevan yang diajukan CDC malah menyatakan adanya hubungan antara DTaP dan autisme.

Dengan semua temuan ini, CDC dipaksa keok di pengadilan federal.

Akibatnya CDC mengubah konten web mereka dari semula ini:

kemudian menjadi ini:

Pertanyaan kritisnya: kalo vaksin yang telah dikembangkan dalam waktu bertahun-tahun saja bisa menyebabkan autisme, gimana anda yakin dengan vaksin Kopit yang dikembangkan hanya dalam hitungan bulan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Yaman: Tinjauan Geopolitik

Yaman: Tinjauan Geopolitik Oleh: Ndaru Anugerah Seorang bertanya kepada saya, “Kenapa nggak pernah bahas soal Yaman, Bang?” Sekali lagi, bukan saya pilih-pilih

Read More...

Go to Hell with Your Aid

Go to Hell with Your Aid Oleh: Ndaru Anugerah “Bang, pernah nggak Indonesia punya sosok presiden yang berani menentang hegemoni Barat?”

Read More...

Biarkan Data Bicara

Biarkan Data Bicara Oleh: Ndaru Anugerah Adakah orang yang meninggal akibat menggunakan vaksin Big Pharma? Bukan ada lagi. Banyak adalah kata yang

Read More...

2 commentsOn Saat CDC Dipaksa Keok

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu