Preman Ulala

In Hukum, Politik

Sejak lengsengnya Rizieq Shihab dari panggung perpolitikan Indonesia, beberapa upaya terus dilakukan oleh kubu Petamburan untuk mencari figur, siapa yang akan menggantikannya. Namun apesnya, upaya itu selalu berujung kegagalan.

“Belum ada yang mampu mengganti pesonanya,” begitu kata seorang nasrum. Dengan kata lain, gak ada lo, gak rame… Padahal bicara pesona, entah apa maksudnya? Apa ‘pesona adegan kandang kambing’ yang melegenda itu?

Berbekal pada posisi kosong itulah, seorang yang mengaku dirinya Habib Bahar Smith (33 tahun) mencoba peruntungan dengan menawarkan dirinya sebagai sosok pengganti ideal sang Bibul. Terlahir dengan nama Sumayt, kenapa kok bisa berubah jadi Smith yang kebarat-baratan bukan kearab-araban?

Apa yang ditangkap pada diri Rizieq, langsung di copas oleh dirinya. Ceramahnya harus berapi-api, provokatif dan nggak ketinggalan harus mencaci maki pemerintah Jokowi. Termasuk bicara vulgar yang kerap ada disisipkan pada setiap khotbahnya.

“Apabila seorang perempuan itu bibirnya tebal, berarti kemaluannya besar. Apabila perempuan bibirnya kecil, berarti kemaluannya kecil. Apabila bibirnya merah, berarti kemaluannya kering,” ucapnya. Tipikal ulama kampret yang pikirannya selalu bermuara pada selang, alias SELANGKANGAN.

Sontak, ceramah demi ceramah yang mendeskreditkan pemerintah, masif digelar oleh si Bahar. Salah satu yang kontroversial adalah tentang penghinaan simbol negara. “Kamu kalau ketemu Jokowi, kamu buka celananya itu, jangan-jangan haid Jokowi itu, kayaknya banci itu,” khotbahnya berapi-api di depan massa kampret binaannya (17/11).

Merasa tidak terima, aduan ke pihak yang berwajib dilakukan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Jokowi Mania DKI dan juga politikus PSI Muannas Alaidid. Tapi toh, aduan ini tak terdengar kelanjutannya.

Mengapa seorang Bahar merasa cukup pede untuk bisa berbuat apa saja, tanpa harus takut akan dicyduk oleh polisi. Sasus terdengar karena ada yang ngebacking. “Ada Cendana dibelakangnya, bang,” begitu kata seseorang. “Banyak kok foto-foto di dumay yang menjelaskan itu,” tambahnya.

“Antum serang aja Jokowi. Jangan ragu apalagi takut. Ane dibelakang antum,” begitu kurang lebihnya. Makanya jangan heran kalo deretan mobil mewah milik sang Habib pujaan, bisa dimilikinya dalam usianya yang masih belia. Karena memang ada yang ngasih. Siapa lagi, coba?

Untuk mencyduk Bahar, bukan perkara besar. Cuma caranya harus masuk dinalar. Kalo menjeratnya dengan ujaran kebencian terhadap Jokowi, maka amarah kampret akan terus menjadi. Stigma pemerintah melakukan kriminalisasi ulama, akan jadi senjata yang mematikan bagi kubu Jokowi. Harus ada cara lain.

Setelah putar-putar celana kolor, dapatlah satu titik lemah. Ternyata si Bahar pernah memperkusi 2 orang anak (CAJ/18 dan MKU/17) sampai babak belur, karena kedapatan mencatut namanya demi kepentingan pribadi. Parahnya, aksi brutal tersebut divideokan. Walaupun hanya beredar di kalangan kampret pada awalnya, toh rekaman itu bocor ke komunitas WAG seantero Indonesia.

Merasa bahwa aksinya telah beredar secara viral, maka Bahar ketakutan setengah mati dan berniat melarikan diri, karena takut dicyduk. “Antum mau dicyduk, mendingan kabur,” begitu perintah dari seseorang.

Walhasil, semua alat komunikasinya dibuang dan dalam WAG namanya langsung diubah menjadi Rizal. Mulai kebayang, bagaimana dirinya kalo seandainya dirinya masuk bui, nanti. Namun sial tak dapat ditangkal, karena nekat mau kabur, polisi buru-buru mengaman dan memeriksanya secara intensif pada 18 Desember lalu.

Hasilnya, Bahar terbukti melakukan penyiksaan terhadap kedua remaja tersebut di halaman belakang ponpes Tajul Alawiyin Bogor pada 1 Desember. Dan ancaman 9 tahun penjara kini tengah menantinya.

Merasa tidak terima pada tindakan tegas kepolisian, maka si Zonkie pun mendadak nyinyir: “Penahanan Habib Bahar Smith ini bukti kriminalisasi ulama dan diskriminasi hukum di Indonesia. …penahanan ini ancaman terhadap demokrasi.”

Kadang gue mikir, kalo nyinyir yah mbok dipikir dulu, napa? Numpang nanya: apakah orang yang hobinya mempersekusi layak disebut ulama? Itu mah namanya preman ulala, bray…

Ini tahun politik. situasi gaduh tentu tidak diharapkan. dan tindakan Om Tito yang telah sukses menggelandang Bahar ke jeruji besi layak mendapat apresiasi. Bahwa negara tidak boleh tunduk pada tekanan ormas preman berjubah agama. Karena kalo negara sampai tunduk, nasib masa depan bangsa ini taruhannya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Proyek Radikalisme?

Oleh: Ndaru Anugerah Apa yang terbesit di kepala anda saat para tokoh nasional, utamanya orang yang duduk di pemerintahan meneriakkan

Read More...

School of America

Oleh: Ndaru Anugerah Apa yang terbesit dibenak anda kalo saya katakan tentang negara-negara yang terletak di Amerika Latin, Amerika Selatan

Read More...

Tifu-Tifu Berhadiah Kavling Sorga

Oleh: Ndaru Anugerah “Pokoknya antum nggak akan rugi beli kapling di Kampoeng Kurma,” begitu cuplikan perkataan seorang sales KK yang

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo