LOADING

Type to search

Tags: ,

Pernyataan Konyol

Pernyataan Konyol

Oleh: Ndaru Anugerah

“Data kematian akibat vaksin diambil berdasarkan rujukan CDC dan bukan VAERS,” begitu ungkap seorang Profesor di Wakanda.

Omaigat, sadar nggak sih kalo apa yang diomonginnya ngelantur? Gimana rakyat mau cerdas lha wong profesornya aja begitu?

Ngelanturnya dimana?

Sistem Pelaporan Peristiwa Buruk Akibat Vaksin (VAERS) adalah program milik pemerintah AS yang digelar untuk menyatakan bahwa vaksin yang digunakan aman. Dan untuk ini VAERS dikelola bersama dengan CDC dan juga FDA.

Pada prinsipnya, VAERS berusaha mengumpulkan data tentang efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksinasi, sehingga dapat dilihat lebih besar manfaatnya atau tidak. Nah kalo manfaatnya lebih besar ketimbang risikonya, maka vaksin bisa lanjut untuk digunakan.

Dengan kata lain, CDC dan VAERS bukan pesaing satu sama lain, tapi ‘rekan kerja’ yang saling melengkapi. (https://en.wikipedia.org/wiki/Vaccine_Adverse_Event_Reporting_System)

Lantas bagaimana mekanismenya?

Kalo ada laporan masuk ke VAERS setelah seseorang divaksinasi Kopit, maka data yang masuk akan ditindaklanjuti untuk memastikan benar atau tidaknya kejadian yang dilaporkan. Jadi nantinya ada mekanisme check and recheck yang akan dilakukan oleh tim ahli.

Lalu masalahnya dimana?

Database yang dimilki VAERS sangat terbatas, mengingat tidak semua data yang mungkin serius dapat terekam disana. (https://childrenshealthdefense.org/defender/thousands-covid-vaccine-injuries-13-deaths-reported-december/)

Ini dapat terjadi karena sistem pengawasan yang diterapkan VAERS bersifat pasif dan hanya mengandalkan kemauan individu untuk menyampaikan laporan secara sukarela. (https://vaers.hhs.gov/about.html)

Jadi, angka yang masuk sifatnya tidak real time mengingat tidak semua orang mau melaporkan dampak dari vaksin setelah diberikan suntikan. Aliasnya, sangat mungkin data real dari dampak vaksin akan lebih besar lagi dari yang dilaporkan.

Saking kesalnya dengan kondisi tersebut, maka seorang kritikus melayangkan komplain-nya kepada BMJ. “VAERS adalah upaya sistematis pemerintah AS untuk menipu masyarakat tentang keamanan vaksin.” (https://www.bmj.com/content/357/bmj.j2449/rr-0)

Selain itu, situs yang disediakan pemerintah AS tersebut, tidak dapat diakses oleh sebagian besar pengguna yang ingin melaporkan efek samping dari vaksin.

Keluhan tersebut paralel dengan apa yang diungkapkan oleh Prof. Walter Spitzer selaku epidemiolog kondang asal Universitas McGill. “Cara terbaik untuk tidak tahu tentang keamanan vaksin adalah dengan tidak mencarinya. Dan pemerintah telah melakukan cara tersebut.” (https://www.govinfo.gov/content/pkg/CHRG-107hhrg76856/html/CHRG-107hhrg76856.htm)

Sekarang anda paham duduk masalahnya, kan?

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Tags::
Previous Article
Next Article

3 Comments

  1. Banderaz February 28, 2021

    Btw mas, di indo apakah ada badan yg jalankan tugas macam Vaers? Apakah Kipi? Kenapa ngga ada laporan transparan yg mereka sajikan ya?
    .
    Oya mas vaksin2 Big Pharma itu datanya lengkap, seperti Fact sheet dll, tapi saya coba cari data2 seperti itu untuk sinovac ngga ada.
    .
    Di google ada fact sheet sinovac yg dirilis BPOM tapi ngga bisa diakses. Saya coba tanya di akun Twitter nya bpom ngga direspon2.
    .
    Gimana itu mas kalau masyarakat pengenntahu data detail ttg sinovac tpi ngga ada.
    .
    Suwunn mas.

    Reply
  2. Banderaz February 28, 2021

    Saya tahu siapa profesor itu ??. Terimakasih ulasannya kangmas ?

    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Up

error: Content is protected !!