Perang Sesungguhnya (*Bagian 1)


524

Perang Sesungguhnya (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Saya cukup bingung lihat kelakuan para netizen middle-class. Tiap bertanya, arahnya selalu, “Kapan perang nuklir dimulai?” atau “Kapan WW3 digelar?”

Yang saya nggak habis pikir, dapat pikiran darimana mereka kok bisa punya pemahaman seperti itu? Apa benar akan terjadi perang nuklir dalam waktu dekat? Apa iya WW3 bakal digelar sebagai jawaban atas konflik global?

Mari kita jawab dengan pikiran waras.

Sebelum kita bicara tentang perang nuklir, baiknya lihat video yang buat oleh Stephen Frey tentang skenario perang nuklir. (https://youtu.be/spnJ5WDgZnY)

Jika benar begitu skenario-nya (katakanlah Rusia lawan AS), maka 90% populasi dunia dapat musnah sebagai akibatnya. Bukan itu saja. Kota-kota besar lengkap dengan infrastruktur penunjangnya, bakal hancur.

Bahkan sinar matahari akan terhalang selama beberapa dekade sebagai akibat reaksi nuklir yang ditimbulkan.

Nggak usah Rusia lawan AS, lah. Coba kita buat simulasi yang lebih kecil. India lawan Pakistan.

Jika skenario itu terjadi, maka dalam beberapa minggu asap nuklir akan menyebar ke seluruh dunia. Dan di ketinggian 30 km, hujan nggak akan terjadi akibat efek panasnya. Awan yang terbentuk dari debu nuklir juga dapat menghalangi matahari selama bertahun-tahun.

Akibatnya, tanaman pada mati dan panen-pun gagal. Kelaparan akan muncul diakhir cerita.

Dan mereka yang selamat dari ledakan nuklir, kemungkinannya ada 2. Pertama mereka bisa mati karena ditimpa kelaparan. Atau yang kedua, mereka bakal menderita kanker atau penyakit lainnya yang disebabkan radiasi nuklir. Bisa dikatakan bahwa ini adalah akhir dari dunia yang berlangsung hanya dalam sekejap.

Kalopun ada yang selamat karena berada dipedalaman, jumlahnya nggak akan banyak. Nggak sampe 10%, menurut skenario yang dibuat oleh Stephen Frey. Dengan demikian, umat manusia diujung kepunahan. (https://www.wired.com/story/even-a-small-nuclear-war-could-trigger-a-global-apocalypse/)

Sekarang kita beralih pada nasib Ndoro besar jika seandainya skenario ini yang akan mereka ambil pada dunia.

Kenapa ini perlu ditanyakan?

Karena mereka-lah ‘penguasa’ dunia sesungguhnya. Mungkin nggak sih seorang presiden AS sekalipun, mengambil kebijakan yang ‘bertentangan’ dengan kepentingan sang Ndoro besar? Nggak mungkin, bukan? (baca disini dan disini)

Jika ini sebagai keputusan akhir, pertanyaannya: apa nggak ada opsi lain yang bisa diambil mengingat dahsyatnya kerusakan yang bisa ditimbulkan?

Pertimbangan lainnya adalah nuklir nggak bisa pilah-pilah orang berdasarkan status sosial, agama, budaya atau ideologinya. Semua pukul rata bakal kena imbas yang sama.

Jika perang nuklir terjadi, sang Ndoro besar juga harus bersiap untuk ‘dimusnahkan’ olehnya. Sekali meledak, maka radiasinya bakal menyasar siapapun tanpa pandang bulu, apalagi yang nggak ada bulunya. Nggak ada tempat yang aman untuk cari perlindungan.

“Bukankah mereka bisa tinggal pada bunker-bunker yang mereka buat?” tanya seseorang.

Itu bisa-bisa saja, dimana mereka bakalan bersembunyi pada bunker mewah yang telah mereka ciptakan dalam mengantisipasi kemungkinan terburuk. Tapi itu-pun nggak lama karena mereka harus menghirup udara segar yang ada di luar bunker, guna bertahan hidup.

Tapi kalo mereka nekat keluar, bukan udara segar yang mereka hirup, melainkan gas beracun akibat radiasi nuklir.

Masalah nggak berhenti sampai disini, karena manusia juga butuh sinar matahari untuk tetap hidup. Dan ini nggak akan mereka dapatkan selama tinggal di bunker. Kalopun mereka nekat keluar bunker, radiasi nuklir menghalangi sinar matahari untuk bisa menembus atmosfer bumi.

Kesimpulannya, mereka nggak akan dapat paparan matahari akibat efek dari ledakan nuklir.

Ini bukan khayalan, mengingat ledakan nuklir dampaknya ribuan kali lebih kuat dari ledakan bom atom yang menyasar Hiroshima maupun Nagasaki sekalipun. (https://www.popularmechanics.com/military/a23306/nuclear-bombs-powerful-today/)

Satu yang perlu diingat, bahwa sekali ini diambil sebagai opsi, maka nggak akan ada langkah untuk kembali normal seperti sediakala.

Apakah itu yang akan diambil oleh sang Ndoro besar?

Sebagai analis geopolitik, saya sangat meragukannya.

Jadi, bukan skenario perang nuklir yang akan mereka ambil sebagai opsinya. Mereka hanya menginginkan dunia seperti apa adanya, tapi tangan kuasa mereka atas ‘manusia’, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Kehidupan baru yang tanpa belas kasih.

Dan untuk mewujudkan tatanan dunia baru, nggak bisa dicapai dengan skenario perang nuklir yang akan menghancurkan segalanya yang sudah susah-susah mereka bangun lewat utangan yang mereka berikan ke para jongosnya di banyak negara.

Termasuk SDA yang selama ini mereka incar untuk bisa dinikmati, juga bakal hancur lewat perang nuklir. Dan ini sama saja aksi bunuh diri bagi mereka. (baca disini)

Lantas kalo bukan perang nuklir, apa yang akan mereka terapkan dalam membentuk tata dunia baru?

Pada bagian selanjutnya saya akan membahasnya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!