Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 1)

In Politik

Siapa pemenang pilpres 2019?

Pertanyaan inilah yang sering ditanyakan oleh banyak orang jelang hari pencoblosan. Bahwa banyak lembaga-lembaga survei yang memenangkan kubu JOMIN pada last minute, namun itu semua belum bisa menjawab secara definit siapa yang akan memenangkan kontestasi kelak.

“Pilpres kali ini, sebenarnya adalah pertarungan antara Prabowo dan Luhut Binsar,” demikian ungkap seorang analis militer. “Karena yang bergerak di akar rumput adalah mesin pemenangan yang sudah mendapatkan arahan dari kedua tokoh tersebut,” tambahnya.

Mesin pemenangan inilah yang kelak dapat diandalkan untuk meraih suara pemilih, baik yang masih ragu dan belum menentukan pilihan (undecided voters) maupun yang kemudian berubah haluan politiknya (swing voters).

Pada esensinya, untuk meraih suara pemilih sebanyak-banyaknya, perlu ahli strategi yang mengerti ‘perang gerilya’. Dan sebagai mantan tentara yang lama berkecimpung di bidang intelijen, mereka berdua paham sekali bagaimana menjalankan strategi gerilya di lapangan.

Luhut dan Prabowo dipertemukan pada tempat yang yang sama, yaitu korps baret merah (Kopassandha) yang berlokasi di Cijantung.  Kala itu Luhut berpangkat Mayor, sementara Prabowo berpangkat kapten. Mereka berdua adalah pelopor pembentukkan unit anti teror di Indonesia, yang sangat kental dengan dunia intelijen.

Atas masukan Letjen LB Moerdani selaku Pusintelstrat saat itu, kepada Letkol Sintong Panjaitan selaku Asisten 2/Operasi Kopassandha maka perlu dibentuk unit pasukan anti teror yang kelak diberi nama Detasemen 81 Antiteror, alias SAT 81 kini. Kasus pembajakan pesawat Garuda Woyla pada Maret 1981 mempercepat proses pembentukkan unit elit AD tersebut.

Siapa yang akan memimpin unit ini kelak? Diputuskan kemudian Mayor Luhut dan Kapten Prabowo sebagai komandan dan wakil komandan dari kalangan perwira menengah yang menakhodahi unit khusus ini.

Awalnya kedekatan antara Luhut dan Prabowo baik-baik saja, sampai kemudian pada Maret 1983 tepatnya menjelang Sidang Umum MPR terjadi suatu peristiwa yang cukup menggegerkan. Konon katanya akan ada upaya kudeta yang dilakukan oleh LB. Moerdani terhadap Soeharto sebagai penguasa Orba saat itu.

Adalah Prabowo yang memberikan laporan tersebut kepada Luhut. “Ini bahaya Bang. Seluruh ruangan kita sudah disadap. Pak Benny mau melakukan coup d’état. …. Bang, nasib bangsa ini ditentukan oleh seorang Kapten dan seorang Mayor,” demikian tukas Prabowo kala itu.

Rencananya, Moerdani akan ‘diculik’ oleh Den 81 dan dihadapkan secara langsung kepada Soeharto di mako Kopassandha, Cijantung.

Tuduhan Prabowo bukannya tanpa dasar, karena ditenggarai adanya upaya penumpukkan senjata oleh kubu Moerdani saat itu. Karenanya Prabowo meminta dukungan Luhut selaku atasannya di Den 81 untuk menggagalkan upaya kudeta tersebut.

Alih-alih mendapat dukungan, rupanya upaya Prabowo itu justru malah dimentahkan oleh Luhut. “Kamu minta saya mengambil Soeharto ke Cijantung, itu melakukan by pass garis komando seberapa jauh?” demikian tukas Luhut kala itu.

Tentang upaya penumpukkan senjata oleh Moerdani memang bukan isapan jempol. Tapi itu dilakukan bukan untuk kudeta terhadap Soeharto, melainkan untuk mendukung perjuangan para Mujahiddin di Afganistan yang kala itu melawan Uni Sovyet.

Sebagai konsekuensi aksi Prabowo, Luhut melaporkan kejadian tersebut kepada Kol. Sintong Panjaitan selaku Komandan Grup 3/Sandi Yudha kala itu, yang berakibat ‘dibuangnya’ Prabowo dari elit korps Baret Merah menjadi Kepala Staf Kodim.

Sejak itulah, hubungan keduanya retak.

Pemberian jabatan ‘buangan’ inilah yang menyulut ketersinggungan Prabowo yang kala itu dibuat mati gaya terhadap pengaruh Moerdani di lingkungan Angkatan Bersenjata. Jangan heran, saat karir Prabowo belakangan moncer, ‘orang-orang’ yang dianggap dekat dengan kubu Moerdani menjadi tersingkir dan dipersulit jenjang karirnya. Tak terkecuali Luhut Binsar.

Walaupun Luhut kemudian berhasil meraih pangkat bintang tiga, namun karirnya boleh dibilang jalan ditempat. Jangankan posisi Pangdam atau KASAD, posisi Danjen Kopassus-pun dia nggak pernah raih. Mentok hanya di Kodiklat TNI AD sampai pensiun.

Mengapa ini bisa terjadi? Sasus beredar karena adanya gerakan ‘Debennysasi’ di kalangan internal AD yang dilakukan oleh klik Prabowo. Inilah yang kemudian membuat polarisasi hubungan Luhut dan Prabowo menjadi makin menjauh.

Bagaimana peran keduanya pada gelaran pilpres 2019? Dan bagaimana kans kemenangan kedua paslon? Saya akan bahas pada tulisan kedua, malam nanti.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Menguak Jaring Kebencian

Apa yang daya tarik dari seorang Zakir Naik? Retorikanya dalam memberikan dakwah. Setidaknya begitu pendapat mayoritas pemujanya. Pada salah satu

Read More...

Boyongan Pindah

Tok,tok,tok… ibukota negara resmi akan dipindah. Ke Kalimantan. Tepatnya dimana, masih dalam kajian. Begitu kata narsum yang saya terima. Kenapa

Read More...

Perhatikan Bola Bergulir!

Kasus video Somad yang belakangan ramai bergulir merupakan hal yang luar biasa. Kental sekali aroma provokasinya. Coba perhatikan akan 1

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo