Menggoyang Kuba

In Politik

Menggoyang Kuba

Oleh: Ndaru Anugerah

Di Kuba, jarang ada demonstrasi. Tapi pada November 2020 silam, 300 seniman dan aktivis lainnya berdemonstrasi guna menuntut penyensoran yang diterapkan pemerintah Kuba. (https://www.reuters.com/article/cuba-politics-opposition/cuban-artists-end-rare-protest-say-authorities-agree-to-talks-idUSKBN2880QL)

Namun demonstrasi nggak sampai menggoyang pemerintahan yang sah, karena ujung-ujungnya para pejabat Kuba membuka pintu dialog dengan para demonstran, guna menyelesaikan kebuntuan yang ada.

Menariknya, pada pertengahan Juli 2021 ini, ada lagi demonstrasi yang oleh media mainstream Barat dibesar-besarkan. Dikatakan bahwa itu adalah demonstrasi terbesar yang ada di Kuba sejak 60 tahun terakhir. (https://www.reuters.com/world/americas/street-protests-break-out-cuba-2021-07-11/)

Bahkan timbul spekulasi bahwa pemerintahan sosialis Kuba, nggak lama akan ambruk seiring demonstrasi besar tersebut, karena kondisi ekonomi yang kian memburuk dan juga lonjakan kasus Kopit yang tidak terkendali.

Kenapa saya bilang dilebih-lebihkan?

New York Times mengklaim bahwa aksi massa itu dihadiri oleh ratusan orang. (https://twitter.com/BenjaminNorton/status/1414366636187033602)

Sementara, Reuters mengklaim bahwa aksi tersebut diikuti oleh setidaknya ribuan orang. (https://www.reuters.com/world/americas/street-protests-break-out-cuba-2021-07-11/)

Yang benar: ratusan atau ribuan orang? Kok nggak kompak.

Lantas, apakah media mainstream Barat pernah melaporkan unjuk rasa tandingan yang justru mendukung kepemimpinan Miguel Diaz-Canel, dan dihadiri oleh pendukungnya yang memenuhi jalan-jalan di Kuba? Nggak ada, bukan? (https://www.plenglish.com/index.php?o=rn&id=69438&SEO=action-in-the-streets-of-cuba-against-interventionist-agenda)

Lantas, apa agenda demonstrasi yang belakangan makin intens menerpa Kuba?

Nggak lain untuk melengserkan rezim sosialis disana.

Perlu anda tahu, bahwa sejak 1960an, Kuba diembargo oleh AS, utamanya dalam bidang ekonomi. Harapannya, pemerintah Castro bakal kolaps karena tekanan ekonomi tersebut. (https://history.state.gov/historicaldocuments/frus1958-60v06/d499)

Nyatanya, hingga saat ini, rezim sosialis Kuba masih tegar berdiri. Sehingga rencana AS menemukan kegagalan.

Bukannya mengendorkan tekanan pada Kuba, Trump malah menerapkan ‘tekanan maksimum’ pada negara tetangganya tersebut. (https://www.tampabay.com/florida-politics/buzz/2019/12/31/cuba-under-maximum-pressure-by-trump-in-2020/)

Sanksi ini menyasar sektor pariwisata, energi dan juga sektor ekonomi lainnya. Bahkan cabang-cabang Western Union yang ada di Kuba juga ditutup, agar nggak ada lagi uang mengalir ke Kuba. (https://www.reuters.com/article/us-cuba-remittances/in-blow-to-struggling-cubans-western-union-offices-close-as-sanctions-bite-idUSKBN2840CI)

Dampak tekanan tersebut sungguh parah. Kuba saat ini kekurangan stok obat-obatan, makanan dan kebutuhan dasar lainnya. Bahkan pemadaman listrik kerap terjadi akibat sanksi AS tersebut.

Di tengah tekanan tersebut, apakah Kuba merengek maratapi nasib? Kan nggak. Mereka masih bisa tegar dan nggak tunduk terhadap tekanan yang diberikan AS. Bahkan nggak ada wabah kelaparan di Kuba sana.

Kok bisa? Karena: “Mereka bangsa pejuang bukan bangsa pecundang. Itu kata kuncinya.”

Melihat kondisi ini, AS mulai mengarang narasi bahwa pemerintahan Kuba mulai semena-mena terhadap rakyatnya.

Bahkan Gedung Putih dengan keras menyatakan agar pejabat berwenang di Kuba mau mendengar dan melayani rakyatnya, bukan malah memperkaya diri. (https://www.whitehouse.gov/briefing-room/statements-releases/2021/07/12/statement-by-president-joseph-r-biden-jr-on-protests-in-cuba/)

Entah siapa pihak yang dimaksud pemerintahan Biden.

Apakah hanya sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS pada Kuba?

Nggak juga. Sanksi ekonomi pasti diiringi oleh rencana untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Misalnya mendukung aksi ‘terorisme’ yang kemudian meledakkan pesawat Kuba di tahun 1976. (https://en.wikipedia.org/wiki/Luis_Posada_Carriles)

Itu cara yang kasar. Cara yang ‘halus’ adalah dengan mendanai kelompok pembangkang di Kuba. Dan ini pakai tangan USAID dengan dana operasional mencapai puluhan juta dollar pertahunnya. (http://cubamoneyproject.com/2021/05/29/biden/)

Jadi ada upaya sistematis dalam menggoyang pemerintahan Kuba.

Jangan heran, sebelum demonstrasi di Kuba terjadi pada medio Juli 2021 silam, tagar #SOSCuba langsung trending di Florida, seakan memberikan amunisi pada aksi massa tersebut. Apakah ini hanya kebetulan? (https://twitter.com/GuilleCubano/status/1413614484913020931?s=20)

Setelah perang propaganda lewat media sosial, langsung deh Walikota Miami, Francis Suarez menyerukan agar AS mengintervensi krisis di Kuba sebelum hal yang lebih buruk terjadi. (https://www.nbcmiami.com/news/local/south-florida-leaders-call-on-federal-government-to-support-cuban-protesters/2493048/)

Basi banget sih cara mainnya, Bray.

Apakah aksi AS kali ini akan membuahkan hasil?

Ditengah dukungan internasional pada Kuba, agaknya sangat sulit bagi AS untuk memuluskan rencananya. (https://www.thehindu.com/news/international/us-votes-against-un-resolution-condemning-us-embargo-on-cuba/article34942249.ece)

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu