Membebaskan Baasyir

In Politik

Abu Bakar Baasyir dibebaskan (20/1). Mantan pemimpin organisasi MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang menjadi terpidana 15 tahun penjara atas kasus terorisme tersebut, awalnya sempat ragu perihal pembebasan tanpa syarat dari pemerintah yang diberikan kepada dirinya, dengan alasan kemanusiaan.

Banyak yang mempertanyakan, apa motif dibalik aktivitas pembebasan tersebut. Tak terkecuali ABB sendiri. “Ngapain kok pemerintah jadi tiba-tiba berbaik hati?” demikian gunamnya. Maklum, ini tahun politik. Jadi sangat masuk akal kalo semua mempunyai implikasi politis.

Banyak spekulasi bertebaran. Ada yang bilang bahwa ini adalah langkah yang diambil Jokowi guna menarik suara kaum radikalis kepada dirinya. Ada juga yang bilang bahwa Jokowi mulai galau kalo dirinya mulai meragukan akan bisa melaju untuk kedua kalinya. Makanya dia butuh banyak suara untuk mendukungnya, tak terkecuali kaum radikalis.

Apakah semua hal itu benar, adanya?

Saya coba bahas, ditengah kegiatan saya yang sangat banyak menyita waktu belakangan ini.

ABB adalah pentolan MMI yang punya akar kuat di Solo. Ponpesnya (Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo) ditenggarai merupakan simpul jaringan terorisme di Indonesia. Jadi kalo bicara Solo, mereka punya koneksi yang sangat kuat disana.

Inilah juga yang jadi pertimbangan TKN BOSAN untuk memindahkan posko pemenangan mereka ke Solo, belakangan hari. “Agar memudahkan mobilitas,” ungkap ketua TKN BOSAN Djoko Santoso yang juga orang yang berasal dari Solo. Dan anehnya lagi, posko pemenangan mereka hanya sepelemparan lembing dari rumah Jokowi di Solo.

Mengenai ini, saya perah ulas pada tulisan saya yang terdahulu.

Lantas apa implikasi selanjutnya?

Dengan adanya jaringan ABB di Solo, akan sangat menguntungkan kubu BOSAN untuk memprovokasi suasana. Tujuannya apa? Sederhana, suasana kacau dan disertai ancaman teror, maka wong Solo yang natur dasarnya adalah orang yang njeh-njeh saja, akan cenderung menghindari konflik.

“Daripada suasana tambah kusut dan tidak kondusif, mending pilih Om Wowo sebagai capres-nya.” Begitu kira-kira skenarionya. Padahal situasi chaos itu nggak akan pernah ada. Itu hanya isu yang dihembuskan oleh kubu BOSAN untuk menebar teror agar orang kemudian ramai-ramai mendukung paslon mereka.

Apa nggak mungkin rusuh akan tercipta? Bisa-bisa saja. Dengan satu syarat, kubu militer terbelah. Apa iya kubu angkatan bersenjata ada benih perpecahan? Ini juga saya bolak-balik sudah membahasnya.

Pembebasan ABB ada unsur politisnya, itu benar adanya. Pertama untuk meredam aksi provokasi yang kian intens dilakukan oleh para kampret di lapangan. Gak percaya? Lihat aksi PA 212 di Solo pada Minggu (13/1) pada acara Car Free Day. Acara tak berijin itu-pun dipaksa bubar oleh keparat keamanan.

Namun apa yang kemudian terjadi? Para kampret memprovokasi aparat untuk ‘memukul’ gelaran Tablig Akbar yang mereka gelar. Dengan adanya tindakan represif aparat, diharapkan ekskalasi akan meningkat. Akan ada isu: “Aparat anti terhadap Islam.” Isu akan diikuti aksi dan seterusnya.

Dengan posisi ABB yang masih ditahan, maka diharapkan sayap militer dari kombatan sel teroris, akan lebih mudah diajak untuk turun gunung membantu para kampret untuk menambah kacaunya suasana. Ini bisa dijadikan opsi untuk sebagai senjata teror untuk mengarahkan suara buat paslon BOSAN.

Dan bila paslon BOSAN kalah pada pilpres mendatang, maka skenario rusuh pasca pemilu akan menemukan pembenarannya karena didukung oleh sayap bersenjata sel-sel terorisme.

Ini bukan isapan jempol belaka. Ingat kasus rusuh mako Brimob tempo hari? Skenario itu sudah dimainkan di Rutan Solo pada Kamis (10/1) lalu, Dengan alasan sepele, ada napi yang bermain kartu kemudian diteriaki ‘haram’ oleh napi terorisme, suasana rusuh rutan-pun langsung tercipta. Untung upaya ini bisa diredam oleh aparat keamanan.

Kalkulasi politik kemudian dilakukan, dan keluarlah putusan untuk membebaskan ABB tanpa syarat, meskipun ABB menolak untuk menerima Pancasila sebagai dasar negara. Tujuannya jelas, meredam ketegangan yang bisa saja meningkat jelang hari pencoblosan.

Dan para cebong yang baperan, langsung buru-buru keluar statement: “Jokowi butuh suara kaum radikal, makanya ABB dibebaskan. Mendingan golput dah kita.” Cendol dehh…

“Itukan baru satu alasan, bang. Alasan keduanya, apa?”

Dengan dibebaskan tanpa syarat ABB, maka ramai-ramai suara media mainstream mem-blow up masalah ini sebagai headline beritanya. Sehingga publik ramai-ramai membicarakan kasus ABB day by day, tanpa sadar bahwa akan ada yang bebas pada 24 Januari nanti.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Upaya Pecah Kongsi

“Pada akhir ulasan abang yang lalu, kesuksesan aksi 28 Juni nanti bergantung pada soliditas TNI-POLRI. Apa maksudnya, bang?” tanya

Read More...

Utak Atik Gatuk

Gerakan percobaan penggulingan kekuasaan Jokowi berakhir dengan anti klimaks seperti yang sudah saya prediksi sebelumnya. Penyebabnya karena kurangnya perencanaan

Read More...

Aksi Anti Klimaks

Aksi Anti Klimaks Sejatinya, aksi 225 diprediksi akan menuai sukses besar saat digelar. Sekilas tampak rapih, tapi sebenarnya yang paham

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu