Mati Kelaparan atau Mati Karena Corona?

In Sosial Budaya

Mati Kelaparan atau Mati Karena Corona?

Oleh: Ndaru Anugerah

Pada malam perayaan Mayday 2020, Organisasi Buruh Internasional (ILO) merilis data, bahwa akan ada 1,6 milyar pekerja sektor informal berada dalam kesulitan selama lockdown. Dan parahnya, 60% bekerja tanpa kontrak, hidup pas-pasan sehingga nggak punya tabungan untuk hidup. (https://www.grain.org/en/article/6465-millions-forced-to-choose-between-hunger-or-covid-19)

Karena status karantina, maka diberlakukan penghentian pekerjaan sehingga mendongkrak angka pengangguran. Otomatis mereka nggak punya lagi pekerjaan. Sehingga mereka nggak punya lagi penghasilan, dan tanpa uang mereka nggak bisa makan. Bahaya kelaparan sudah menghantui.

ILO memperingatkan bahwa “para pekerja tersebut berikut keluarganya termasuk kelompok rentan (terhadap kematian) karena tidak memiliki sarana untuk bertahan hidup, yaitu makanan.” (https://www.ilo.org/global/about-the-ilo/newsroom/news/WCMS_743036/lang–en/index.htm&usg=ALkJrhg7evDxJnGMyksGpB60vpVqt6YXZg)

Seperti yang kita tahu, penutupan sebagian besar aktivitas ekonomi dunia sejak Maret 2020, mengakibatkan pabrik-pabrik terhenti, proyek-proyek juga sama, transportasi nggak beroperasi dan kantor-kantor plus restoran juga dipaksa tutup.

Akibat penutupan aktivitas tersebut, maka muncul banyak pengangguran.

Nah, kelompok rentan yang diungkapkan ILO tadi, nasibnya ibarat jatuh tertimpa tangga. Sudah nggak ada kerjaan, eh mau pulang kampung juga nggak bisa karena tiap daerah memberlakukan status karantina. Selain itu transportasi umum juga nggak diperbolehkan untuk beroperasi.

Langkah karantina yang dilakukan tanpa pikir panjang tersebut jelas berimplikasi parah. Misalnya, sekolah, kantor dan restoran yang ditutup, ini memicu pemborosan besar-besaran. Mau tanya, apa gedung fasilitas publik nggak butuh biaya perawatan sementara pemasukan nggak ada?

Belum lagi tingkah laku aparat keamanan yang sangat kaku dalam menerapkan aturan karantina. Di Uganda misalnya, gegara melaut di malam hari, para nelayan mendapatkan hukuman karena dianggap melanggar jam malam. (http://www.ipes-food.org/pages/covid19)

Diperkotaan, nasibnya gak jauh berbeda. Di Afrika Timur, pedagang kaki lima yang tertangkap dijalanan telah mendapatkan hukuman cambuk dan juga terjangan peluru karet untuk membubarkannya. (https://www.iol.co.za/the-star/sport/food-parcel-protest-turns-ugly-as-cops-fire-rubber-bullets-at-hungry-residents-47325962&usg=ALkJrhgzs12SUprPiiqrHK9YlOXRSkI8VA)

Sekalinya ada bantuan pangan, eh teknis pelaksanaannya justru ngasal. Di Lebanon, satu orang terpaksa meregang nyawa saat berdesakan untuk mendapatkan bantuan pangan yang diberikan oleh pemerintah. (https://www.wsws.org/en/articles/2020/04/29/leba-a29.html&usg=ALkJrhgd-E-qu-bb4qFtkBo3WJowS4n89A)

Padahal mereka melakukan itu semua didorong oleh keadaan perut yang lapar. Adakah pemerintah yang melakukan tindakan lockdown memikirkan dampak dari tindakannya?

Sekalipun ada perusahaan yang tetap diperbolehkan beroperasi penuh selama masa karantina adalah perusahaan makanan. Namun ironisnya, pihak perusahaan justru mengabaikan kondisi keselamatan kerja para karyawannya ditengah pandemi.

Di AS saja, pada 6 Mei yang lalu, 12 ribu pekerja pabrik daging jatuh sakit dan 48 orang akhirnya meninggal. (https://thefern.org/2020/04/mapping-covid-19-in-meat-and-food-processing-plants/&usg=ALkJrhge3q6qTMi9OrPXuyg_zODDOrDJug)

Pabrik pengolahan makanan laut yang dimiliki Thai Union yang beroperasi di Ghana, telah bertanggungjawab atas setidaknya 11% dari kasus positif C19 di negara tersebut. (https://www.intrafish.com/processing/thai-union-plant-is-source-of-coronavirus-outbreak-that-sickened-over-500-officials-say/2-1-807547)

Perkebunan Kelapa Sawit yang tetap diberikan ijin operasi karena dibutuhkan sebagai bahan baku pembuatan sabun anti septik, juga nggak kalah set. Perlindungan kerja yang harusnya dimiliki para buruh, justru diabaikan oleh pemiliknya. Akibatnya mereka terpaksa menempuh jalur hukum. (https://www.farmlandgrab.org/29602)

Ini juga bukan tanpa risiko, mengingat ancaman ‘pemberhentian’ akan dijatuhkan kepada mereka yang menolak ataupun melawan aturan yang telah diterapkan perusahaan.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa selama penerapan status karantina, makin banyak orang tidak memiliki akses ke makanan, karena mereka tidak memiliki uang untuk membelinya. Dan konyolnya, pemerintah yang reaksioner justru nggak kasih solusi terhadap kondisi tersebut.

“Pokoknya lockdown. Titik!”

Dan resesi global dan kelaparan sebagai dampak dihasilkan oleh karantina tersebut, sudah terbayang di depan mata. Khususnya pada negara-negara yang ‘membeo’ pada arahan WHO untuk memberlakukan lockdown tanpa pikir panjang.

Gak percaya? Saya kasih datanya.

Tentang ancaman resesi global, saya pernah membahasnya. (baca disini)

Saya coba bahas dari sisi kelaparan saja.

Di India saja, 50% penduduk desa terpaksa makan lebih sedikit dari biasanya, karena status lockdown. Ironis. Bukankah desa sebenarnya adalah lumbung pangan? (https://www.moneycontrol.com/news/india/covid-19-impact-half-of-rural-population-eating-less-amid-coronavirus-crisis-5259491.html&usg=ALkJrhhQ1xTmjemQR1CtRo_-C-lV_B1HaQ)

Dan menurut proyeksi Program Pangan Dunia (WFP), di seluruh dunia, jumlah orang yang menderita kelaparan akut akan berlipat ganda dari 135 juta menjadi 265 juta pada akhir tahun ini. (https://insight.wfp.org/covid-19-will-almost-double-people-in-acute-hunger-by-end-of-2020-59df0c4a8072&usg=ALkJrhikWh4LYOSr3KHStJFcSvvFMQBUpw)

Ajigile.

Ini sama saja dengan ungkapan: obatnya beresiko lebih buruk daripada penyakitnya. Ditengah ancaman pandemi, bahaya kelaparan yang berujung pada kematian tengah membayangi.

Pilihannya ada dua: mati karena C19 atau mati karena kelaparan.

Banyak orang yang akhirnya pasrah dengan pilihan pragmatis, mati karena virus Corona daripada mati karena kelaparan. Ini terjadi pada mayoritas negara di Amerika Latin. (https://www.economist.com/the-americas/2020/05/02/choosing-between-livelihoods-and-lives-in-latin-america&usg=ALkJrhh4FtSnfsvSuceTBm9waSA3-Zx9Iw)

Di Belgia juga ada seruan serupa: “Kita harus memilih, mati karena Corona atau mati (karena) kelaparan?” (https://www.lalibre.be/belgique/societe/nous-on-doit-choisir-mourir-de-faim-ou-crever-du-coronavirus-5e6f91fc9978e201d8bcf20c&usg=ALkJrhjTRqdTkxWKMr8LSoo6lsEhIW8Gvw)

Mungkin ungkapan yang lebih pas dalam menggambarkan krisis ini ini, datang dari Afrika Barat.

“Kelaparan akan membunuh kita sebelum Corona melakukannya.” (https://www.socialscienceinaction.org/resources/hunger-will-kill-us-coronavirus/)

Lantas, kita pilih yang mana?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 2)

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 2) Oleh: Ndaru Anugerah Pada bagian pertama saya sudah jelaskan fakta tentang si Kopit. Bahwa

Read More...

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1)

Ketika Kita Buta Akan Fakta (*Bagian 1) Oleh: Ndaru Anugerah Bagaimana cara membuat orang takut? Pakai propaganda jawabannya. Kalo anda pernah

Read More...

Belajarlah Dari Sejarah

Belajarlah dari Sejarah Oleh: Ndaru Anugerah “Apakah abang setuju bila Papua Barat memisahkan diri dari Indonesia?” tanya seorang melalui kanal whatsapp.

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo