Menyoal Normal Baru


512

Menyoal Normal Baru

Oleh: Ndaru Anugerah

“Bang, apa yang sebenarnya dimaksud dengan normal baru?” tanya seorang diujung sana.

Dalam menjawabnya, saya enggan memakai istilah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Bukan anti lokal, tapi Indonesia nggak cukup kreatif dan juga bukan rujukan dalam hal medis. Bisanya hanya membeo, alias hanya ikut-ikutan trend yang ada di luar negeri. Jadi, saya pilih ambil dari narsumnya langsung.

Menarik apa yang dikatakan Henry Kissinger melalui Wall Street Journal (3/4), bahwa pandemi virus Corona akan selamanya mengubah tatanan dunia. (https://www.wsj.com/articles/the-coronavirus-pandemic-will-forever-alter-the-world-order-11585953005%3Fmod%3Dopinion_lead_pos5&usg=ALkJrhhQduqJROYEvvUODsgCYFrXrKJ49w)

Secara mendasar, Kissinger berbicara 3 hal penting: pertama meningkatkan ketahanan global terhadap penyakit menular, kedua berupaya untuk memulihkan ekonomi dunia, dan ketiga membentuk dunia baru dengan menjaga prinsip tatanan dunia yang liberal.

Dengan kata lain, Kissinger berbicara tentang teknik dan teknologi baru untuk mengendalikan infeksi dan penciptaan vaksin yang sesuai untuk populasi besar, recovery ekonomi lewat badan dunia (IMF dan Bank Dunia) serta penciptaan tatanan dunia baru tapi masih menganut pola lama, liberalisme.

Itulah yang disebut normal baru, sesuai dengan pandangan sang arsitek-nya – Kissinger.

Sekarang mari kita ulas lebih mendalam, akan seperti apa normal baru kelak?

Kalo soal vaksin dan vaksinasi global, saya kira nggak perlu diulas lagi lah ya. Mengingat saya sudah sangat banyak mengulas hal tersebut. Point-nya, dunia nggak akan pulih seperti sediakala, tanpa adanya vaksin yang cukup efektif dalam menanggulangi pandemi C19, sesuai arahan BG.

Dan begitu anda sudah divaksinasi plus (karena diberi identitas digital), maka hidup anda nggak lagi sama. Akan ada pengendalian manusia secara global, dengan program vaksinasi Corona sebagai pintu masuknya. (baca disini) (baca disini)

Yang saya mau ulas adalah recovery ekonomi sampai terbentuknya tatanan dunia baru.

IMF dan Bank Dunia telah menawarkan bantuan pemulihan berbunga rendah kepada negara-negara berkembang dan misqueen, sebagai dampak dari pandemi C19. Awalnya IMF mengalokasikan USD 50 milyar dan Bank Dunia mengalokasikan USD 12 milyar.

Namun pada konpers bersama pada awal Maret lalu, Direktur Pelaksana IMF (Kristalina Georgieva) menaikkan kapasitas pinjaman total menjadi USD 1 trilyun. (https://www.imf.org/en/News/Articles/2020/03/05/tr030420-imf-wb-joint-press-conference-on-corvid-19)

“WHO akan ada untuk melindungi kesehatan rakyat, sementara IMF ada untuk melindungi kesehatan ekonomi dunia,” demikian ungkap Georgieva.

Percaya apa yang dikatakan mpok Georgieva?

Yang namanya utang, udah pasti nggak gratis. Dan ada bunganya sekecil apapun. Kebayang dong, gimana nasib negara-negara berkembang atau misqueen ke depannya? Bakalan huta-barat alias hutang tambah berat, sehingga mereka sendiri nggak akan mampu membayarnya.

Apa yang terjadi kemudian? Kontrol sang debitur lewat tangan IMF dan Bank Dunia pada negara-negara tersebut akan lebih masif lagi. Dan mungkin-mungkin saja, negara akan terancam bangkrut karena utangnya sangat besar.

Di saat seperti itu, bukan saja SDA yang ada dinegara bersangkutan yang akan disasar, tapi juga skenario bangsa tersebut untuk dijadikan ‘budak’ secara ekonomis. Pada kemungkinan terburuk, negara bisa-bisa saja dilelang untuk dibeli oleh pihak swasta yang menjadi pemberi utangan.

Kalo soal itu saya ceritain, bisa berdiri bulu kuduk ente…

Kenal SAP alias Structural Adjustment Program yang dimiliki IMF?

Sebagai buah konsensus Washington, tujuan SAP adalah menuntut negara pengutang untuk mau mengurangi pengeluaran di sektor publik, seperti: kesehatan, pendidikan dan pembangunan. “Kalo nggak, utangan nggak bakalan cair.”

Yang terjadi kemudian, alih-alih dapat utangan, negara-negara tersebut dipaksa menurunkan standar hidup rakyat mereka. Tadinya sekolah gratis sampai SMA, eh sekarang hanya sampai SD saja. Akibatnya berlaku diktum, yang misquuen makin misqueen, karena kualitas SDM-nya makin parah. (https://www.globalissues.org/article/3/structural-adjustment-a-major-cause-of-poverty)

Dengan kata lain, normal baru berarti cengkraman ‘elite global’ melalui lembaga keuangan internasional yang semakin kuat kepada negara-negara yang mengharapkan pinjaman untuk pemulihan ekonomi.

Lalu, bagaimana dengan terbentuknya tatanan dunia baru?

Coba sesekali melihat tayangan konser virtual “Together at Home” yang disponsori oleh WHO di televisi maupun media online. Disana sangat kental sekali pesan yang hendak disampaikan selama pandemi C19. Apa saja?

Ada yang namanya budaya Corona, dimana kurungan, isolasi dan video conference adalah normal baru yang hendak diperkenalkan disana. Jadi, kalopun situasi stay at home diperpanjang, orang nggak akan canggung lagi terhadap budaya Corona yang telah diperkenalkan secara masif tersebut.

Jadi dalam ‘dunia baru’ yang coba diperkenalkan, hubungan antar manusia sangat bergantung pada koneksi internet, sekaligus memungkinkan mereka direkam ataupun dipantau secara virtual. (baca disini)

Ada juga saat Abby Cadabby menunjukkan kepada anak-anak tentang cara berpelukan dengan orang lain, dengan cara memeluk diri mereka sendiri. Ada pesan yang mau disampaikan, bahwa kontak fisik sesama manusia menjadi tidak penting lagi pada dunia baru kelak.

Menariknya, tidak pernah ada kata-kata lockdown atau kurungan justru nggak pernah muncul selama tayangan online tersebut. Diksi yang dipakai justru ‘sheltered at home’. Kenapa? Karena istilah terkurung jelas tidak nyaman selain bersifat memaksa, ketimbang ‘perlindungan’ yang memberi kesan kehangatan.

Berikutnya, muncullah sang nabi yang mengatakan: “Akhirnya akan tiba saat kita memiliki vaksin yang akan melindungi kita semua, tidak saja di AS tapi di seluruh dunia.” Dengan kata lain, pandemi yang ‘mencekam’ akan berakhir saat vaksin ditemukan dan dimplementasikan ke seluruh warga dunia.

Jadi kalo disimpulkan, apa itu normal baru?

Rancangan dunia, dimana kontrol elite global atas umat manusia menjadi lebih kuat lagi. Yang coba berani melawan keinginan elite global, siap-siap saja di ctrl+alt+del dan anda langsung hilang dari peredaran.

Satu pesan saya, jangan pesimis. Yang namanya rancangan, bisa berhasil banyak juga yang gagal.

Bukankah dunia yang kita huni saat ini adalah hasil perjuangan?

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!