Kudeta Kopit


505

Kudeta Kopit

Oleh: Ndaru Anugerah

Siapa orang paling punya nyali di Afrika saat ini?

 Jawabannya Presiden Tanzania, John Magufuli.

Setelah memenangkan pemilihan pertamanya di tahun 2015, Magufuli langsung potong gaji aparatus negara termasuk miliknya untuk meningkatkan fasilitas kesehatan di negaranya.

Dan puncaknya saat dia membatalkan perayaan Hari Kemerdekaan di negara tersebut dengan alasan boros biaya, dan menggunakan budget perayaan untuk memerangi Kolera di Tanzania. (https://www.lusakatimes.com/2015/11/26/new-tanzanian-president-john-magufuli-makes-radical-changes/)

Singkatnya, sektor kesehatan menjadi primadona utama dalam pemerintahannya.

Inilah yang menyebabkab angka harapan hidup di Tanzania meningkat setiap tahunnya sejak Magufuli menjabat. (https://data.worldbank.org/indicator/SP.DYN.LE00.IN?locations=TZ)

Karena langkah reformasi yang dibuatnya, sekelas think-tank yang didukung Soros memuji upaya yang dilakukan Magufuli, dan menyebutnya sebagai contoh bagi negara-negara Afrika lainnya. (https://africanarguments.org/2017/11/2-years-on-tanzanias-magufuli-isnt-a-bulldozer-hes-a-magician/)

Tapi semua itu berubah 180 derajat saat Kopit menerjang.

Alih-alih manut, Magufuli malah mempertanyakan pandemi yang dibuat sang Ndoro besar tersebut. Tak pelak media mainsteam mulai memberi julukan Covid-denier dari Afrika kepada dirinya. (baca disini)

Gimana mau percaya Kopit? Alat uji Kopit yang katanya valid, nyatanya bereaksi positif pada pepaya dan kambing. Nggak heran kalo dirinya menyatakan bahwa Kopit adalah tipuan semata. (https://www.africanews.com/2020/05/06/tanzania-how-can-goat-papaya-pawpaw-test-positive-to-corona-morning-call/)

Berbekal informasi yang didapat, Magufuli mempertanyakan keamanan dan kemanjuran vaksin Kopit, sehingga nggak diijinkan untuk digunakan di Tanzania. “Alat ukurnya aja ngawur, apalagi vaksinnya?” demikian kurleb-nya. (https://www.aljazeera.com/news/2021/1/27/tanzania-president-denounces-covid-vaccines)

Karena sikap frontal yang diambilnya, Magufuli jadi target utama yang wajib ‘dilenyapkan’ oleh sang Ndoro besar. Kemungkinan ini sudah saya bahas pada tahun lalu. (baca disini)

Saat dirinya terpilih kembali pada pilpres yang digelar 2020 silam secara absolut, media mainstream Barat langsung tuding bahwa Magufuli melakukan kecurangan pemilu. (https://apnews.com/article/john-magufuli-tanzania-elections-voting-fraud-and-irregularities-dodoma-810444be87c0713e953cbc00524255f5)

Nggak cukup sampai disini, AS lewat Mike Pompeo bahkan menjatuhkan sanksi kepada Tanzania karena dugaan kecurangan pemilu yang dilakukannya. Padahal itu cuma akal-akalan saja. Alasan utamanya ya karena Magufuli nggak mau tunduk sama skenario yang dibuat Ndoro besar. (https://www.cfr.org/blog/parting-ways-secretary-pompeo-announces-sanctions-tanzania)

Dan puncaknya sebulan yang lalu, saat The Guardian kasih kode keras bagi ‘penggulingan’ Magufuli lewat headline yang diturunkannya. “Sudah saatnya Afrika mengendalikan presiden anti-vaxxer dari Tanzania.” (https://www.theguardian.com/global-development/2021/feb/08/its-time-for-africa-to-rein-in-tanzanias-anti-vaxxer-president)

Dan kalo ngomong soal The Guardian, siapa yang menjadi pendonor utamanya selain Bill & Melinda Gates Foundation. (https://www.theguardian.com/global-development/2010/sep/14/about-this-site)

Ajaibnya, 2 minggu setelah laporan yang dibuat The Guardian tersebut, sang Bulldozer raib dari peredaran. Nggak jelas keberadaannya dimana.

Spekulasi berkembang bahwa dirinya kena Kopit dan dirawat di Kenya atau India. Tapi itu semua tanpa data yang memadai alias tebak-tebak buah manggis. (https://www.dumptheguardian.com/world/2021/mar/10/tanzania-missing-president-kenya-covid-says-opposition-leader)

Bahkan sebuah think-tank AS langsung klaim bahwa Magufuli telah kehilangan semua otoritasnya saat ini. “Inilah waktunya bagi kaum oposisi untuk ambil tindakan guna membalikkan keadaan,” demikian himbauannya. Sungguh provokatif sekali. (https://www.cfr.org/blog/tanzanian-president-magufulis-veneer-omniscience-critical-condition)

Apakah hilangnya Magufuli dari publik hanya kebetulan?

Saya jadi ingat nasib mantan presiden Burgundi Pierre Nkurunziza. Pada musim panas 2020 lalu, Nkurunziza juga menolak skenario Kopit sang Ndoro besar dan mengatakan, “Nonsense.” (https://www.monitor.co.ug/News/World/Burundi-changes-tack-president-%20declares-COVID-19–biggest-enemy-/688340-5585992-13veo1d/index.html)

Bukan itu saja, Nkurunziza juga mengusir delegasi WHO dari Burgundi karena hanya dianggap sebagai kaki tangan sang Ndoro besar.

Akhirnya, Nkurunziza dipaksa menghembuskan napas terakhirnya secara mendadak karena terkena serangan jantung atau diduga terkena Kopit. (https://www.theguardian.com/world/2020/jun/09/burundi-president-dies-illness-suspected-coronavirus-pierre-nkurunziz)

Dan selepas Nkurunziza, penggantinya segera membatalkan setiap kebijakan Kopit yang pernah dibuat Nkurunziza, termasuk mengundang kembali WHO ke negara tersebut.

Sejarah mencatat kejadian di Burgundi sebagai kudeta Kopit pertama di benua Hitam. (https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-burundi/burundi-expels-%20who-team-as-it-prepares-for-presidential-election-idUSKBN22Q0XS)

Akankah Magufuli menjadi target kudeta Kopit selanjutnya? Entahlah.

Satu yang perlu dicatat, bahwa sejarah akan merekam keberanian seorang Magufuli dalam menolak status dirinya untuk menjadi jongos sang Ndoro besar, meskipun negaranya misqueen.

Angkat topi untuk keberanian seorang Magufuli.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)


2 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Sejak maret 2020 sy selalu jd pembaca setia setiap tulisan abang, dan Presiden Magufuli merupakan idola saya lewat tulisan abang juga, lewat tulisan abang hari ini saya baru tau kalo Presiden Magufuli telah ‘hilang’….
    Doa saya untuk Sang Buldozer

error: Content is protected !!