Kopit dan Nasib Jalur Sutra (*Bagian 1)

In Ekonomi

Kopit dan Nasib Jalur Sutra (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

Belt and Road Initiative (BRI) telah diluncurkan pada 2013 silam. Beberapa kalangan menilai langkah yang dibuat China tersebut akan mampu mengangkat kehidupan negara-negara misqueen untuk bangkit, lewat proyek infrastruktur yang ditawarkannya.

Namun negara-negara Barat malah menuding bahwa mega proyek tersebut hanya akal-akalan China untuk menjerat negara-negara misqueen dalam ‘perangkap utang’. (https://www.livemint.com/Opinion/21P46wlPXj00K8VUKMu9oN/Chinas-debttrap-diplomacy.html)

Ini saja sudah buat beberapa negara mulai berpikir ulang tentang skema utangan yang bakal diberikan China tersebut. Alih-alih dapat utangan, mereka bakal terperangkap dalam jurang utang yang nggak bisa mereka bayar. (https://www.reuters.com/article/us-pakistan-silkroad-railway-insight-idUSKCN1MA028)

Belum selesai masalah tersebut, kini China kembali dirundung masalah dengan proyek besarnya tersebut karena hadirnya si Kopit. Dan ini sangat merepotkan China untuk bisa mewujudkan rencana besarnya.

Pertanyaannya: bagaimana nasib proyek BRI ke depannya?

Perlu anda ketahui, bahwa mega proyek BRI membutuhkan dana yang sangat besar. Bahkan angkanya menurut estimasi World Bank mencapai USD 575 milyar di tahun 2018. Dana sebesar itu digelontorkan oleh bank-bank milik pemerintah China. (https://www.iiss.org/blogs/research-paper/2020/03/beyond-the-myths-of-the-bri)

Bahkan pihak Tiongkok menyatakan akan ada dana investasi tambahan hingga USD 1 trilyun selama beberapa dekade, selain penyandang dana lain yang diharapkan akan berkontribusi pada mega proyek tersebut.

Dana sebesar itu digunakan untuk apa?

Tentu saja infrastruktur, seperti pembiayaan jalan, jalur kereta api dan juga pelabuhan. Dan itu memang koneksi yang dibutuhkan dalam memperlancar jalur ekonomi. Diharapkan, negara yang dibantu akan membayar cicilan utang dari proyek tersebut, saat proyek berjalan sesuai rencana.

Nyatanya, impian dan seindah kenyataan. Ambil contoh Sri Lanka yang sudah empot-empotan membayar cicilan utang China, bahkan jauh sebelum pandemi melanda. (https://thediplomat.com/2019/05/is-sri-lanka-really-a-victim-of-chinas-debt-trap/)

Ini yang kemudian diamplifikasi oleh negara-negara Barat sebagai jebakan utang ala China pada negara-negara misqueen. “Tuh liat aja Sri Lanka, terjerat utang China, kan?” demikian kurleb-nya.

Itu jelas lebay. Mengingat jebakan utang lembaga Bretton Woods, jauh lebih parah ketimbang utangan yang diberikan China. (baca disini)

Kembali ke laptop.

China menggelontorkan dana besarnya tersebut ke sejumlah negara yang dalam kacamata lembaga finansial Ndoro besar ‘nggak layak diberikan utangan. “Wong negara misqueen kok diberikan utangan, gimana bayarnya?” (https://www.straitstimes.com/opinion/china-lent-billions-to-poor-countries-they-cant-pay-it-back)

Itu situasi sebelum pandemi. Gimana saat ini?

Dan sesuai prediksi, beberapa negara seperti Malaysia dan Pakistan minta negosiasi ulang untuk mengubah skema bayar utangan dari China. (https://www.business-standard.com/article/international/belt-and-road-initiative-pakistan-to-seek-debt-relief-from-china-121021000054_1.html)

Kalo boleh jujur, negara-negara yang telah diberikan pinjaman oleh China, saat ini bukan meminta keringanan utang, tapi mereka minta penghapusan utang.

Awalnya China bisa memberikan opsi penghapusan utang kepada negara-negara misqueen tersebut. (https://www.reuters.com/article/us-china-debt-g20-idUSKBN28009A)

Namun lama kelamaan ini cukup sulit untuk dilakukan, mengingat bank-bank China yang kasih utangan tersebut, saat ini menghadapi masalah finansial sangat serius dipicu oleh kebijakan lockdown yang diterapkan oleh banyak negara. (baca disini dan disini)

Ini sangat parah dampaknya.

Kenapa?

Karena hampir semua negara yang menjadi rekan BRI bergantung pada pendapatan ekspor industri untuk dapat membayar utang China tersebut. Dan kebijakan lockdown, jelas menghambat kelancaran jalur distribusi tersebut.

Ambil contoh Nigeria atau Angola yang mengandalkan ekspor minyak mereka dalam meraih devisa. Dengan adanya kebijakan lockdown, jalur transportasi jadi lumpuh dan angka ekspor mereka jadi melorot secara drastis. (https://www.bloomberg.com/news/articles/2021-02-01/west-africa-s-oil-exports-slump-as-nigeria-angola-flows-falter)

Selain itu, karena Uni Eropa dan Amerika Utara melakukan kebijakan serupa, akibatnya mereka juga nggak mengimpor bahan mentah untuk industri mereka dari negara-negara yang jadi mitra BRI. (https://iap.unido.org/articles/how-pandemic-disrupts-global-value-chains)

Bahkan perusahaan pertambangan di Afrika yang memproduksi lithium, kobalt, tembaga dan bijih besi, mengalami penurunan permintaan dari China selama pandemi berlangsung. (https://www.bakermckenzie.com/en/insight/publications/2020/03/the-impact-of-covid19-on-key-african-sectors)

Apakah cukup?

Belum, tentunya.

Anda tahu siapa negara paling strategis yang dijadikan rekanan dalam proyek BRI? Jawabannya: Pakistan. Proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) saja menelan dana sekitar USD 61 milyar. (https://www.researchgate.net/publication/333223398_The_China-Pakistan_Avoidance_of_Double_Taxation_Agreement_and_the_China-_Pakistan_Economic_Corridor)

Angka yang fantastik.

Namun itu nggak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi yang ada di Pakistan. Pada April 2020 saja, nilai ekspor negara tersebut anjlok sebesar 54%. (https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2590051X20300071)

Lebih jauh lagi, laporan UNCTAD menyatakan bahwa Pakistan menjadi salah satu negara yang paling terpukul ekonominya akibat pandemi si Kopit, bersama dengan negara-negara Afrika lainnya. (https://www.dawn.com/news/1539450)

Gimana mau bayar utang?

Nggak mengejutkan jika pemerintahan Khan siap-siap kibarin bendera putih atas statusnya pada utang yang diberikan China. (https://www.msn.com/en-sg/news/other/as-coronavirus-bites-pakistan-looks-to-china-for-belt-and-road-economic-boost/ar-BB14w3D4)

Masih ada beberapa indikator lainnya yang saya akan ungkap pada bagian kedua tulisan nanti, agar anda punya gambaran utuh tentang nasib mega proyek BRI tersebut ke depannya.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu