Kode Perang

In Politik

Pada Perang Dunia II, pihak Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler, menggunakan sebuah mesin untuk mengirim kode perang. Mesin ENIGMA namanya. Jadi saat mengirim kode rahasia untuk menenggelamkan kapal perang Inggris, misalnya, transmisi yang dikirim bukan pesan sandi yang biasa, tapi di kode dengan mesin Enigma tersebut.

Akibatnya bisa ditebak. Saat Jerman mengirim sandi perang dan prajurit Inggris berhasil menangkapnya, maka giranglah pasukan Nazi tersebut. Karena yang mereka kirim adalah sandi pengecoh, bukan perintah yang sesungguhnya. Perintah yang sesungguhnya adalah yang berasal dari mesin Enigma itu.

Mesin kode perang ini sungguh dahsyat, karena sulit sekali untuk dipecahkan. Sampai akhirnya seorang ilmuwan Inggris (yang bernama Alan Turing) berhasil memecahkan cara kerja mesin Enigma tersebut. Berkat jasanya, sejarah mencatat Perang Dunia II berakhir lebih cepat 2 tahun dari semestinya.

Lain dulu, lain sekarang. Dulu dalam mengirim kode perang, harus sembunyi-sembunyi. Kalo sekarang? To the point jauh lebih cespleng, bray…

Bertempat di SICC Sentul Bogor pada Sabtu lalu (4/8), pada moment temu relawan, kembali Pakde mengungkapkan statement yang langsung viral.

“Jangan bangun permusuhan, jangan membangun ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah. Tidak usah mencela, tidak usah menjelekkan orang. tapi kalo diajak berantem juga berani,” begitu ucap pakde kurang lebihnya.

Ibarat kesambar gledek, para kampret langsung kejang-kejang kena asam urat. Gapake lama, gorengan-pun langsung tersedia. Dibilang lah Jokowi ngajak perang. Pakde nggak pantes jadi presiden yang harusnya membawa damai. Sampai pelaporan ke kepolisian oleh beberapa ormas kubu kampret-pun langsung digelar.

Pertanyaan sederhana, siapa yang memulai “perang” dengan segala macam fitnah dan ujaran kebencian? Nenek-nenek juga tau jawabannya.

Namun, lewat tulisan ini, saya hanya akan ulas ungkapan yang dilontarkan Pakde, pada temu relawan tersebut. Ada 2 hal yang saya tangkap.

Pertama, Pakde mengingatkan relawannya bahwa wilayah “pertempuran” menuju pilpres 2019 ada 2, yaitu udara (media sosial) dan darat (door to door). Selama ini relawan hanya asyik berkutit pada wilayah udara, dan itupun banyak kedodoran lewat hadirnya Saracen dan pasukan Siber Kremian.

Pertempuran yang paling penting justru ada di darat. Door to door. Dimana dinamik duo, HTI dan PKS bebas bergerilya dari mesjid-mesjid, majlis taklim, arisan hingga reuni sekolah yang masif digelar saat pilpres mendekati last minute.

Disini aja sudah ada masalah. Kendalanya teknis. Masih banyak kaum idealis di kubu pakde. Buka kartu dikit, pada gelaran pilkada DKI, kaum idealis-lah yang menjegal langkah relawan dengan tidak maunya menggelontorkan amunisi bagi mereka.

“Lha kan relawan, nggak perlu dikasih duit-lah?” begitu teriak mereka.

Gini yah.. Relawan itu ada 2 jenis. Relawan berduit dan relawan modal nekat tapi tongpes. Tapi, mereka lah yang justru militan bergerak di garis massa, tapi bokek. Mau ngapa-ngapain susah. Relawan model gini yang harusnya dicukupkan amunisinya, bukan hanya sekedar nasi bungkus.

Lha kalo dipihak lawan, pendanaan digelontorkan dalam jumlah lebih dari cukup, kenapa nggak tiru? Toh dana kampanye ada, kok? Militansi tanpa amunisi ibarat pengen kentut tapi takut bau…

Hal kedua yang saya tangkap, pernyataan tersebut adalah kode perang yang dilontarkan pakde.

Selama ini, pakde di framing kubu kampret sebagai presiden yang nggak boleh bersuara, hanya boleh kerja saja. Padahal, khususnya saat pilkada DKI, boleh dikatakan pakde praktis hanya bisa diam membisu. “Masa jadi presiden kagak netral,” demikian teriak para kampret secara masif.

Pakde konsisten untuk menahan diri dan bersikap netral. Akibatnya, serangan-demi-serangan dilancarkan, berujung pada keok-nya Ahok digelaran tersebut. Para kampret-pun bersorak gembira dan berdansa cha-cha-cha.

Kondisi ini nggak boleh dilanjutkan. Bisa babak belur kalo jadi bulan-bulanan terus. Harus ada perlawanan. Para relawan sepertinya menangkap kode keras ini. Kalo selama ini cebongers masih kalem, sekarang nggak boleh diam lagi. Lu jual, gue beli!! Dan melawan adalah keharusan.

Bisa ditebak, para kampret kini meradang, karena strategi bully yang selama ini mereka terapkan ke pakde, sekarang sudah nggak kepake.

Seperti analisa saya terdahulu, bahwa 2019 akan menjadi pilpres terpanas sepanjang masa. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu