Ketika Bola Panas Mulai Dimainkan

In Politik

Sebenarnya bagaimana kronologis kejadian di Limbangan, Garut pada peringatan Hari Santri Nasional ke-3? Ini perlu diperjelas, karena dengan mengurut kejadian, kita akan tahu ada apa yang tengah terjadi disana.

Sebelum menggelar perayaan HSN, seluruh santri dari semua ormas Islam yang ada di wilayah Kecamatan Limbangan, Garut meneken tanda tangan perjanjian di atas materai Rp. 6000,- yang isinya bersedia untuk tidak mengibarkan bendera selain Merah Putih. Ini perlu dilakukan untuk menjaga acara tetap kondusif.

Mulanya acara berjalan aman, sampai menyanyikan lagu Hubul Wathon, tiba-tiba ada peserta yang menaikkan bendera Arroyah yang kerap digunakan HTI. “Bendera itu sempat naik di tiang bendera sampai beberapa meter, sebelum akhirnya diturunkan oleh anggota ormas. Ada pak Camat kok yang tahu,” demikian ujar sebuah sumber.

Singkatnya, bendera akhirnya dirampas dan pembakaran-pun terjadi.

“Nah kan bendera itu sengaja dibawa mereka, padahal kami semua ormas sudah sepakat untuk tidak mengibarkan bendera selain Merah Putih. Jadi kami tidak membakar lafaz tauhid, tapi membakar bendera-nya,” ujar sumber tadi.

Dapat disimpulkan, telah terjadi provokasi disana, dimana hal yang seharusnya tidak terjadi, dipaksa harus terjadi. Hal ini diperjelas dengan pernyataan pihak kepolisian bahwa bendera yang dibakar adala bendera HTI. Jadi jelas sudah jalan ceritanya.

Tapi, apakah kasus ini berhenti? Bagi kampret slogannya adalah: pantang pulang sebelum kenyang. Kasus ini digoreng begitu rupa hingga memainkan opini publik bahwa sedang terjadi penzaliman terhadap kaum muslim di Indonesia, dimana bendera tauhid dibakar oleh ormas Banser.

Ibarat cerita sinetron, ujung ceritanyanya bisa ditebak, Banser harus dibubarkan. #bubarkanBanser, setidaknya begitu tagar yang sempat trending di Twitter menyusul merebaknya kasus ini.

Sebenarnya, kenapa sampai pada tuntutan Banser harus dibubarkan?

Coba kita lihat, apa peran Banser bagi negara ini. Seridaknya ada dua peran besarnya.

Pertama sebagai pelindung NKRI dari ancaman kaum konservatif pengusung khilafah. “Nenek moyang kita, para ulama dan semua komponen bangsa, baik yang beragama Kristen dan lainnya, telah mendirikan republik ini bersama-sama. Kita semua harus mempertahankan warisan ini,” demikian ujar Alfa Isnaeni selaku komandan nasional Banser.

Kedua sebagi pelindung ‘kaum minoritas’ dari ancaman golongan yang kerap merasa sebagai ‘golongan mayoritas yang dizolimi.’

Dengan kedua peran itu, tak pelak Banser selalu menindak kelompok intoleran yang kerap berlindung dibalik stigma mayoritas. Pengajian Wahabi dibubarkan, kelompok yang dipersekusi dilindungi, dan yang paling keras adalah saat Banser bersuara “Bubarkan HTI.”

Tentu saja semua kelakuan yang diambil Banser, membuat gerah kelompok intoleran. Terlebih HTI dan PKS yang kerap acaranya diacak-acak oleh ormas tersebut.

Apa lacur. Mau melawan, tapi kekuatan bani kampret, masih jauh banyaknya dibawah Banser. Mau ambil head-to-head, sama aja cari mati…

Padahal, untuk melakukan gerilya di lapangan, utamanya di masjid-masjid, sasus yang beredar, orderan yang mereka terima cukup banyak di tahun politik ini.

Tapi itu semua akan sia-sia selama Banser masih ada. Banser harus dilenyapkan. Dan yang paling gampang, ciptakan isu, tercipta aksi dan ujung-ujungnya lewat tekanan massa, kalo perlu lewat demo berjilid-jilid, pokoknya Banser dapat dibubarkan. Begitulah kurang lebih skenarionya.

Dan demo-demo di beberapa daerah telah digelar merespon kasus ini, dengan tuntutan yang sama, “Bubarkan Banser!” Seiring dengan demo yang mereka gelar, bendera HTI akhirnya kembali bisa dikibarkan. Padahal mereka telah dibubarkan dan dicap sebagai ormas terlarang oleh negara.

Akankah aparat keamanan tunduk pada tekanan massa, seperti kasus yang sudah-sudah? Kita lihat kedepannya. Saran saya, siapkan cemilan yang banyak, karena akan banyak atraksi yang dipertontonkan oleh eks HTI sebagai salah satu motor gerakan Oke-Oce di pilkada Jekardah tempo hari…

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

AADH (*bagian 2)

Setelah rejim sosialis mengambil alih China di tahun 1949, negara tirai bambu ini makin melaju pesat dalam hal ekonomi

Read More...

AADH (*bagian 1)

“Bang, kenapa nggak sekali-kali ulas kondisi luar negeri, jangan ulas masalah politik di dalam negeri mlulu?” begitu protes seorang

Read More...

Rekonsilinasi

Seharusnya, kubu 01 menang mutlak pada gelaran pilpres 2019 yang lalu. Angkanya bisa mencapai 65%an. Itu info yang saya

Read More...

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu

This Site is Hosted By iJoo