Kala Bendera Hitam Menyasar Kaum Muda

In Politik

KSaat masa kampanye yang mulai memanas ini, perhatian saya tertuju kepada mesin pemenangan paslon BOSAN di lapangan. Ingat Oke-Oce? Disanalah terdapat simbol gerakan gerilya yang menjadi ujung tombak 02, yaitu PKS dan HTI. Inilah yang dijadikan senjata pamungkas bani kampret dalam menggulung Ahok sebagai petahana di pilkada DKI tempo hari.

Antara PKS dan HTI sebenarnya sami-mawon, 11-12. Cuma bedanya, satu masih percaya jalur parlementer dengan membentuk parpol, satunya lagi justru percaya gerakan ekstra-parlemen alias gerakan angkat senjata. Namun keduanya, sama-sama makelar Khilafah di Indonesia.

Menariknya, selepas HTI dibubarkan, kemana gerakan mereka mengalir? Apakah gerakan klandestin model mereka, langsung keok tak kala pemerintah ‘memukul’ mereka? Selaku mantan aktivis gerakan, menurut saya pukulan yang ditujukan kepada mereka, justru akan membuat mereka menjadi lebih radikal.

Nah terus kemana mereka mengadakan gerakannya, selain gerakan door to door di lapangan guna memenangkan paslon 02 yang mereka usung?

Menurut analisa saya, ada 2 yang masif mereka lakukan kini, dan keduanya menyasar kaum muda. Kaum yang labil dan sangat mudah dicekoki dalil-dalil khilafah ala mereka. Yang pertama gerakan KARIM, dan kedua gerakan ITP alias Indonesia Tanpa Pacaran.

KARIM alias Komunitas Royatul Islam adalah gerakan yang menyasar kaum muda, khususnya yang ada di sekolah menengah umum. Karena kaum muda yang dijadikan target, maka jangan heran kalo gerakan mereka bukan hanya sekedar liqo dan kajian lagi, tapi apapun yang menjadi kesukaan anak muda, semisal tadabbur alam, aksi sosial, hingga kongkow-kongkow.

Target gerakan ini apa? Pertama ‘tanam saham’ pada generasi muda. Nah harapannya, begitu mereka kuliah, maka mereka akan otomatis bergabung pada Gema Pembebasan yang ada di kampus-kampus yang menjadi underbouw HTI. Kedua, agar kaum muda tidak alergi pada istilah khilafah Islamiyah yang jadi barang dagangan mereka.

“Masak mau menjadi Islam yang kaffah dengan menegakkan khilafah, kok pake dilarang segala,” begitu kira-kira narasinya.

Jadi jangan heran bila dalam setiap aktivitas KARIM, selalu mengibarkan panji hitam yang mereka klaim sebagai bendera tauhid. Lha, memang mereka kepanjangan tangan HTI.

Yang kedua, tak kalah dahsyatnya adalah ITP alias Indonesia Tanpa Pacaran yang digagas oleh La Ode Munafar, seorang aktivis BKLDK (Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus) Jogya, yang merupakan sayap HTI di kampus-kampus.

Dengan jumlah follower IG mencapai angka 930K, belum lagi di Facebook ada sekitar 400K, gerakan ini sangat masif dibangun, sejak didirikan pada 7 September 2015 lalu. Menurut sasus, gerakan ini mudah sekali booming karena melibatkan HTI-connection didalamnya. Dalam sekejap langsung viral, ibarat ustadz-ustadz dadakan yang dilambungkan oleh HTI dalam waktu relatif singkat.

Apa yang jadi sasarannya? Anak-anak muda, tentunya. Dengan dalih bahwa pacaran sebagai aktivitas yang banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat selain tidak Islami, ujug-ujug mereka mengkampanyekan ‘Stop Pacaran’.

Lha terus, apa solusinya? Mending langsung nikah, dengan pake istilah pernikahan taaruf. Cukup 2-3 bulan ketemu calon pengantin, gak pake lama langsung sah dimuka penghulu. Diharapkan pernikahan bakal langgeng, karena sudah memenuhi akidah agama.

Apakah demikian adanya? Coba dipikir, anak muda yang sedang puber, konsep yang digagas ITP malah bukan ditanggapi dari sisi positifnya saja. Kenyataan, anak muda malah mendapatkan ‘jalan’ untuk nikah mudah melalui gerakan ini. “Daripada birahi nggak ada penyalurannya, mending nikah aja,” demikian yang ada dibenak mereka.

Yang terjadi kemudian, seperti yang dikemukakan mbak Pawestri selaku aktivis perempuan, “Enggak pacaran, langsung kawin aja. Nanti habis kawin, cerai, terus nikah lagi, cerai lagi.” Wajar, karena remaja yang puber, harusnya dikasih pemahaman yang benar tentang cara bergaul dengan lawan jenis, bukan malah melarangnya apalagi kasih legitimasi nikah dini.

Inilah yang kemudian bisa menjelaskan, bahwa pernikahan dini yang sangat dielu-elukan oleh gerakan ini lewat sosmed, semisal pernikahan pasangan Taqy Malik dan Salmafina Khairunnisa, akhirnya kandas juga dengan perceraian yang terjadi dalam waktu yang sesingkat-singkatnya?

Penyebabnya bukan sulap bukan sihir, melainkan mental anak muda yang nggak siap nikah muda. Anak-anak muda ditawarin menikah dini, yang kemudian terbayang dipikirannya adalah indahnya bulan madu dan hubungan intim ‘suami istri’ yang bisa mereka temukan di sosial media.

Padahal pernikahan itu bukan melulu seputar seks dan umbar syahwat semata. Ada kompleksitas hubungan disana. Gimana memperlakukan pasangan setelah nikah, bagaimana cara menafkahi keluarga, apa yang dilakukan dalam membesarkan anak, dan masih banyak lagi.

Kalo nikah urusannya cuma syahwat semata, terus apa bedanya kita sama doggy yang hobinya kawin?

Itu baru dari segi sosial gerakan ITP. Dari segi ekonominya juga nggak kalah set.

Gerakan yang mengklaim telah memiliki anggota lebih dari 20 ribu orang ini, dari sisi bisnis saja sudah sangat menggiurkan. Bayangkan jika setiap anggota diberikan kewajiban membayar keanggotaan atau membership 100ribu saja, maka uang 2 milyar sudah berhasil terkumpul. “Biaya pendaftaran 180ribu, bang,” demikian ungkap sebuah sumber. Wah, menang banyak, brayy…

Dengan menjalankan kedua agenda tersebut kepada anak-anak muda, bisa dipastikan mereka akan memanen hasilnya dalam waktu singkat. Inilah yang layak dijadikan modal sebagai bargaining position HTI pada gelaran pilpres 2024 nanti.

Dan dalam waktu dekat, yaitu pilpres 2019, suara kaum muda yang sudah mabuk kepayang dengan gerakan mereka, diharapkan akan mampu menambal suara paslon 02 yang saat ini berada diujung tanduk. Akankah berhasil? Yang jelas, hasrat ngaceng memang menarik untuk diikuti..

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

You may also read!

Kabut Hitam di Sri Lanka

Hari Minggu itu (21/4) suasana hiruk pikuk sangat terasa di Kolombo, Batticoloa dan terutama di Negombo yang terkenal sebagai

Read More...

Selanjutnya Apa?

“Bang, selamat ya,” begitu pujian yang kudapat karena dianggap telah berhasil menganalisis, setidaknya siapa pemenang kontestasi pilpres 2019 berikut

Read More...

Perang Senyap Pasukan 81 (*Bagian 2)

Bagaimana Jokowi bisa bertemu dengan Luhut? Saat Jokowi masih menjabat walikota Solo. Saat itu keduanya sepakat untuk membuat perusahaan

Read More...

2 commentsOn Kala Bendera Hitam Menyasar Kaum Muda

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu