Jokowi dan Kebuntuan Trump


519

Jokowi dan Kebuntuan Trump

Oleh: Ndaru Anugerah

Presiden Joko Widodo melakukan kontak melalui sambungan telepon dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (24/4) pukul 20.00 WIB dari Istana Kepresidenan Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, kedua kepala negara bertukar pikiran mengenai penanganan pandemi C19. Seperti dikutip dari siaran pers resmi Istana, pakde menyampaikan apresiasinya atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah AS dalam upaya penanganan C19.

Di akhir pembicaraan keduanya bersepakat untuk memperkuat kemitraan di bidang perdagangan dan ekonomi setelah masa pandemi C19 berlalu.

Apakah ini bisa diartikan bahwa Indonesia akan meninggalkan China sebagai mitra strategis, untuk kemudian berpaling ke Amrik?

Saya coba bahas ya..

Kemitraan Indonesia dengan China pada proyek Belt and Road Initiative (BRI) bisa dikatakan sudah melangkah terlalu jauh. Kenapa Indonesia mau mencemplongkan diri ke proyek jalur sutra baru tersebut?

Bagi Jokowi yang punya cita-cita untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim, tawaran China pantang ditolak. Indonesia butuh dana segar dari China untuk mewujudkan mimpinya tersebut, di sisi yang lain China butuh rute Indonesia sebagai jalur lautnya.  (baca disini)

Nggak aneh kalo keduanya bisa dikatakan sedang menjalankan simbiosis mutualisme. Dua-duanya dapat untung dari proyek BRI tersebut.

Saat C19 melanda, Xi Jinping meyakinkan Jokowi melalui sambungan telpon (11/2), bahwa China akan menang dalam perang melawan epidemi virus Corona.

“Kami memiliki kemampuan dan kepercayaan diri tidak hanya untuk mengalahkan epidemi, tetapi juga akan memenuhi tujuan dan tugas yang direncanakan untuk pembangunan ekonomi dan sosial.”

Xi juga menambahkan, “Saya percaya China akan lebih makmur setelah berhasil mengatasi epidemi ini.” (Xinhua, 12/2)

Kenapa Xi perlu meyakinkan pakde? Nggak lain untuk menjawab gundah gulana yang sedang dialami pakde. Seakan-akan China yang diharapkan mampu menggarap proyek raksasa BRI, kok dibuat tak berdaya terhadap serangan virus Corona.

“Mengatasi Corona untuk negaranya aja udah keteter, gimana mau membantu negara lain apalagi mau menggarap proyek BRI?” begitu kurlebnya.

Tidak berhenti sampai disitu, demi menegaskan keseriusannya pada Indonesia, pemerintah China kembali memberikan bantuan peralatan medis untuk memerangi wabah Corona. Bantuan tersebut tiba di Indonesia pada Sabtu, 28 Maret yang lalu.

“Paket bantuan medis ini diberangkatkan dari Shanghai, berupa alat tes Corona, masker N95, masker bedah, APD, ventilator portabel, dll,” demikian ungkap Kedubes China untuk Indonesia.

“Ini kami lakukan semata-mata sebagai ungkapan balas budi, karena pemerintah dan rakyat Indonesia telah memberikan bantuan dan dukungan kepada China terlebih dahulu saat merebaknya wabah C19 di Wuhan pada awal tahun,” tambahnya.

“Kami selamanya mengingat dan menghargai persahabatan ini,” bunyi pernyataan itu.

Mungkin pernyataan Xi melalui Dubesnya cukup pas untuk dikutip, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. China dan Indonesia adalah tetangga bersahabat senasib sepenanggungan.”

“Kami yakin melalui pengujian wabah ini, persahabatan antara kedua negara akan semakin erat. Rakyat Indonesia pasti dapat mengalahkan wabah ini dibawah kepemimpinan kuat Presiden Joko Widodo.”

Dari pernyataan itu saja, secara implisit dapat ditarik kesimpulan bahwa China nggak mau ditinggal Indonesia sebagai mitra strategis. Coba bayangkan jika seandainya tanpa kehadiran Indonesia di jalur laut proyek BRI, apa jadinya?

Saat Italia tengah dihantam C19, China langsung gercep dengan mengirimkan bantuannya ke negara Pizza tersebut. Karena apa? Jalur laut BRI nggak akan terwujud, tanpa kehadiran Italia pada proyek tersebut. (baca disini)

Kalo Italia yang jauhnya nggak ampun-ampun dari China saja dibantu, masak Indonesia nggak ditolong?

Nggak aneh kalo Xi Jinping mengatakan bahwa ia sangat mementingkan pengembangan hubungan China-Indonesia dan siap bekerjasama dengan Jokowi untuk memperkaya kemitraan strategis antar kedua negara serta menambah dorongan baru untuk pembangunan regional (14/4).

Dengan kata lain, kemitraan kedua negara jadi makin intens justru saat pandemi berlangsung. Dan Jokowi nggak butuh pinter-pinter amat untuk melihat siapa kawan siapa lawan.

Aliasnya, kontak telpon yang dilakukan Jokowi kepada Trump, nggak lain adalah spik-spik doang. Kalo AS mau bantu Indonesia monggo, nggak pun no big deal.

Dan bisa ditebak, siapa pihak yang akan kelimpungan dengan kemesraan yang terjalin ini?

Gak percaya?

Coba lihat, apakah para proxy Mamarika di Indonesia telah menyurut pada hari-hari belakangan ini?

Lha wong istilah mudik sama pulang kampung aja terus digoreng-goreng sampai gosong, Bray…

 

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah mantan Aktivis 98 GEMA IPB)

 

 

 

 

 

 

 

 

 


0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!