Itu Terapi Gen, Dok! (*Bagian 1)

In Sosial Budaya

Itu Terapi Gen, Dok! (*Bagian 1)

Oleh: Ndaru Anugerah

“Mengapa anda sangat menyerang vaksin buatan Big Pharma?” tanya seorang dokter melalui kanal Facebook messenger, beberapa hari yang lalu.

Agak kaget juga dapat pertanyaan dari seorang dokter dan jujur agak malas kasih jawaban. Ntar kesannya ‘menggurui’ dokter.

Namun kalo nggak direspon pertanyaan dokter tersebut, disangkanya saya termasuk orang yang demagog, suka kritisi sesuatu tanpa kasih solusi. Baiknya saya jawab pertanyaan dokter tersebut.

Langsung kita ke TKP ya dok.

Secara definitif, apa itu vaksin?

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS kasih definisi tentang vaksin sebagai produk yang merangsang sistem kekebalan tubuh seseorang untuk dapat menghasilkan kekebalan terhadap penyakit tertentu, sehingga dapat melindungi orang tersebut terhadap penyakit itu. (https://www.cdc.gov/vaccines/vac-gen/imz-basics.htm)

Itu definisi secara medis.

Nah kalo dari segi hukum, vaksin artinya mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan yang bertujuan untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang dari suatu penyakit. (https://www.sos.wa.gov/_assets/elections/initiatives/finaltext_2141.pdf)

Jadi kedua definisi vaksin, kurleb-nya sama yaitu merangsang kekebalan tubuh seseorang.

Sekarang coba kita tilik, apakah vaksin Moderna memenuhi kriteria tersebut?

Tal Zaks MD selaku kepala petugas medis Moderna bilang, “Ketika kamu mulai menyebar vaksin mRNA-1273, kami tidak memiliki data konkret yang cukup untuk membuktikan bahwa vaksin kami dapat mengurangi penularan virus.” (https://nypost.com/2020/11/24/moderna-boss-says-covid-shot-not-proven-to-stop-virus-spread/)

Artinya, kalo seseorang sudah disuntik, nggak ada jaminan kalo orang tersebut tidak tertular virus. Aliasnya vaksinnya nggak bisa memicu kekebalan dalam tubuh seseorang. Itu yang ngomong ‘pejabat’ berwenang di Moderna, bukan saya lho ya.

Pernyataan Chris Beyrer MD selaku pakar penyakit menular dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Bloomberg Universitas John Hopkins menguatkan akan hal tersebut.

“Kami nggak tahu apakah vaksin (berbasis mRNA) dapat mencegah penularan virus Corona apa tidak.” (https://www.wusa9.com/article/news/verify/will-covid-vaccine-stop-people-from-spreading-virus-verify/65-980a9c42-2790-4658-96ff-26d144fc6bb8)

Dengan kata lain, suntikan mRNA nggak bisa memberikan kekebalan pada seseorang dan juga nggak bisa menghambat penularan infeksi virus. Kalo begitu, apakah produk tersebut memenuhi kriteria sebuah vaksin?

Belum lagi kalo kita merujuk pada keuntungan yang didapat dari program vaksinasi.

Menurut putusan Mahkamah Agung AS, sebuah program vaksinasi harus dapat memberi manfaat kolektif ketimbang keuntungan pribadi. (https://supreme.justia.com/cases/federal/us/197/11/)

Karena tahu definisinya cacat, maka media mainstream dikerahkan untuk membentuk opini publik. Salah satu contohnya adalah Merriam-Webster.

Awalnya (Februari 2019) Merriam-Webster mendefinisikan vaksin sebagai persiapan mikroorganisme mati atau yang dilemahkan dan diberikan untuk menghasilkan atau secara artifisial meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. (https://web.archive.org/web/20210226153704/https://www.merriam-webster.com/dictionary/vaccine)

Namun definisi itu belakangan diubah sesuai ‘pesanan’ sang Ndoro.

Sejak 26 Februari 2021, definisi vaksin diubah menjadi: “Persiapan materi genetik (seperti untaian RNA pembawa pesan yang bersifat sintetis, yang digunakan oleh sel-sel tubuh untuk menghasilkan zat antigenic (seperti fragmen protein lonjakan virus). (https://web.archive.org/web/20210226153704/https://www.merriam-webster.com/dictionary/vaccine)

Ini sih sama saja menjustifikasi definisi dari vaksin m-RNA buatan Big Pharma. Segitunya nyari duit sampai merubah definisi segala.

Pertanyaannya: kalo melindungi individu yang sudah divaksin saja sudah nggak bisa, apalagi memberi manfaat secara kolektif?

Lantas kalo mRNA bukan vaksin, terus apa dong?

Anda pasti pernah dengar istilah terapi gen, kan dok?

Secara definitif, terapi gen adalah teknik eksperimental dengan menggunakan gen untuk mengobati atau mencegah penyakit tertentu. Singkatnya, gen yang dimasukkan ke dalam tubuh seseorang diharapkan dapat membantu melawan suatu penyakit. (https://medlineplus.gov/genetics/understanding/therapy/genetherapy/)

Biasanya, terapi gen dipakai untuk mengobati sejumlah penyakit yang nggak ada obatnya, misalnya kelainan bawaan, beberapa jenis kanker dan infeksi virus tertentu. Itupun dengan catatan khusus bahwa terapi gen tersebut relatif aman dan efektif agar nggak membahayakan pasien.

Masalahnya, apakah Kopit nggak ada obatnya?

Kalo nggak ada obatnya, maka orang yang menderita bisa dipastikan akan mati begitu mengidap penyakit tersebut. Nyatanya kan nggak.

Ada banyak perawatan yang terbukti efektif dalam melawan Kopit. Dan banyak orang yang sembuh karena treatment tersebut, bukan?

Masuk akal jika kemudian proses terapi gen dibatasi pada penyakit yang nggak bisa disembuhkan, mengingat ada risiko yang harus ditanggung seseorang dalam menjalani proses terapi tersebut. (https://www.fda.gov/vaccines-blood-biologics/cellular-gene-therapy-products/what-gene-therapy)

Terapi gen sendiri dapat berlangsung dengan 3 cara. Pertama mengganti gen penyebab penyakit dengan salinan gen yang sehat. Kedua menonaktifkan gen penyebab penyakit yang tidak berfungsi dengan baik. Dan ketiga memperkenalkan gen baru yang telah dimodifikasi ke dalam tubuh untuk mengobati suatu penyakit.

Apakah yang diklaim vaksin oleh Moderna dan Pfizer, nggak lain adalah terapi gen?

Saya akan lanjut ke bagian kedua tulisan ya, Dok.

Salam Demokrasi!!

(*Penulis adalah analis Geopolitik dan mantan Aktivis 98)

Join Our Newsletter!

Love Daynight? We love to tell you about our new stuff. Subscribe to newsletter!

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Mobile Sliding Menu